Tak Ingin Dikenali – Dewi Perssik Pakai Cadar saat Kuliah: Biar Lebih Leluasa Belajar

aa031fd6-dc80-47fd-b12b-cecbf2a464ca-0

Tak Ingin Dikenali, Dewi Perssik Pakai Cadar saat Kuliah: Biar Lebih Leluasa Belajar

JAKARTA, Kampus dan Kehidupan Akademik

Tak Ingin Dikenali – Sebagai seorang artis yang telah dikenal luas di Indonesia, Dewi Perssik menunjukkan komitmen untuk terus berkembang melalui pendidikan formal. Saat ini, mantan penyanyi pop ini sedang menempuh studi di bidang psikologi, sebuah jalur yang berbeda dari dunia hiburan yang ia geluti sebelumnya. Meski sibuk menggeluti dunia hiburan, ia tetap antusias melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi. Di tengah rutinitas perkuliahan, ada keputusan khusus yang ia ambil untuk menjaga privasi diri di lingkungan akademik.

Keputusan untuk Tetap Anonim

Tindakan ini bertujuan agar ia tidak terkenal di lingkungan akademiknya. Dengan memakai cadar, Dewi berharap dapat menjalani kehidupan kampus tanpa terbebani oleh status sebagai artis. “Aku memakai jubah ini karena secara kebetulan, saat kuliah aku ingin tetap anonim, sehingga teman-teman kuliah tidak mengetahui identitasku,” jelasnya. Keputusan ini tidak hanya memperkuat semangat belajarnya, tetapi juga memberinya ruang untuk fokus pada materi kuliah tanpa gangguan eksternal.

Mengapa Memilih Cadar?

Dewi menyebutkan bahwa memakai jilbab cadar bukan sekadar kebiasaan, tetapi alat untuk menjaga privasi. “Kenapa aku pakai jilbab (cadar) maksudnya cuma kelihatan mata, maksudnya biar aku tuh lebih leluasa lagi di saat aku bertanya, di saat memang aku nggak paham gitu,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dengan tampilan sederhana ini, ia dapat merasa lebih bebas dalam berinteraksi dengan rekan sejawat. Selain itu, ia merasa tidak ada tekanan tambahan dari harapan masyarakat yang terbiasa melihatnya dalam wajah yang terkenal.

Perbedaan Peran dan Pengalaman Belajar

Kehidupan sebagai mahasiswa psikologi berbeda jauh dari masa jadi seorang penyanyi. Dewi mengungkapkan bahwa ketika ia menghadiri kelas sebagai Dewi Perssik, masih ada rasa canggung dan beban yang menumpuk. Namun, ketika ia menjadi seorang mahasiswa biasa, ia merasa lebih ringan dan mampu belajar secara tulus. “Kan kalau aku kuliah sebagai Dewi Perssik kayaknya masih ada nggak enak gitu, beban. Tapi ketika aku menjadi orang lain, menjadi umum, orang itu tidak tahu aku siapa, aku merasa bahwa aku juga ikut belajar,” ujarnya.

Peran Suara dalam Mengenali Diri

Walaupun ia berusaha tidak terkenal, beberapa teman tetap bisa mengenali dirinya. Hal ini terjadi karena saat melakukan presentasi, suara Dewi masih terdengar familiar. “Ada yang tahu gitu karena kan kalau misalkan presentasi itu mereka suaranya kayak Dewi Perssik gitu. Akhirnya tahu dari suara aku, cuma mereka nggak berani ngomong gitu,” katanya. Meski ada yang mengenali, ia tidak merasa terganggu karena telah mempersiapkan diri untuk situasi ini.

Momen Berharga di Kampus

Kehidupan di kampus menjadi momen berharga bagi Dewi. Ia menganggap bahwa menjalani perkuliahan dengan identitas baru memberinya pelajaran tentang kehidupan yang lebih sederhana. “Saat aku bertanya, atau memerlukan bantuan, aku bisa merasa lebih percaya diri karena tidak ada yang mengetahui siapa aku sebenarnya,” lanjutnya. Hal ini membuatnya lebih mudah berkomunikasi dan berdiskusi tanpa perlu mempertimbangkan reaksi publik.

Pengalaman yang Membentuk Karakter

Dewi berharap bahwa pengalaman ini akan membentuk karakternya secara lebih dalam. Ia menekankan bahwa belajar di lingkungan yang tidak mengenalnya memberinya kesempatan untuk mengembangkan diri tanpa terbatasi oleh reputasi sebelumnya. “Aku merasa lebih bisa mengeksplorasi diri, mencari apa yang sesungguhnya aku inginkan,” tutur Dewi. Ia juga menyebutkan bahwa pendidikan ini membantunya memahami pentingnya fokus dan konsentrasi dalam mengejar tujuan pribadi.

Perubahan yang Disadari

Keputusan untuk menggunakan cadar ternyata juga mengubah cara ia melihat diri sendiri. Dewi mengungkapkan bahwa ia mulai mengenali sisi-sisi baru dari dirinya, terutama dalam menjalani kehidupan akademik. “Dengan tampilan ini, aku bisa merasa lebih tenang dan tidak terbebani oleh harapan orang lain,” katanya. Ia menambahkan bahwa meskipun kehidupan kampus tidak selalu sempurna, ia tetap menikmati setiap proses belajar yang ia lalui.

Perspektif Baru tentang Kehidupan

Kehidupan sebagai seorang mahasiswa mengajarkan Dewi tentang pentingnya disiplin dan kesabaran. Ia menyadari bahwa tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama seperti dirinya. “Aku merasa bahwa di kampus, aku bisa belajar bagaimana mengatur waktu, menghadapi tantangan, dan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda,” ujar Dewi. Perbedaan ini menurutnya menjadi pengalaman yang unik dan berharga, karena memungkinkannya mengenal dunia yang lebih luas.

Penutup: Kesetiaan pada Tujuan

Dewi Perssik berharap bahwa keputusan untuk tetap anonim di kampus akan terus menjadi bagian dari kehidupannya. Ia yakin bahwa kesabaran dan fokus yang ia peroleh selama ini akan menjadi bekal untuk masa depan. “Aku ingin tetap belajar, beradaptasi, dan tumbuh menjadi orang yang lebih baik,” tutupnya. Dengan cara ini, ia menjalani pendidikan sebagai bagian dari perjalanan pribadinya yang terus berkembang.