Desak Made/Kadek Asih pecahkan rekor dunia “speed relay” di China
Desak Made/Kadek Asih Pecahkan Rekor Dunia “Speed Relay” di China
Desak Made Kadek Asih pecahkan rekor – Jakarta, 20 Maret 2026 – Pasangan atlet panjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Kadek Adi Asih, mencuri perhatian dalam Asian Beach Games Sanya 2026 di China. Mereka berhasil memecahkan rekor dunia kategori speed women’s relay dengan catatan waktu 13,174 detik, mengalahkan pasangan Korea Selatan Jimin Jeong/Hanaerum Sung dalam babak final. Namun, pemecahan rekor tersebut tidak terjadi di final, melainkan di semifinal saat menghadapi pasangan tuan rumah, Yafei Zhou/Lijuan Deng.
Kemenangan yang Tidak Terduga
Sebelum mengakhiri kompetisi, Desak/Kadek menorehkan nama Indonesia di sejarah olahraga panjat tebing. Mereka memulai perjuangan di Sanya dengan harapan tampil maksimal, tetapi tidak pernah membayangkan bisa merekam waktu tercepat dalam sejarah. “Mereka tidak memprediksi bisa mencetak rekor baru meski hanya berusaha memberikan performa terbaik,” ungkap Desak Made Rita Kusuma Dewi setelah selesai berlomba.
“Saya persembahkan medali ini untuk Indonesia,” ujar Desak.
Pasangan asal Bali ini mengalahkan Korea Selatan di babak final dengan keunggulan tipis. Meski meraih kemenangan, rekor dunia terpecahkan sebelumnya, di semifinal, saat mereka menghadapi tim tuan rumah China. Awalnya, Yafei Zhou dan Lijuan Deng menorehkan waktu 13,178 detik, tetapi hanya beberapa detik kemudian, Desak/Kadek menunjukkan dominasi dengan catatan 13,174 detik, lebih cepat 0,04 detik. Hasil ini memberi mereka tiket ke babak besar dan akhirnya memastikan keberhasilan dalam lomba utama.
Kadek Adi Asih: Titik Balik Karier
Untuk Kadek Adi Asih, kemenangan ini menjadi momen penting setelah mengalami kegagalan di nomor individu. “Medali emas ini sangat berarti bagi saya. Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan,” tambahnya. Rekor yang dipecahkan bukan hanya prestasi tim, tetapi juga simbol kebangkitan atlet yang sebelumnya mengalami tekanan.
Di sisi lain, pasangan atlet panjat tebing putra Indonesia, Raharjati Nursamsa/Antasyafi Robby Al Hilmi, meraih medali perak dalam kategori speed relay. Mereka kalah dari wakil tuan rumah, Jianguo Long/Yicheng Zhao, dengan selisih 0,05 detik. Tim Merah Putih mencatatkan waktu 9,80 detik, sementara lawan mereka menyelesaikan lomba dalam 9,75 detik. Meski tidak memperoleh medali emas, hasil ini menunjukkan kemampuan kompetitif Indonesia dalam ajang internasional.
Delapan Atlet Representasi Indonesia
Untuk mengikuti Asian Beach Games Sanya 2026, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) mengirimkan delapan atlet disiplin speed, terdiri dari empat putra dan empat putri. Di sektor putra, ada Raharjati Nursamsa, Antasyafi Robby Al Hilmi, Aditya Tri Syahria, dan Ramaski Aswin Kristanto. Sementara sektor putri diperkuat Desak Made Rita Kusuma Dewi, Kadek Adi Asih, Puja Lestari, dan Amanda Narda Mutia.
Kedua tim ini memerlombakan diri dalam dua kategori, yaitu speed individu dan speed relay. Peserta dari berbagai negara, termasuk China, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang, turut ambil bagian. Kehadiran para atlet internasional membuat persaingan semakin ketat, tetapi Indonesia tetap menunjukkan konsistensi dalam menghadapi tantangan.
Sistem Penilaian dalam Speed Relay
Lomba speed relay di Asian Beach Games memiliki aturan unik yang membedakannya dari lomba biasa. Waktu dihitung secara kumulatif, mulai dari atlet pertama menyelesaikan lintasan hingga atlet terakhir mencapai garis finis. Prosesnya melibatkan pemanjat yang bergantian, dimana setiap peserta bergerak satu per satu. Setelah atlet pertama menekan tombol timer di puncak, atlet berikutnya langsung mulai berlari. Sistem ini memastikan tidak ada kesempatan untuk mengulang waktu, sehingga kecepatan keseluruhan tim menjadi penentu kemenangan.
Atlet putri Indonesia, terutama Desak/Kadek, menunjukkan ketelitian dan kerja sama sempurna dalam menjalani kompetisi. Catatan waktu mereka di semifinal dan final tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan performa di bawah tekanan. Keberhasilan ini dianggap sebagai bukti bahwa Indonesia mampu bersaing di level internasional, bahkan dalam olahraga yang dianggap teknis dan membutuhkan koordinasi tinggi.
Hasil dan Impak pada Kompetisi
Pemecahan rekor oleh Desak/Kadek tidak hanya menjadi kemenangan individual, tetapi juga membanggakan bagi bangsa. Mereka membuktikan bahwa keunggulan tim bisa dicapai melalui persiapan matang dan kepercayaan diri. Hasil ini meningkatkan harapan untuk prestasi lebih baik di ajang global lainnya. Sementara itu, keberhasilan Raharjati/Antasyafi menunjukkan bahwa Indonesia memiliki basis atlet yang kuat di disiplin speed putra.
Semangat olahraga panjat tebing Indonesia terus berkembang seiring partisipasi aktif di berbagai turnamen. Penggemar dan pelaku olahraga berharap kemenangan ini menjadi awal dari era baru bagi kebanggaan nasional. Dengan delapan atlet yang terlibat, Indonesia tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga menorehkan jejak yang mungkin menjadi perhatian dunia.
Persiapan dan Prestasi di Sanya
Kehadiran para atlet di Sanya dianggap sebagai bukti komitmen Federasi Panjat Tebing Indonesia dalam mengembangkan olahraga. Setiap atlet telah melalui proses latihan intensif untuk mempersiapkan diri menghadapi lomba yang menuntut kecepatan dan akurasi. Meski beberapa atlet mengalami tekanan, seperti Kadek Adi Asih yang gagal di nomor individu, konsistensi tim di babak relay menunjukkan pengembangan yang signifikan.
Kemenangan Desak/Kadek dalam pemecahan rekor dunia menjadi bukti bahwa Indonesia bisa menjadi pesaing kuat di Asia. Waktu yang dicatatkan sebelumnya, 13,178 detik, ditembus oleh pasangan dari Bali dengan selisih kecil. Penampilan ini memberi semangat untuk atlet lainnya, terutama di kategori putra yang juga menunjukkan kemampuan menjan
