Key Strategy: Menteri Pariwisata puji nilai historis Bukittinggi dan Jam Gadang
Key Strategy: Menteri Pariwisata Apresiasi Sejarah Bukittinggi dan Jam Gadang
Key Strategy – Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan pentingnya kekayaan sejarah dan budaya sebagai basis strategi pengembangan wisata. Dalam kunjungan kerjanya ke Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Rabu lalu, ia memuji nilai-nilai historis kota yang terus menarik perhatian wisatawan nasional dan internasional. “Kota Bukittinggi memiliki warisan sejarah yang luar biasa, terutama melalui monumen Jam Gadang yang merupakan simbol peradaban lama,” ujarnya. Menpar menilai kota yang terletak di dataran tinggi ini tidak hanya berpotensi sebagai destinasi lokal, tetapi juga bisa menjadi kekuatan utama dalam pariwisata nasional dan internasional.
“Secara historis, Bukittinggi sangat penting. Kota ini pernah menjadi ibukota sementara Republik Indonesia pada 1945, dan Jam Gadang menjadi bukti peradaban masa lampau yang tak tergantikan,” tutur Widiyanti Putri Wardhana saat mengunjungi kawasan tersebut.
Pengembangan Destinasi Berbasis Warisan Budaya
Dalam upaya memperkuat destinasi wisata sejarah, Menpar menekankan keharusan menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai historis dan peningkatan fasilitas modern. “Kami ingin membangun travel pattern yang menarik, memadukan keunikan arsitektur kolonial dengan daya tarik budaya Minangkabau,” kata Widiyanti. Ia juga menyebutkan bahwa pihaknya akan mengalokasikan anggaran untuk promosi internasional dan memastikan keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata. “Dengan Key Strategy ini, Bukittinggi bisa menjadi contoh sukses dalam pemanfaatan sumber daya sejarah sebagai daya tarik utama.”
Monumen Jam Gadang, yang dibangun pada 1926 oleh pemerintah Belanda sebagai tanda perayaan 100 tahun kemerdekaan Hindia Belanda, dianggap sebagai salah satu faktor kunci dalam menarik minat wisatawan. Namun, sejarah monumen tersebut juga mencakup era Jepang, di mana bangunan sempat diperbaiki dan digunakan sebagai pusat administrasi. Dengan renovasi setelah kemerdekaan, Jam Gadang kini menampilkan kombinasi arsitektur kolonial dan budaya Minangkabau yang unik. “Kami yakin, Key Strategy ini akan memperkuat daya tarik kota tersebut di tingkat global,” tambah Menpar.
Pemangkasan dan Penguatan Infrastruktur
Kunjungan Menpar ke Bukittinggi dianggap sebagai momentum strategis untuk mendorong penguatan infrastruktur dan fasilitas wisata. Ia menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dalam membangun sistem promosi yang efektif. “Kami ingin menjamin ketersediaan fasilitas modern seperti jalan raya, tempat parkir, dan pusat informasi wisata untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung,” ujarnya. Ramlan Nurmatias, Wali Kota Bukittinggi, menyambut baik kebijakan Key Strategy yang diusung Menpar. “Dengan dukungan ini, kami dapat memperkuat kepariwisataan kota kita, termasuk dalam acara ‘Satu Abad Jam Gadang’ yang akan berlangsung bulan Juni nanti.”
Bukittinggi, yang berada di Kabupaten Agam, memiliki sejarah panjang sebagai pusat administrasi dan budaya. Kota ini pernah menjadi ibukota sementara Republik Indonesia pada 1945, sebelum dipindahkan ke Bandung. Faktor ini, ditambah kekayaan arkeologi dan seni tradisional Minangkabau, menjadikan Bukittinggi sebagai destinasi unik yang bisa dijelajahi secara mendalam. “Kami ingin menciptakan pengalaman wisata yang menyeluruh, mulai dari sejarah hingga keindahan alam,” tambah Widiyanti Putri Wardhana.
Menpar juga menyoroti peran Jam Gadang dalam mewakili budaya lama sekaligus kreativitas modern. “Monumen ini tidak hanya menjadi ikon kota, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah yang bisa dijelaskan kepada pengunjung,” katanya. Ia berharap, dengan Key Strategy yang diterapkan, kota ini dapat menjangkau pasar wisata yang lebih luas. “Kami ingin menjadikan Bukittinggi sebagai kota yang menarik bagi pengunjung dari berbagai latar belakang.”
“Terima kasih kepada Ibu Menpar atas dukungan yang diberikan. Kami telah merancang visi besar untuk memperkenalkan kekayaan sejarah Bukittinggi ke level internasional melalui Key Strategy ini,” kata Ramlan Nurmatias.
Kunjungan Menteri Pariwisata di Bukittinggi menjadi momen penting dalam penguatan strategi promosi dan pengelolaan destinasi. Ia menegaskan bahwa Key Strategy ini akan mencakup peningkatan kualitas fasilitas, pengembangan paket wisata yang menarik, serta kerja sama antar-sektor untuk memastikan keberlanjutan pariwisata kota tersebut. “Kami juga berharap, kota ini bisa menjadi contoh bagi destinasi lain yang ingin mengembangkan nilai historis mereka,” pungkas Menpar. Dengan upaya ini, diharapkan Bukittinggi akan semakin dikenal sebagai kota dengan warisan budaya dan sejarah yang tak tergantikan.
