Facing Challenges: Hasto ajak buruh perkuat persatuan hadapi tantangan ekonomi

Menghadapi Tantangan Ekonomi: Hasto Ajak Buruh Perkuat Persatuan

Facing Challenges – Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto mengajak seluruh elemen buruh untuk memperkuat persatuan dan gotong royong dalam memperjuangkan kesejahteraan. Pada Peringatan Hari Buruh Internasional 2026, tema “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari” menjadi fokus utama dalam pidato Hasto. Ia menekankan bahwa persatuan buruh adalah kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi yang mengancam kehidupan masyarakat, termasuk kenaikan harga kebutuhan pokok, kesenjangan pendapatan, dan perubahan struktur industri.

Gotong Royong sebagai Strategi Perjuangan

“Hari ini kita harus menyingsingkan lengan baju untuk bersatu dan memperjuangkan perlindungan serta peningkatan kesejahteraan buruh,” ujar Hasto dalam acara yang dihadiri sekitar 1.500 peserta di GOR Otista, Jakarta Timur. Menurutnya, kebersamaan dalam ide, pergerakan, dan tindakan adalah kekuatan utama yang bisa mengubah nasib Indonesia Raya. Dengan spirit gotong royong, buruh tidak hanya mempertahankan hak-hak mereka, tetapi juga mendorong perubahan yang berpihak kepada rakyat kecil.

“Gotong royong dalam perjuangan adalah jalan untuk menegaskan posisi buruh dalam perekonomian nasional,” tegas Hasto, yang mengingatkan kembali ajaran Bung Karno tentang keberpihakan Pancasila. Dalam pidato tersebut, ia menyoroti pentingnya membangun solidaritas antar buruh, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat.

Tantangan Ekonomi yang Mengancam Ketenagakerjaan

Hasto menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, seperti inflasi yang membebani daya beli, persaingan global yang mengurangi peluang kerja, dan gejala deindustrialisasi yang memengaruhi sektor riil. “Kita harus waspada terhadap perubahan-perubahan yang bisa mengurangi kesejahteraan buruh,” imbuhnya. Ia mencontohkan situasi Korea Selatan yang meski merdeka seperti Indonesia, kini menghadapi tantangan serupa dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan pekerja.

Dalam konteks ini, Hasto mengajak buruh untuk tetap bersemangat dan konsisten dalam perjuangan. Ia menekankan bahwa tanggung jawab bersama adalah jalan untuk menghadapi tantangan ekonomi yang memaksa masyarakat melakukan adaptasi cepat. “Kita harus menegaskan bahwa perjuangan buruh adalah bagian integral dari peradaban Indonesia,” katanya, mengingatkan bahwa hak-hak pekerja, seperti kebebasan berserikat dan perlindungan kerja, harus dijaga dengan baik.

Komitmen untuk Masa Depan yang Lebih Baik

“Perjuangan menghadapi tantangan ekonomi ini bukan hanya tentang kesejahteraan buruh, tetapi juga tentang keberlanjutan pembangunan bangsa,” lanjut Hasto. Ia menyampaikan bahwa dalam era sekarang, buruh perlu memperkuat persatuan untuk menghadapi tantangan seperti ketidaksetaraan pengupahan, pergeseran teknologi yang mengancam lapangan kerja, serta politik ekonomi yang bisa memperparah kondisi sosial.

Dalam acara tersebut, Hasto juga menekankan pentingnya kolaborasi antar organisasi buruh, pemangku kepentingan, dan pemerintah. “Kita harus menciptakan ekosistem yang mendukung buruh dalam menghadapi tantangan ekonomi,” ujarnya. Ia meminta semua pihak untuk melibatkan buruh dalam kebijakan perekonomian nasional, agar hak-hak mereka tidak hanya diakui secara formal, tetapi juga ditegakkan secara nyata.

Seusai menyampaikan pesan tersebut, Hasto bersama jajaran DPP PDIP seperti Mercy Chriesty Barends, Charles Honoris, Ribka Tjiptaning, dan Rano Karno menyerahkan cenderamata kepada perwakilan buruh. Acara tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan mencapai keadilan sosial. Dengan gotong royong, buruh dinyatakan sebagai garda depan dalam membangun Indonesia yang lebih berdaulat dan berdikari.