Jumlah pengangguran di Jakarta turun jadi 334 ribu orang

Jumlah Pengangguran di Jakarta Turun Jadi 334 Ribu Orang

Jumlah pengangguran di Jakarta turun jadi 334 – Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, angka pengangguran di ibu kota tercatat sebanyak 334 ribu orang pada Februari 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2025, yang mencapai 338 ribu orang. Penurunan tersebut sebesar sekitar 4.54 ribu orang, seperti diungkapkan oleh Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta, dalam wawancara di Jakarta, Selasa.

Perubahan dalam Angkatan Kerja

Dalam periode yang sama, jumlah angkatan kerja di Jakarta meningkat menjadi 5,53 juta orang pada Februari 2026, dibandingkan Februari 2025 yang sebelumnya mencapai 5,47 juta. Perubahan ini mencerminkan adanya penambahan 57.64 ribu orang dalam jumlah peserta usia kerja. Di sisi lain, jumlah warga Jakarta yang bekerja mencapai 5,2 juta orang, naik 62.18 ribu dibandingkan tahun lalu.

“Peningkatan penyerapan tenaga kerja terjadi pada pekerja penuh dan setengah pengangguran, sementara jumlah pekerja paruh waktu mengalami penurunan,” kata Kadarmanto.

Menurut Kadarmanto, penurunan angka pengangguran menggambarkan perbaikan dalam kondisi pasar kerja Jakarta. Ia menambahkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di ibu kota juga menurun sebesar 0,03 persen. Dalam Februari 2025, TPT mencapai 6,18 persen, sementara di Februari 2026, angkanya berada di 6,03 persen.

Dengan kata lain, sekitar enam dari setiap 100 orang yang masuk dalam angkatan kerja di Jakarta masih menganggur. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan, tingkat pengangguran masih tergolong tinggi dibandingkan beberapa wilayah lain di Indonesia. Namun, angka tersebut menunjukkan proses perbaikan yang sedang berlangsung.

Perbedaan Gender dalam Tingkat Pengangguran

Dari segi jenis kelamin, TPT laki-laki pada Februari 2026 tercatat sebesar 6,54 persen, dibandingkan 6,77 persen di Februari 2025. Sementara itu, TPT perempuan menurun dari 5,29 persen menjadi 5,28 persen. Meskipun penurunan ini lebih kecil dibandingkan angka laki-laki, Kadarmanto menegaskan bahwa perempuan tetap menjadi kelompok yang mengalami perbaikan signifikan.

“Meskipun secara level, ini masih lebih rendah dibandingkan TPT laki-laki,” ungkap Kadarmanto.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam dinamika pasar kerja antara laki-laki dan perempuan. Jika dilihat secara keseluruhan, angka TPT laki-laki tetap lebih tinggi daripada TPT perempuan. Namun, tren penurunan yang terjadi pada kedua kelompok membawa harapan bahwa kebijakan pemerintah dan upaya perekrutan tenaga kerja telah memberikan dampak positif.

Analisis Kebutuhan Pekerjaan dan Kontribusi Ekonomi

Selama periode Februari 2025 hingga Februari 2026, jumlah penyerapan tenaga kerja mencapai 62.18 ribu orang. Ini menunjukkan bahwa Jakarta berhasil menyerap tenaga kerja secara signifikan, meskipun di tengah tantangan ekonomi nasional. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh pertumbuhan sektor-sektor strategis seperti perdagangan, jasa, dan manufaktur yang mendorong kebutuhan tenaga kerja tambahan.

Kadarmanto menjelaskan bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan dan peningkatan pelatihan kerja telah berperan dalam memperbaiki kondisi. Selain itu, pemulihan ekonomi pasca-pandemi, peningkatan investasi lokal, dan kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah daerah menjadi faktor pendukung penurunan angka pengangguran.

Stabilitas Pasar Kerja dan Tantangan Mendatang

Menurut data BPS DKI Jakarta, meskipun ada penurunan jumlah pengangguran, sektor-sektor tertentu masih memerlukan perhatian khusus. Misalnya, pekerja paruh waktu mengalami penurunan, yang bisa terkait dengan perubahan pola kerja atau kebijakan pengurangan angkatan kerja paruh waktu. Hal ini mengisyaratkan bahwa ada dinamika baru dalam struktur pekerjaan di Jakarta.

Kadarmanto juga menyebutkan bahwa penurunan TPT di Jakarta merupakan hasil dari upaya-upaya yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Kebijakan pengurangan kemiskinan, program pemberdayaan masyarakat, serta dukungan dari sektor swasta dan institusi pendidikan menjadi faktor utama dalam memperkuat pasar kerja. Namun, ia mengingatkan bahwa penurunan ini tidak sepenuhnya menjamin kestabilan jangka panjang, terutama mengingat keterbatasan infrastruktur dan akses pendidikan tinggi.

Perspektif Masa Depan dan Strategi Pemerintah

Kadarmanto menegaskan bahwa perbaikan tingkat pengangguran di Jakarta perlu dilanjutkan melalui strategi yang lebih komprehensif. Ia menyoroti pentingnya melibatkan sektor swasta dalam menciptakan peluang kerja yang lebih luas. Selain itu, pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program pengentasan kemiskinan dan pelatihan keterampilan terus berjalan efektif.

Dalam wawancara yang sama, Kadarmanto juga menyampaikan bahwa penurunan angka pengangguran di Jakarta bukan hanya hasil dari kebijakan lokal, tetapi juga didorong oleh dampak positif dari kebijakan nasional. Dengan demikian, kinerja pasar kerja ibu kota bisa menjadi cerminan dari upaya pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Potensi Kenaikan dan Kebutuhan Pemantauan

Walaupun angka pengangguran mengalami penurunan, Kadarmanto menyarankan bahwa pihaknya tetap memantau kondisi ini secara berkala. Ia menegaskan bahwa perubahan yang terjadi bisa sangat dinamis, terutama dalam konteks krisis global atau pergeseran pola ekonomi nasional. Untuk itu, BPS DKI Jakarta akan terus melakukan survei dan analisis agar dapat memberikan data yang lebih akurat kepada masyarakat.

Dalam konteks lebih luas, penurunan jumlah pengangguran di Jakarta bisa menjadi indikator positif bagi perkembangan ekonomi wilayah. Namun, untuk memastikan keberlanjutan, perlu ada upaya yang lebih intensif dalam menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan menjadi faktor kunci yang tidak boleh dilewatkan.

Kesimpulan dan Harapan

Pengangguran di Jakarta pada Februari 2026 mencapai 334 ribu orang, menurun dari 338 ribu orang pada Februari 2025. Perubahan ini mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam mengurangi beban pengangguran, meskipun masih ada tant