Lonjakan biaya logistik tekan margin keuntungan peternak sapi kurban
Lonjakan biaya logistik tekan margin keuntungan peternak sapi kurban
Mataram, NTB – Asosiasi Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) mencatat peningkatan signifikan dalam biaya pengangkutan hewan kurban menjelang perayaan Idul Adha. Fenomena ini berdampak langsung pada profit margin peternak sapi yang berasal dari Pulau Sumbawa. Ketua APPSBDI, Furqan Sangiang, menjelaskan bahwa kenaikan tarif sewa kendaraan logistik mencapai tingkat yang tidak biasa, mengurangi pendapatan para peternak. “Harga sewa fuso biasanya sekitar Rp18 juta per unit, tetapi kini mencapai Rp24 juta. Sewa tronton yang sebelumnya Rp25 juta, kini bisa mencapai Rp32 juta,” ujar Furqan dalam pernyataannya di Mataram, Senin.
Permintaan armada logistik meningkat tajam
Peternak di daerah kepulauan seperti Bima, Dompu, dan Sumbawa setiap tahun membutuhkan jumlah kendaraan besar untuk mengirimkan sapi kurban ke wilayah Jabodetabek. Kebutuhan tersebut mencapai rata-rata 20.000 ekor sapi per musim pengiriman, yang memaksa peternak meminta armada dari berbagai daerah. Furqan menjelaskan bahwa pengiriman ini terjadi dalam skala besar, sehingga mendorong persaingan antarpenyedia jasa transportasi. “Jumlah tronton yang dibutuhkan setiap tahun mencapai sekitar 600 unit, dengan masing-masing unit bisa mengangkut 25 hingga 30 ekor sapi,” tambahnya.
Ketika puncak distribusi tiba, sekitar 45 truk bergerak setiap hari dari Pulau Sumbawa menuju Jabodetabek, yang setara dengan lebih dari 1.100 ekor sapi per hari. Pemilik armada, seperti truk dari Jawa Timur, Surabaya, atau Bali, sering kali melakukan perjalanan bolak-balik hingga tiga hingga empat kali dalam sebulan untuk memenuhi permintaan pasar. Fenomena ini menciptakan tekanan ekstra terhadap peternak, karena biaya transportasi yang melonjak membuat keuntungan mereka berkurang secara signifikan,” kata Furqan.
Langkah pemerintah daerah dinilai bisa mengurangi beban logistik
Furqan menyarankan bahwa pemerintah daerah memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah ini dengan memperkuat kerja sama dengan perusahaan transportasi besar. Menurutnya, sistem “satu pintu” dapat menjadi solusi. Sistem tersebut, dijelaskan Furqan, memberikan kepastian harga sewa sekaligus memastikan ketersediaan armada untuk peternak lokal. “Ini penting karena para peternak sering kali harus bersaing dengan penyedia jasa dari luar daerah, yang membuat harga sewa kendaraan semakin tinggi,” tuturnya.
Dalam upaya mengoptimalkan distribusi, APPSBDI mengatakan bahwa tahun 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Antrean untuk pengiriman sapi kurban menjadi lebih ringkas, serta risiko kematian hewan selama perjalanan menurun. Fakta ini diungkapkan berdasarkan data Balai Karantina NTB, yang mencatat bahwa distribusi sapi dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak Januari hingga 27 April 2026 didominasi oleh pengiriman ke Jabodetabek. Total ekor sapi yang dikirim mencapai 25.974 dengan frekuensi sebanyak 1.046 kali. Sementara itu, pengiriman ke luar Jabodetabek hanya sekitar 3.257 ekor, sementara ke Lombok hanya tercatat 3.020 ekor.
Pola distribusi yang berubah menguntungkan NTB
Distribusi sapi asal NTB tahun ini terlihat lebih terarah, dengan kebanyakan hewan ternak dikirim ke Pulau Jawa. Furqan menyebutkan bahwa kecenderungan ini menunjukkan peningkatan konsistensi pasar di daerah besar, seperti Jakarta dan sekitarnya. “Pola distribusi yang lebih fokus ke Jabodetabek menunjukkan bahwa permintaan pasar di sana tetap dominan, meskipun ada sedikit peningkatan ke daerah lain,” ujarnya.
Menurut data Balai Karantina, jumlah sapi yang dipasarkan ke luar Jabodetabek menurun, seiring tumbuhnya kebutuhan di kota-kota besar. Hal ini dianggap sebagai keberhasilan dari upaya yang dilakukan oleh pihak terkait, termasuk lembaga penyedia logistik dan pemerintah daerah. “Koordinasi yang lebih baik antara peternak dan pengusaha transportasi bisa mengurangi biaya operasional secara signifikan, sehingga profit peternak tetap terjaga,” kata Furqan.
Tantangan logistik dan solusi yang mungkin
Peningkatan biaya logistik tidak hanya memengaruhi keuntungan, tetapi juga mengurangi daya saing peternak lokal. Furqan menekankan bahwa kenaikan harga sewa truk dan tronton menimbulkan tekanan ekstra terhadap keuangan peternak, terutama dalam masa musim Idul Adha. “Jika biaya pengangkutan naik 50 persen, profit peternak bisa berkurang hingga 30 persen. Ini membuat mereka harus menyesuaikan harga jual hewan kurban, yang akhirnya berdampak pada konsumen,” jelasnya.
Menyikapi situasi ini, APPSBDI mengusulkan bahwa pemerintah daerah seharusnya lebih aktif dalam mengelola sistem distribusi. Dengan membangun pusat pengumpulan dan distribusi yang terintegrasi, peternak bisa mendapatkan harga sewa yang lebih terjangkau. “Distribusi yang teratur dan terencana juga meminimalkan risiko keterlambatan pengiriman, sehingga memastikan kualitas hewan kurban tetap terjaga,” tambah Furqan.
Terlebih, peningkatan volume pengiriman ke Jabodetabek menunjukkan kebutuhan pasar yang tetap tinggi. Setiap tahun, ribuan sapi harus dikirim dari daerah kepulauan ke kota-kota besar, yang memerlukan armada transportasi berkapasitas besar. Furqan mengatakan bahwa persaingan armada ini membuat para penyedia jasa transportasi bersaing keras, sehingga harga sewa terus mengalami kenaikan. “Sampai saat ini, kita masih mengandalkan armada dari luar daerah, tetapi dengan sistem satu pintu, peternak bisa mengakses armada lokal yang lebih murah,” paparnya.
Secara keseluruhan, Furqan menilai bahwa meskipun biaya logistik mengalami kenaikan, konsistensi distribusi sapi ke Jabodetabek di tahun 2026 menunjukkan peningkatan kepercayaan konsumen. “Ketika jumlah sapi yang dikirim lebih stabil dan risiko kematian hewan berkurang, para peternak bisa lebih fokus pada peningkatan kualitas produk, bukan hanya volume,” katanya. Kebijakan yang tepat dari pemerintah, menurut Furqan, akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga dan meningkatkan daya tahan peternak di tengah tantangan logistik yang semakin berat.
Dalam situasi seperti ini, APPSBDI juga mendorong pengembangan infrastruktur transportasi di daerah kepulauan. Dengan adanya jalan raya yang lebih baik dan akses ke pelabuhan yang efisien, biaya pengiriman bisa dikurangi. “Tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur, yang membuat pengiriman hewan kurban lebih mahal,” ujarnya. Furqan menilai bahwa investasi dalam infrastruktur logistik menjadi penting, terutama untuk mendukung ekspor sapi ke pasar luar daerah.
Kebutuhan peternak di tengah kenaikan biaya
Furqan menyoroti bahwa biaya logistik tidak hanya meningkat karena kenaikan tarif sewa, tetapi juga faktor-faktor lain seperti kenaikan harga bahan bakar dan persaingan antarpenyedia jasa. “Biaya bahan bakar juga turut menggerus profit, terutama saat harga BBM na
