Kulit Gatal dan Muncul Ruam Merah – Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Penyakit Menular Skabies

700faad5-8e93-422f-b5f7-af0972f54ef1-0

Kulit Gatal dan Muncul Ruam Merah, Jangan Anggap Sepele Bisa Jadi Penyakit Menular Skabies

Pengenalan tentang Skabies

Kulit Gatal dan Muncul Ruam Merah – Skabies adalah penyakit kulit menular yang sering kali diabaikan meski gejalanya cukup mengganggu. Terutama ketika seseorang mengalami gatal yang tak kunjung hilang, disertai munculnya bintik-bintik merah atau benjolan kecil di permukaan kulit, kondisi ini bisa jadi tanda keberadaan tungau Sarcoptes scabiei. Tungau ini menginfeksi lapisan terluar kulit, menggergaji terowongan kecil untuk menelurkan telur-telurnya, yang kemudian menyebabkan reaksi alergi dan iritasi pada tubuh inang. Selain itu, skabies termasuk dalam kategori penyakit tropis yang terabaikan, dengan laporan lebih dari 200 juta kasus terjadi setiap tahun di berbagai belahan dunia.

Penyebab dan Cara Penularan

Menurut dr. Aditya Surya Pratama, dokter umum sekaligus influencer kesehatan, skabies menyebar melalui kontak kulit langsung yang terjadi dalam waktu lama. Misalnya, saat berpelukan, berbagi bantal atau selimut, atau tinggal bersama seseorang yang sudah terinfeksi. Tungau ini tidak bisa terbang atau melesat seperti serangga lainnya, melainkan berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain melalui sentuhan. Hal ini berarti penularan bisa terjadi di lingkungan rumah tangga, sekolah, atau tempat kerja yang sering dihuni orang banyak.

“Tungau Sarcoptes scabiei sangat kecil, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang. Mereka masuk ke lapisan epidermis, membuat jalur kecil untuk bertelur, lalu menyebabkan respons imun pada tubuh,” ujar dr. Aditya, dikutip Jumat (29/5/2026).

Penularan juga bisa terjadi melalui barang-barang pribadi yang digunakan bersama, seperti handuk, pakaian dalam, atau alat bantu kebersihan. Karena tungau ini bertahan hidup dalam kondisi dingin dan kering, risiko penyebaran meningkat jika tidak menjaga kebersihan barang-barang tersebut. Selain itu, anak-anak dan orang yang tinggal dalam kondisi padat, seperti penghuni asrama atau pesantren, rentan terinfeksi karena frekuensi kontak antarmanusia lebih tinggi.

Gejala dan Durasi Pengobatan

Gejala utama skabies adalah gatal yang terus-menerus, terutama di area yang mudah terkena tungau, seperti jari tangan, kaki, lipatan lengan, atau kulit yang lembut. Pada tahap awal, gejala mungkin tidak terlihat jelas, tetapi seiring waktu, ruam merah dan bentol-bentol kecil mulai muncul. Tungau ini juga memicu inflamasi, sehingga penderita bisa mengalami rasa sakit atau kemerahan di tempat-tempat tertentu.

“Penyakit ini biasanya diatasi dengan terapi topikal selama tujuh hari, namun dalam kasus tertentu, penggunaan obat minum seperti ivermectin dapat mempercepat proses penyembuhan,” tambah dr. Aditya.

Dokter menegaskan bahwa skabies tidak hanya memengaruhi anak-anak, tetapi juga dewasa. Meski gejalanya bisa hilang dalam beberapa minggu, penyakit ini memerlukan pengobatan yang tepat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Jika tidak diatasi, tungau bisa bertelur terus-menerus, menyebabkan infeksi kronis dan komplikasi seperti infeksi sekunder akibat gigitan atau luka.

Penanganan pada Seluruh Anggota Keluarga

Dokter umumnya menyarankan semua orang yang tinggal di satu rumah untuk menjalani pengobatan meski belum menunjukkan gejala. “Karena penelitian menunjukkan bahwa pengobatan bersama meningkatkan kesembuhan secara signifikan,” jelas dr. Aditya. Langkah ini penting karena tungau bisa bertahan di permukaan benda-benda seperti kasur, bantal, atau kain, yang kemudian menjadi sumber infeksi baru.

Menurutnya, skabies tidak terkait dengan kebersihan seseorang, tetapi lebih pada kontak fisik. “Jadi, tidak perlu meragukan kebersihan pribadi, tetapi jangan mengabaikan tanda-tanda awal seperti gatal yang tidak wajar,” imbuhnya. Banyak orang mengira gejala ini hanya akibat alergi atau cuaca panas, padahal bisa jadi tanda infeksi yang menular.

Langkah Pencegahan yang Efektif

Untuk mencegah skabies, masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini mencakup penggantian bantal dan selimut secara rutin, serta mencuci pakaian dalam dengan air panas. Selain itu, menghindari berbagi barang pribadi, seperti handuk, jas, atau peralatan makan, juga menjadi cara pencegahan yang penting.

dr. Aditya menekankan bahwa skabies bisa terjadi di mana pun, termasuk di lingkungan yang terlihat bersih. “Penyakit ini tidak hanya menyerang orang yang kurang perawatan, tetapi juga bisa menjangkau siapa pun, terutama di tempat-tempat dengan kerumunan manusia,” katanya. Oleh karena itu, jika ada anggota keluarga yang terkena, segera lakukan pemeriksaan untuk semua orang di dalam rumah.

Dokter juga memperingatkan bahwa skabies bisa menyebar secara cepat jika tidak diatasi sejak awal. Meski gejala mungkin tidak terasa berat, penyakit ini menyebar melalui gigitan tungau yang sangat kecil, sehingga mudah terlewatkan. Penting untuk mengenali tanda-tanda awal dan melakukan tindakan segera, karena pengobatan dini bisa mengurangi risiko penyebaran ke orang lain.

Dengan memahami cara penularan dan tanda-tanda skabies, masyarakat bisa mengambil langkah tepat untuk mencegah penyakit ini menyebar. Penggunaan obat topikal dan perawatan khusus pada area yang rentan mengurangi risiko komplikasi, sementara menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi fondasi utama dalam pencegahan. Jangan biarkan gatal yang tak berhenti menjadi penyakit yang diabaikan, karena skabies bisa menimbulkan dampak serius jika tidak diobati secara benar.