Horor! Kerbau Kurban Ngamuk – Seruduk Warga hingga Tewas

41906020-0a77-4f65-9133-aba245ece78e-0

Horor! Kerbau Kurban Ngamuk, Seruduk Warga hingga Tewas

Kasus Kematian di Ulu Tiram, Johor Baru

Horor Kerbau Kurban Ngamuk – KUALA LUMPUR – Seorang pria berusia 45 tahun meninggal dunia setelah diterjang kerbau yang digunakan untuk upacara kurban di kawasan Ulu Tiram, Johor Baru, Malaysia, pada Rabu, 27 Mei 2026. Insiden kedua terjadi di lokasi yang sama, seorang pria lainnya mengalami cedera serius setelah menjadi korban serangan kerbau kurban. Kepala Kepolisian Seri Alam, Mohd Sohaimi Ishak, mengungkapkan bahwa kejadian pertama terjadi menjelang proses penyembelihan hewan kurban sekitar pukul 10.00. Kerbau tiba-tiba mengamuk dan menyerang warga sekitar, menyebabkan satu orang terluka parah.

“Korban ditanduk oleh kerbau yang digunakan untuk kurban dan dilarikan ke Rumah Sakit Sultanah Aminah untuk perawatan. Namun, dia dipastikan meninggal sekitar pukul 23.00 di hari yang sama,” kata Sohaimi, dikutip dari The Star, Jumat (29/5/2026).

Dalam penyelidikan awal, polisi menemukan bahwa korban pertama tewas akibat luka pada pembuluh darah di kaki kiri. Menurut Sohaimi, kasus ini dikategorikan sebagai kematian mendadak, tanpa ditemukan tanda-tanda kejahatan. “Kerbau tersebut tiba-tiba menjadi agresif dan menyerang korban. Dia sedang dirawat di Rumah Sakit Sultan Ismail,” tambahnya.

Peristiwa Serupa dalam Satu Hari

Pada hari yang sama, pukul 14.00, insiden serupa terjadi di lokasi yang sama, menyebabkan seorang pria berusia 45 tahun menderita patah tulang rusuk. Meski keduanya berbeda korban, kedua peristiwa menunjukkan keterlibatan kerbau kurban dalam kejadian mematikan. Polisi belum menerima laporan lebih lanjut mengenai insiden kedua, meski mereka menyarankan masyarakat agar tidak menggambarkan kejadian tersebut secara terburu-buru.

“Kerbau tiba-tiba menjadi agresif dan menyerang korban. Dia sedang dirawat di Rumah Sakit Sultan Ismail,” ujar Sohaimi.

Kepolisian juga mengungkapkan bahwa kerbau yang terlibat dalam dua insiden tersebut telah diidentifikasi sebagai hewan yang digunakan dalam upacara kurban. Meski demikian, faktor-faktor yang memicu keagresifannya belum diketahui secara pasti. Sohaimi menyebutkan bahwa penyelidikan sedang berlangsung untuk memastikan apakah kondisi kesehatan hewan atau lingkungan sekitar memengaruhi perilaku tiba-tiba tersebut.

Penyebab Munculnya Agresi pada Kerbau

Polisi masih menyelidiki penyebab munculnya agresi tiba-tiba pada kerbau yang terlibat dalam insiden tersebut. Menurut Sohaimi, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya niat jahat atau kesalahan dalam proses penyembelihan hewan kurban. Namun, pihaknya mempertimbangkan kemungkinan faktor seperti stres, kelelahan, atau gangguan psikologis hewan sebelum terjadi kejadian.

“Kerbau mungkin mengalami kepanikan atau ketakutan akibat lingkungan sekitar, sehingga menyerang warga tanpa tujuan yang jelas,” tambah Sohaimi dalam wawancara dengan media.

Kebanyakan warga setempat mengatakan bahwa kerbau kurban umumnya dianggap aman dan tidak menyerang manusia. Namun, kejadian ini memicu kekhawatiran akan kecelakaan serupa di masa depan. Sejumlah warga mengusulkan agar proses penyembelihan hewan kurban dilakukan dengan lebih hati-hati, termasuk memastikan kesehatan hewan sebelum diizinkan bergerak bebas di area umum.

Konteks Upacara Kurban di Malaysia

Upacara kurban, atau penyembelihan hewan untuk ibadah, merupakan bagian dari tradisi keagamaan di Malaysia, terutama di kalangan umat Islam. Proses ini sering dilakukan selama bulan Ramadan dan Idul Adha, di mana hewan seperti kambing, domba, atau sapi dipilih untuk disembelih sebagai bentuk pengorbanan. Meski begitu, peristiwa seperti ini menunjukkan bahwa risiko kecelakaan bisa terjadi meski hewan tersebut sudah terbiasa dengan lingkungan.

Sohaimi mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama ketika menghadapi hewan yang sedang dipersiapkan untuk kurban. Ia menekankan bahwa petugas penyembelihan harus melatih hewan dengan baik agar tidak terjadi kejadian serupa. “Kita perlu memastikan hewan tidak terlalu takut atau stres sebelum proses ibadah dimulai,” tambah Sohaimi.

Pelajaran dari Insiden Tragis

Insiden ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat dan pihak berwenang terkait pentingnya kesiapan dan pengawasan ketat selama upacara kurban. Sohaimi menegaskan bahwa meskipun tidak ada unsur pidana yang ditemukan, penjelasan lebih lanjut diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. “Kita harus memahami bahwa hewan kurban juga bisa mengalami reaksi tidak terduga,” ujarnya.

Para ahli peternakan menyebutkan bahwa perubahan perilaku pada hewan bisa dipengaruhi oleh faktor seperti suara, bau, atau pengalaman di masa lalu. Dalam beberapa kasus, kerbau atau sapi yang dikenal agresif bisa menyerang warga jika terganggu. “Kami mengusulkan agar hewan diawasi secara terus-menerus saat berada di area umum,” kata seorang peternak lokal, yang enggan menyebutkan nama.

Kejadian ini juga menyoroti pentingnya sosialisasi mengenai cara mengelola hewan kurban secara aman. Sohaimi menyatakan bahwa pihaknya akan menyusun panduan untuk penggunaan hewan dalam upacara kurban, termasuk penempatan area yang tepat dan pengawasan oleh petugas. “Kami berharap masyarakat bisa bekerja sama untuk mengurangi risiko kecelakaan seperti ini,” pungkasnya.

Dengan dua insiden yang terjadi dalam satu hari, kecelakaan akibat hewan kurban menunjukkan bahwa kehati-hatian harus tetap dijaga. Meski tidak ada kesengajaan, tragedi ini bisa terjadi jika faktor-faktor tertentu tidak diperhitungkan. Sohaimi berharap informasi yang diberikan oleh pihak berwenang bisa meminimalkan spekulasi dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya yang mungkin muncul.