Main Agenda: Kementerian Ekonomi Kreatif dukung promosi jamu ke pasar global

Kementerian Ekonomi Kreatif Berupaya Mendorong Pengembangan Jamu sebagai Produk Ekonomi Kreatif

Main Agenda – Jakarta, 20 Mei 2023 – Kementerian Ekonomi Kreatif, melalui Badan Ekonomi Kreatif, memberikan dukungan penuh untuk mengembangkan jamu sebagai produk kesehatan serta memperluas aksesnya ke pasar internasional. Pertemuan antara Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dengan perwakilan Dewan Jamu Indonesia (DJI) di kantor kementerian menjadi momentum penting dalam membahas strategi promosi yang lebih agresif. Menteri Harsya menekankan bahwa jamu tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu bersaing secara global.

Potensi Jamu di Pasar Dunia

Dalam wawancara dengan media, Menteri Harsya mengungkapkan bahwa jamu memiliki nilai ekonomi yang signifikan. “Jamu bukan sekadar bagian dari tradisi, tetapi juga bisa menjadi aset ekonomi yang mendorong pertumbuhan sektor kesehatan tradisional,” ujarnya. Ia menyoroti pentingnya mengubah jamu menjadi produk modern yang sesuai dengan standar internasional. Menurut Menteri, langkah ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan akademisi untuk membangun ekosistem yang kompetitif.

“Lewat dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan, kita perlu mengubah kekayaan budaya ini menjadi produk modern yang diminati secara global,” kata Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya.

Ekosistem digital menjadi salah satu sarana utama yang ditekankan. Ia menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan teknologi dan platform online, jamu bisa dikenalkan kepada pasar luas tanpa terbatas oleh batas geografis. “Kita harus memastikan bahwa produk jamu tidak hanya bisa diakses oleh masyarakat dalam negeri, tetapi juga diterima oleh konsumen mancanegara,” tambahnya. Menteri juga menyoroti pentingnya pengembangan merek dan pemanfaatan hak kekayaan intelektual (HAKI) untuk melindungi identitas produk jamu di dunia luar.

Langkah Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif

Kementerian Ekonomi Kreatif telah menyusun beberapa strategi untuk mendukung promosi jamu. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan branding produk jamu. “Dengan memperkuat citra merek, kita bisa meningkatkan daya tarik jamu di pasar internasional,” jelas Menteri Harsya. Selain itu, kementerian juga mendorong pemanfaatan platform digital seperti media sosial dan e-commerce untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Pasaran global menjadi target utama. “Kita harus memastikan bahwa jamu tidak hanya diketahui oleh masyarakat dalam negeri, tetapi juga diakui oleh pasar dunia,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa promosi ini perlu didukung oleh riset yang memadai, agar produk jamu dapat menunjukkan keunggulan dalam kualitas dan efektivitasnya. “Dengan persiapan matang, jamu bisa menjadi bagian dari ekonomi kreatif Indonesia yang memperkuat identitas nasional sekaligus mendatangkan keuntungan ekonomi,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Dewan Jamu Indonesia

Perwakilan Dewan Jamu Indonesia (DJI) menghadiri pertemuan tersebut untuk membahas kerja sama dalam penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE). Konferensi dan pameran yang rencananya berlangsung pada Oktober 2026 ini dirancang sebagai platform terpadu yang menggabungkan kegiatan ilmiah, pameran industri, serta promosi budaya. “JICE akan menjadi ajang penting untuk menampilkan keunikan jamu kepada dunia,” ujar Ketua Umum DJI, Daniel Tjen.

DJI merupakan organisasi yang menghimpun berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, peracik jamu, akademisi, peneliti, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuan utama dari JICE adalah menyebarluaskan khasanah budaya Indonesia sekaligus mempromosikan jamu sebagai solusi kesehatan yang modern. “Kita perlu menciptakan kesadaran global bahwa jamu bukan hanya produk tradisional, tetapi juga memiliki nilai ilmiah dan teknologi yang relevan dengan pasar internasional,” jelas Daniel Tjen.

“Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetisasi,” kata Menteri Ekonomi Kreatif.

Dalam mempercepat proses komersialisasi, Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen untuk membantu pengelolaan produk jamu secara lebih profesional. “Melalui ekosistem digital, kita bisa memperkuat branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya,” tambah Menteri. Ia menekankan bahwa langkah ini akan meningkatkan kualitas dan daya saing jamu, sehingga mampu bersaing dengan produk kesehatan lain di pasar internasional.

Persiapan JICE 2026

Sebagai bagian dari strategi promosi, JICE 2026 diharapkan menjadi ajang pengembangan yang lebih luas. Konferensi ini dirancang untuk menampilkan inovasi produk jamu yang dikembangkan oleh pengusaha dan peneliti. “Dengan penggunaan teknologi informasi, kita bisa memastikan bahwa produk jamu memiliki daya tarik yang kuat dan bisa diakses oleh konsumen dari berbagai belahan dunia,” ujar Daniel Tjen.

Menurut Daniel, JICE 2026 akan menjadi momen penting bagi pengembangan jamu. “Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” katanya. Ia menambahkan bahwa konferensi tersebut juga akan menjadi sarana untuk membangun jaringan internasional dengan pelaku industri kesehatan tradisional lainnya. “Dengan kolaborasi yang solid, kami yakin jamu bisa menjadi bagian dari ekonomi kreatif Indonesia yang menginspirasi dunia,” ujarnya.

Peran Ekosistem Digital dalam Promosi Jamu

Persiapan JICE 2026 tidak hanya fokus pada kegiatan langsung, tetapi juga memanfaatkan ekosistem digital untuk memperkuat keberadaan jamu di pasar global. “Platform digital akan menjadi jembatan utama untuk memperkenalkan jamu kepada dunia,” kata Menteri Harsya. Ia menekankan bahwa penggunaan teknologi akan membantu dalam mempercepat proses produksi, distribusi, serta pemasaran jamu. “Dengan sistem digital yang terintegrasi, kita bisa menjaga kualitas produk sambil memperluas jangkauannya,” katanya.

Langkah-langkah ini juga melibatkan pemanfaatan data dan riset untuk memahami kebutuhan konsumen global. “Kita perlu melakukan penelitian tentang preferensi konsumen, agar produk jamu bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar internasional,” jelas Menteri. Ia menambahkan bahwa kementerian akan bekerja sama dengan DJI untuk mengembangkan strategi promosi yang lebih efektif. “Dengan kombinasi antara tradisi dan inovasi, jamu bisa menjadi produk yang diminati oleh seluruh dunia,” katanya.

Peluang dan Tantangan dalam Pemasaran Global

Dalam mempromosikan jamu ke pasar global, DJI berupaya untuk menunjukkan bahwa produk ini memiliki nilai ekonomi yang signifikan. “Dengan penguatan merek dan pengelolaan HAKI, jamu bisa menjadi produk yang terkenal dan diakui secara internasional,” ujar Daniel Tjen. Ia menekankan bahwa selain aspek ekonomi, promosi ini juga bertujuan untuk melestarikan warisan budaya Indonesia.

Menteri Harsya menambahkan bahwa tantangan utama dalam pemasaran global adalah mengatasi perbedaan preferensi konsumen. “Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis data, kita bisa mengubah jamu menjadi produk yang menarik bagi berbagai lapisan masyarakat,” katanya. I