Key Strategy: Ekonom yakin investasi pertanian-manufaktur pacu serapan tenaga kerja

Ekonom Yakin Investasi Pertanian-Manufaktur Pacu Serapan Tenaga Kerja

Key Strategy – Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya meningkatkan daya tarik investasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama dalam mencapai target pertumbuhan sebesar 8 persen. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menekankan bahwa prioritas sektor-sektor tertentu harus ditempatkan agar efisiensi penggunaan dana investasi lebih optimal. Menurutnya, bidang pertanian, perikanan, dan industri pengolahan/manufaktur perlu menjadi fokus utama, karena kemampuan mereka untuk menyerap tenaga kerja lebih besar dibandingkan sektor-sektor lain.

Kontribusi Investasi dalam Pertumbuhan Ekonomi

Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan bahwa investasi merupakan faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam pertemuan “Kadin Monthly Economic Diplomatic Breakfast” di Jakarta, Jumat (8/5), ia menyoroti bahwa sektor investasi berkontribusi sekitar 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan dari periode sebelumnya, yang sebesar 27-28 persen. Menurut Rosan, investasi menjadi kontributor kedua terbesar setelah konsumsi domestik, yang tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.

“Investasi memainkan peran yang sangat signifikan, berkontribusi sekitar 1,79 persen dari pertumbuhan ekonomi 5,61 persen,” kata Rosan dalam acara tersebut.

Rosan juga menegaskan bahwa target investasi nasional tahun 2026 telah ditetapkan sebesar Rp2.041,3 triliun sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026. Target ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen dalam periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi mencapai Rp498,8 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan triwulan I 2025. Angka ini sekaligus menyerap sekitar 706.569 tenaga kerja secara langsung.

Prioritas Sektor Padat Karya

Bhima Yudhistira menambahkan bahwa pemerintah harus memastikan dana investasi tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi tetapi juga menciptakan peluang kerja. Ia mengatakan bahwa investasi padat karya di bidang pertanian, perikanan, dan industri pengolahan harus menjadi prioritas. “Idealnya, setiap Rp1 triliun investasi langsung bisa menyerap 4.500 orang tenaga kerja,” jelasnya.

“Investasi padat karya di sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan harus jadi prioritas,” katanya.

Ia menyoroti bahwa sektor-sektor ini memiliki potensi besar dalam mengurangi kesenjangan tenaga kerja di daerah-daerah pedesaan dan daerah terpencil. Berbeda dengan sektor-sektor yang lebih berbasis teknologi atau layanan, investasi di bidang produksi fisik lebih mampu menciptakan kebutuhan tenaga kerja dalam skala yang lebih luas. Bhima berharap pemerintah dapat merancang kebijakan yang mendorong penggunaan dana investasi untuk proyek-proyek yang tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga memberikan dampak sosial yang signifikan.

Pemulihan Kepercayaan Investor

Dalam konteks kepastian ekonomi, Bhima mengingatkan bahwa pemulihan kepercayaan investor menjadi kunci utama untuk memastikan pertumbuhan investasi yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kepastian hukum dan tata kelola ekonomi yang baik akan memperkuat minat investor, terutama di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global. “Pemulihan kepercayaan investor harus menjadi prioritas, karena aspek ini sangat berpengaruh pada keberlanjutan investasi,” ujarnya.

Bhima menambahkan bahwa pemerintah perlu memperbaiki regulasi yang terkadang dinilai rumit atau tidak konsisten. Kesederhanaan prosedur investasi, transparansi penggunaan dana, serta kebijakan yang mendorong kerja sama antar-sektor bisa menjadi langkah strategis untuk menarik minat investor. Menurutnya, sektor pertanian dan manufaktur, yang banyak mengandalkan tenaga kerja, menjadi primadona dalam hal ini, karena mampu menggandeng usaha-usaha kecil dan menengah (UKM) dalam pemerataan pembangunan.

Analisis Ekonomi dan Perspektif Masa Depan

Sementara itu, Rosan Roeslani menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, dengan kontribusi investasi mencapai 31-32 persen dari total pertumbuhan. Angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode sebelumnya, yang menunjukkan bahwa investasi sedang menunjukkan pergeseran dari sebelumnya hanya sebagai penunjang pertumbuhan. Rosan menegaskan bahwa investasi harus menjadi salah satu pilar utama dalam upaya mencapai target delapan persen, terutama dalam menghadapi tantangan eksternal seperti perubahan iklim dan persaingan global.

Bhima Yudhistira juga menyoroti bahwa keberhasilan investasi di sektor pertanian dan manufaktur akan bergantung pada upaya pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. “Investasi yang efektif tidak hanya menambah nilai tambah ekonomi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perlu ada harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi investasi untuk memastikan bahwa dana yang masuk benar-benar diarahkan ke sektor yang paling membutuhkan.

Dalam kesimpulannya, Bhima meminta pemerintah untuk mengevaluasi kembali cara pendistribusian investasi. Ia menilai bahwa dengan peningkatan daya serap tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi akan lebih seimbang dan berkelanjutan. “Investasi padat karya di sektor pertanian, perikanan, dan manufaktur adalah kunci untuk mengurangi ketimpangan dalam perekonomian nasional,” pungkasnya. Rosan, di sisi lain, berharap peningkatan realisasi investasi pada triwulan I 2026 akan menjadi awal dari momentum positif yang lebih lanjut.

Dengan target investasi yang tinggi, p