Special Plan: Desainer cerita di balik kostum drama “Perfect Crown”

Desainer Kostum dalam Special Plan “Perfect Crown”

Special Plan menjadi tema utama dalam pengembangan kisah dan visual drama Korea “Perfect Crown,” yang menampilkan narasi berlatar kerajaan dengan oleh-oleh Byeon Woo-seok dan IU sebagai pasangan utama. Selain menghadirkan alur cerita yang menarik, desain kostum yang dipimpin oleh Cho Sang-kyung juga menjadi pusat perhatian. Sebagai desainer yang pernah menggarap proyek seperti film “Oldboy” dan serial global Squid Game, Cho mengadaptasi konsep klasik menjadi fesyen modern yang dinamis, dengan tetap mempertahankan esensi tradisional Korea. Dalam Special Plan ini, kostum berfungsi sebagai alat untuk memperkaya narasi dan menggambarkan kepribadian karakter melalui detail yang diatur secara strategis.

Terobosan Desain dalam Kostum “Perfect Crown”

Cho Sang-kyung menjelaskan bahwa perancangan kostum di “Perfect Crown” berfokus pada keseimbangan antara tradisional dan inovatif. Ia mempertahankan garis lengkung lengan hanbok sebagai elemen khas, tetapi menggabungkannya dengan bahan seperti renda dan payet untuk memberi kesan kontemporer. Contohnya, dalam adegan ibu Suri memakai magoja (jaket luar) yang disampirkan di atas rok, bukan jeogori (blus), menciptakan estetika yang berbeda dari tradisi. “Ini adalah upaya untuk menunjukkan bahwa hanbok bisa menjadi fesyen modern yang fleksibel, bukan hanya sebagai benda bersejarah,” kata Cho. Pemilihan ini menekankan visi Special Plan yang menggabungkan warisan budaya dengan kekinian.

Dalam Special Plan, warna kostum juga menjadi strategi kunci untuk memperkuat karakter. Cho menggabungkan obangsaek (warna utama seperti putih, hitam, merah, kuning, dan biru) dengan oganseak (warna sekunder seperti violet, teal, oke, hijau, serta oren gelap) untuk menciptakan nuansa yang sesuai dengan kepribadian tokoh. Misalnya, warna teal dipilih secara cermat untuk selempang upacara I-an pada poster promosi, karena menghindari kesan kaku yang mungkin terjadi jika warna biru terlalu dominan. “Jika terlalu biru, terlihat kaku di layar, sementara jika terlalu merah, mengalihkan fokus dari cerita utama,” imbuhnya. Pemilihan warna ini sejalan dengan konsep Special Plan yang ingin menyampaikan pesan budaya secara halus.

“Ini adalah pilihan yang disengaja, sedikit mengintimidasi, memberontak. Saya ingin langkah awal itu menunjukkan sejauh mana karakter ini berani melangkah,”

Cho Sang-kyung menjelaskan bahwa desain cheollik (jubah militer) yang dikenakan Pangeran Agung I-an sebagai bagian dari Special Plan juga memiliki makna simbolis. Dalam adegan saat ia menghadiri perjamuan makan dengan Raja, cheollik digunakan sebagai lapisan utama, bukan hanya sebagai bahan bawah. “Secara tradisional, cheollik sering dikenakan di balik jubah resmi, tetapi dalam Special Plan, saya memilih untuk menampilkan keberaniannya sendirian,” ujarnya. Konsep ini menekankan konflik internal tokoh dan kesan kepribadian yang tegas.

Konflik Budaya dalam Pemilihan Kostum

Special Plan juga mencakup tantangan dalam menyesuaikan hanbok dengan kebutuhan modern. Cho Sang-kyung menolak hanbok yang terlalu lurus dan mengikuti bentuk tubuh, melainkan mempertahankan lengkungan elegan khas tradisional. “Meski hanbok kini jarang dipakai di acara khusus, saya ingin menunjukkan bahwa satu elemen tradisional bisa menjadi kekuatan dalam fesyen modern,” katanya. Hal ini menjadi bagian dari visi Special Plan untuk memperkaya identitas visual kerajaan dalam konteks kekinian.

Drama “Perfect Crown” yang diproduksi MBC dan disutradarai Park Joon-hwa ini menampilkan kisah Pangeran I-an, sosok yang disayangi rakyatnya, namun terjebak dalam politik istana. Pemilihan kostum dalam Special Plan memberikan kesan bahwa konflik yang terjadi tidak hanya di tingkat politik, tetapi juga terlihat melalui gaya dan penampilan tokoh. Dengan menggabungkan detail tradisional seperti lengkung lengan dan garis bawah hanbok, serta mengadaptasi bahan dan warna sesuai konteks, Cho Sang-kyung berhasil menciptakan visual yang konsisten dengan tema drama.

Special Plan tidak hanya berfokus pada desain kostum, tetapi juga menggambarkan bagaimana tradisi Korea bisa diangkat ke level baru melalui inovasi. Dengan memperkenalkan variasi pada kerah I-an dan penyesuaian warna yang alami, desainer ini menunjukkan bahwa fesyen bisa menjadi alat ekspresi budaya yang lebih inklusif. “Tujuan Special Plan adalah membuat penonton merasakan bahwa tradisi bukan sekadar hiasan, tetapi bisa menjadi bagian dari identitas sosial yang relevan,” pungkas Cho. Hal ini memberi makna tambahan kepada drama yang sebelumnya sudah memperoleh apresiasi dari penonton.