Sekjen PBB sangat khawatir atas pernyataan Trump tentang Iran

Sekretaris Jenderal PBB Ekspresikan Kekhawatiran atas Pernyataan Trump terhadap Iran

Pada Selasa (7/4), seorang juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyampaikan bahwa Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menunjukkan kekhawatiran besar terhadap pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai Iran. Pernyataan Trump, yang disampaikan pada Selasa malam, menyebutkan kemungkinan peradaban Iran bisa “musnah secara permanen”.

Sebelumnya, pada Senin (6/4), Trump juga menegaskan ancaman bahwa AS bisa menghancurkan Iran dalam semalam. Dujarric menjelaskan bahwa pernyataan-pernyataan tersebut menggambarkan risiko konsekuensi besar bagi seluruh bangsa atau peradaban akibat keputusan politik dan militer.

“Sekretaris Jenderal sangat khawatir atas pernyataan yang kami dengar kemarin dan pagi ini—pernyataan yang menunjukkan bahwa seluruh bangsa atau seluruh peradaban mungkin akan menanggung konsekuensi dari keputusan politik dan militer,” kata Dujarric dalam konferensi pers.

Dujarric menegaskan bahwa tidak ada tujuan militer yang membenarkan penghancuran infrastruktur masyarakat secara luas atau penderitaan sengaja terhadap warga sipil. Ia menekankan bahwa konflik bisa berakhir jika para pemimpin memilih dialog daripada kehancuran.

“Sekarang beliau menyerukan peningkatan upaya diplomatik untuk menemukan jalan damai menuju penyelesaian konflik di Timur Tengah,” tambahnya. Guterres juga meminta pemulihan segera kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair.

Sebagai contoh, pada 30 Maret, Trump mengancam akan “meledakkan dan melenyapkan” seluruh pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, serta pabrik desalinasi Iran, jika kesepakatan damai tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.

Penyebab Konflik yang Memicu Eskalasi

Konflik terbaru di Timur Tengah dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di daerah tersebut. Eskalasi ini menyebabkan pengiriman melalui Selat Hormuz hampir terhenti, memengaruhi pasokan energi global.

Sebagai akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara. Dujarric menyebut perang retorika Trump sebagai faktor yang memperburuk ketegangan. Ia menegaskan bahwa pilihan untuk menyelesaikan konflik masih ada, dan langkah tersebut harus diambil segera.