BNPB Kerahkan 51.057 Personel Tangani Karhutla di 4 Provinsi, Modifikasi Cuaca Digencarkan
Daftar Isi
BNPB Perkuat Penanganan Karhutla di Sumatera dan Kalimantan
Eksplorasiindonesia.com – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan terus diperkuat di sejumlah daerah yang menjadi perhatian utama di Sumatera dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan 51.057 personel untuk mendukung pemadaman, patroli, dan langkah pencegahan agar api tidak meluas.
Empat provinsi prioritas dalam penanganan ini adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, serta Kalimantan Tengah. Akumulasi area yang terbakar di empat wilayah tersebut mencapai 359 hektare. Penanganan dilakukan dengan mengombinasikan kekuatan di darat, armada udara, dan operasi modifikasi cuaca.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa pengerahan sumber daya tersebut diarahkan untuk memutus perkembangan kebakaran sekaligus menjaga area rentan dari munculnya titik api baru.
Personel dan Peralatan Dikerahkan di Empat Provinsi
Jumlah personel terbesar ditempatkan di Kalimantan Tengah, yakni 16.387 orang. Kalimantan Barat mendapat dukungan 14.458 personel, disusul Sumatera Selatan dengan 12.285 orang dan Kalimantan Selatan sebanyak 7.927 orang.
Tim di lapangan dibekali perangkat pemadaman yang disesuaikan dengan kebutuhan medan. Peralatan itu meliputi pompa portabel, selang, nozzle, alat berat, hingga drone. Kehadiran drone membantu pemantauan kondisi area terdampak dan mendukung pengamatan titik api dari udara, sementara pompa serta selang digunakan untuk penanganan langsung di lokasi.
Wilayah Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan luasan lahan terbakar terbesar di antara empat daerah prioritas, mencapai 262 hektare. Di Kalimantan Selatan, luasnya tercatat 75 hektare. Kalimantan Barat memiliki area terdampak 12 hektare, sedangkan Kalimantan Tengah mencapai 10 hektare.
Pembagian kekuatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada luas kebakaran yang telah tercatat, tetapi juga pada kesiapan menghadapi potensi perluasan api. Kondisi lahan, akses menuju titik kebakaran, serta kebutuhan pemantauan menjadi bagian dari pelaksanaan operasi di setiap daerah.
Operasi Udara dan Modifikasi Cuaca
Selain pasukan darat, BNPB mengoperasikan 61 armada udara. Armada tersebut terdiri atas 24 unit untuk patroli, CASA, dan operasi modifikasi cuaca (OMC), serta 37 helikopter water bombing. Sebanyak 52 unit ditempatkan pada enam provinsi prioritas, sementara sembilan unit lainnya berada dalam status siaga di luar wilayah prioritas.
“Dari sisi udara, BNPB mengoperasikan 61 unit armada yang terdiri dari 24 unit Patroli/CASA/OMC dan 37 unit Helikopter Water Bombing. Sebanyak 52 unit ditempatkan di 6 provinsi prioritas dan 9 unit disiagakan di luar provinsi prioritas,” kata Berton dalam keterangannya, dikutip Kamis (29/10/2026).
Helikopter water bombing berperan menjatuhkan air pada area kebakaran yang sulit dijangkau dari darat. Sementara itu, patroli udara diperlukan untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Dukungan udara menjadi penting ketika titik api berada di kawasan yang akses jalannya terbatas atau membutuhkan respons cepat.
BNPB juga memaksimalkan OMC untuk membantu pembasahan lahan. Pada Selasa (27/10/2026), operasi penyemaian awan dilakukan di tiga provinsi melalui 18 sorti penerbangan. Dalam kegiatan tersebut, petugas menggunakan 22.400 kilogram natrium klorida atau NaCl, ditambah 2.200 kilogram dry ice.
Operasi tersebut menghasilkan hujan dengan variasi intensitas dari ringan hingga lebat di sejumlah wilayah sasaran. Curah hujan yang turun diharapkan dapat membantu menjaga kelembapan lahan dan mendukung kerja pemadaman yang berlangsung di lapangan.
“Hasilnya, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berhasil turun di 7 wilayah Kalimantan Tengah, 12 wilayah Kalimantan Selatan, serta wilayah OKI, Banyuasin, dan Palembang di Sumatera Selatan,” kata Berton.
Perhatian Juga Tertuju ke Papua
Penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak terbatas pada empat provinsi prioritas. Di Papua, luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 2.393 hektare. Papua Barat Daya memiliki luasan terbesar, yakni 2.131,4 hektare. Papua Tengah tercatat 100,2 hektare, sedangkan Papua Selatan seluas 161,5 hektare.
Dalam kurun 12 jam terakhir, terdapat 73 titik panas yang terpantau di wilayah Papua. Kebakaran masih berlangsung di Kota Sorong dan Kabupaten Merauke. Data titik panas menjadi salah satu indikator penting untuk memperkuat kewaspadaan, karena keberadaannya dapat menunjukkan area yang perlu ditelusuri lebih lanjut oleh petugas di lapangan.
Upaya pemadaman juga berhasil dilakukan di Kabupaten Toraja Utara. Kebakaran hutan dan area pemakaman seluas 7 hektare di daerah tersebut telah dipadamkan oleh tim gabungan yang melibatkan BPBD, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat. Proses penanganan berlangsung sekitar 16,5 jam.
“Sementara itu, kebakaran hutan dan pemakaman seluas 7 ha di Kabupaten Toraja Utara telah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan BPBD, Damkar, dan masyarakat setelah proses pemadaman selama kurang lebih 16,5 jam,” paparnya.
Penanganan karhutla membutuhkan kerja berlapis, dari pemantauan titik panas, pemadaman darat, dukungan helikopter, hingga pembasahan lahan melalui modifikasi cuaca. Keterlibatan pemerintah daerah, petugas pemadam, relawan, dan warga menjadi bagian penting dalam menjaga agar kebakaran dapat segera dikendalikan serta tidak berkembang ke area yang lebih luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BNPB Kerahkan 51 057 Personel Tangani?
BNPB Kerahkan 51 057 Personel Tangani is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BNPB Kerahkan 51 057 Personel Tangani matter?
BNPB Kerahkan 51 057 Personel Tangani matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.