News

Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung-Peci Sepekan Sekali, Ungkap Makna dan Filosofinya

codex-2af1a470a8a242f9a824b80e209e8b8f
Foto : Daniel Miller - eksplorasiindonesia.com
Daftar Isi
  1. Usulan Sarung dan Peci untuk ASN Kementerian Agama
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Usulan Sarung dan Peci untuk ASN Kementerian Agama

Eksplorasiindonesia.com – Penggunaan sarung dan peci satu kali setiap pekan di lingkungan Kementerian Agama menjadi gagasan yang disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Inisiatif tersebut diarahkan untuk merawat warisan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas dan tradisi Indonesia di kalangan aparatur sipil negara.

Nasaruddin menyampaikan ide itu dalam keterangannya yang dikutip pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Ia melihat sarung dan peci bukan semata-mata pelengkap penampilan, melainkan pakaian yang menyimpan jejak sosial, budaya, spiritual, serta sejarah masyarakat Indonesia.

“Mengenakan sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita (ASN Kemenag) kerja pakai sarung dan peci,” kata Nasaruddin.

Gagasan tersebut tidak dimaksudkan sebagai aturan berpakaian yang mengikat seluruh pegawai. Nasaruddin menekankan bahwa penerapannya cukup berupa ajakan. Kenyamanan pegawai, kondisi kerja, dan kebutuhan tugas harian tetap perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaannya.

Busana Tradisional sebagai Identitas

Sarung dan peci telah lama hadir dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat Indonesia. Keduanya dapat ditemukan dalam kegiatan keagamaan, pertemuan keluarga, tradisi lokal, hingga acara resmi. Kehadirannya juga melampaui fungsi praktis sebagai pakaian karena sering dikaitkan dengan penghormatan, kebersamaan, dan pengenalan jati diri.

Bagi Nasaruddin, kemajuan bangsa tidak harus dibarengi dengan meninggalkan akar budayanya. Kemampuan suatu masyarakat dalam memelihara tradisi sambil terus berkembang justru menunjukkan karakter dan rasa percaya diri. Beragam negara tetap membawa pakaian khas mereka sebagai lambang kebanggaan, termasuk ketika tampil dalam pergaulan internasional.

Indonesia memiliki kekayaan serupa melalui beragam jenis sarung dan penutup kepala tradisional dari banyak daerah. Variasi bahan, corak, cara pemakaian, serta makna sosialnya memperlihatkan perjalanan panjang budaya yang terbentuk dari interaksi antarmasyarakat. Keberagaman itu dapat menjadi pengingat bahwa identitas nasional tumbuh dari banyak tradisi yang saling melengkapi.

Sarung, dalam pandangan Nasaruddin, lekat dengan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat. Nilai kesetaraan, kebebasan, dan kebersamaan turut tercermin dalam penggunaannya. Sementara itu, peci dikenal sebagai tanda kehormatan, kewibawaan, dan identitas kebangsaan. Kini peci tidak hanya dikenakan dalam lingkungan keagamaan, tetapi juga kerap menjadi bagian dari busana nasional pada kegiatan kenegaraan.

“Sarung dan peci itu adalah pakaian kebangsaan, pakaian spiritual, pakaian budaya, pakaian kehormatan,” katanya.

Gagasan Selasa Bersarung

Respons terhadap usulan tersebut datang dari Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said. Ia mengajukan gagasan program Selasa Bersarung di lingkungan Direktorat Jenderal Pesantren. Program ini diproyeksikan sebagai kebiasaan berpakaian yang memberi ruang bagi pegawai untuk mengenakan sarung pada satu hari kerja setiap minggu.

Rencana itu masih menunggu persetujuan Menteri Agama. Jika mendapatkan lampu hijau, Direktorat Jenderal Pesantren akan mencoba menetapkan hari kerja khusus untuk penggunaan sarung. Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk penghargaan terhadap tradisi pesantren, yang selama ini memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan banyak unsur kebudayaan Nusantara.

“Direktorat Jenderal Pesantren merencanakan, jika disetujui oleh Pak Menteri Agama, kami akan mencoba menetapkan satu hari kerja khusus di lingkungan Ditjen Pesantren untuk menggunakan sarung,” kata Basnang.

Hari Selasa dipilih karena dinilai sesuai dengan pakaian kerja putih yang biasa digunakan pegawai. Paduan baju putih dan sarung dianggap tetap rapi untuk aktivitas kedinasan, tanpa menghilangkan nuansa tradisional yang ingin ditonjolkan.

“Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya,” katanya.

Merawat Tradisi dalam Ruang Kerja

Apabila diterapkan, penggunaan sarung dan peci secara berkala dapat menjadi cara sederhana untuk menghadirkan budaya dalam kehidupan kerja. Bukan hanya soal memilih pakaian pada hari tertentu, gagasan ini juga membawa pesan bahwa tradisi dapat tetap hidup di tengah rutinitas modern dan lingkungan birokrasi.

Penerapan yang bersifat imbauan memberi keleluasaan bagi pegawai untuk menyesuaikan pilihan busana dengan tugas yang dijalankan. Pendekatan tersebut menjaga tujuan pelestarian budaya tanpa mengabaikan kebutuhan profesional serta kenyamanan individu.

Usulan ini sekaligus membuka ruang percakapan tentang posisi busana tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Sarung dan peci dapat dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya yang terus relevan, bukan sekadar peninggalan masa lalu. Melalui penggunaan yang wajar dan penuh penghormatan, nilai-nilai yang melekat pada keduanya dapat terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Frequently Asked Questions

What is Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung?

Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung matter?

Menag Usul ASN Kemenag Pakai Sarung matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Daniel Miller - eksplorasiindonesia.com

Daniel Miller - eksplorasiindonesia.com

Daniel Miller adalah penulis perjalanan dan pencerita budaya yang berfokus pada eksplorasi destinasi unik di Asia Tenggara. Selama lebih dari satu dekade, ia telah menjelajahi berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari desa pesisir, taman nasional, hingga kota bersejarah, sambil mendokumentasikan tradisi lokal, kuliner daerah, dan keindahan alam yang jarang diketahui wisatawan.

Daniel dikenal melalui tulisan panduan perjalanan yang informatif dan mudah dipahami. Ia menggabungkan pengalaman langsung dengan riset mendalam untuk membantu pembaca memahami keragaman budaya dan destinasi wisata di Indonesia.

Selain menulis, Daniel juga gemar memotret lanskap alam, menjelajahi jalur pendakian tropis, serta mempelajari kehidupan masyarakat lokal yang menjadi bagian penting dari kekayaan Indonesia.