News

Kekayaan Bernard Arnault Menguap Rp1.149 Triliun, Terdepak dari 10 Orang Terkaya Dunia

codex-a56007c783e446e784bf36ea10dc3aff
Foto : Sholeh Hidayat - eksplorasiindonesia.com
Daftar Isi
  1. Bernard Arnault Keluar dari 10 Besar Orang Terkaya Dunia Setelah Kekayaan Menyusut
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Bernard Arnault Keluar dari 10 Besar Orang Terkaya Dunia Setelah Kekayaan Menyusut

Eksplorasiindonesia.com – Bernard Arnault mengalami penurunan kekayaan terbesar di antara 500 miliarder dunia sepanjang tahun ini. Nilai hartanya berkurang sekitar 65 miliar dolar AS, setara Rp1.149 triliun, sehingga pendiri sekaligus pemimpin LVMH itu tidak lagi berada dalam kelompok 10 orang terkaya dunia.

Dalam pembaruan indeks miliarder Bloomberg pada Kamis, kekayaan Arnault tercatat sekitar 143 miliar dolar AS. Posisi pria berusia 77 tahun tersebut turun ke peringkat ke-11, berada di bawah Warren Buffett dan masih sedikit lebih tinggi daripada Jim Walton, pewaris Walmart.

Perubahan peringkat ini menjadi momen penting karena Arnault terakhir kali berada di luar 10 besar pada Maret 2017. Sejak indeks kekayaan tersebut mulai diterbitkan pada 2012, kondisi terbaru juga menandai pertama kalinya seluruh 10 orang teratas berasal dari Amerika Serikat.

Saham LVMH Menjadi Penentu Utama

Penurunan kekayaan Arnault berkaitan erat dengan performa saham LVMH, perusahaan barang mewah yang menaungi beragam merek ternama. Sebagian besar nilai kekayaannya bersumber dari kepemilikan sekitar 49 persen saham LVMH.

Kepemilikan itu terutama dijalankan melalui Christian Dior, perusahaan tercatat di bursa yang hampir seluruh sahamnya dikuasai Arnault, serta Financière Agache, perusahaan investasi keluarga Arnault. Struktur tersebut membuat perubahan harga saham LVMH memiliki pengaruh langsung terhadap nilai kekayaan pribadinya.

Saham LVMH kini bergerak di sekitar 415 euro, jauh lebih rendah dibandingkan level di atas 892 euro yang pernah dicapai lebih dari tiga tahun lalu. Harga saham perusahaan tersebut sempat mencapai puncak pada April 2023, ketika sektor barang mewah masih menikmati dorongan permintaan besar setelah pandemi.

Setelah periode itu, tekanan muncul dari sejumlah arah. Permintaan di China melemah, ketidakpastian terkait tarif Amerika Serikat meningkat, dan konsumsi minuman beralkohol di beberapa pasar menurun. Konflik di Timur Tengah juga ikut memengaruhi belanja konsumen di sejumlah pusat perdagangan dan bisnis, termasuk Dubai.

Dalam bisnis barang mewah, perubahan sentimen konsumen dapat tercermin cepat pada pasar saham. Ketika pembeli menahan belanja untuk produk premium, investor umumnya menilai pertumbuhan perusahaan seperti LVMH dengan lebih berhati-hati. Dampaknya tidak hanya terlihat pada kapitalisasi pasar perusahaan, tetapi juga pada kekayaan pemegang saham pengendalinya.

Kontras dengan Kenaikan Saham Teknologi

Penyusutan nilai harta Arnault terjadi ketika pasar saham Amerika Serikat justru menguat. Indeks S&P 500 telah naik 11 persen sepanjang tahun ini, dengan saham teknologi dan meningkatnya kebutuhan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI sebagai penggerak utama.

Kondisi itu membantu memperkuat posisi para tokoh teknologi dan bisnis Amerika dalam daftar orang terkaya. Elon Musk berada di urutan pertama dengan kekayaan 918,8 miliar dolar AS, atau sekitar Rp16.252 triliun. Setelahnya terdapat Larry Page, Jeff Bezos, Sergey Brin, dan Michael Dell.

Perubahan posisi Arnault bukan terutama disebabkan oleh perubahan besar pada kegiatan bisnis pribadinya. Pergeseran itu lebih mencerminkan perbedaan arah antara pasar barang mewah global dan reli saham teknologi Amerika Serikat. Ketika valuasi perusahaan teknologi meningkat, kekayaan para pemegang saham utamanya ikut terdorong naik.

Bagi Arnault, situasi tersebut memperlihatkan besarnya keterkaitan antara kekayaan miliarder dan harga aset yang mereka miliki. Nilai harta dapat berubah drastis dalam waktu singkat tanpa harus disertai transaksi penjualan besar maupun perubahan kepemilikan perusahaan.

Dari Perusahaan Tekstil Bangkrut hingga Memimpin LVMH

Arnault membangun posisinya di industri barang mewah melalui perjalanan bisnis yang panjang. Pada 1984, ia mengambil alih sebuah perusahaan tekstil yang memiliki Christian Dior dan saat itu berada dalam keadaan bangkrut.

Ia kemudian melepas bisnis-bisnis lain dalam kelompok tersebut dan memanfaatkan hasilnya untuk memperkuat kendali atas LVMH. Arnault resmi menjadi chairman dan CEO LVMH pada 1989, lalu mengembangkan perusahaan itu menjadi salah satu pemain terbesar di sektor barang mewah global.

Kelima anak Arnault dari dua pernikahannya kini terlibat dalam perusahaan keluarga tersebut. Untuk pertama kalinya, seluruh anaknya berbicara pada rapat pemegang saham yang berlangsung pada April lalu. Namun, Arnault tidak memberikan jawaban saat ditanya mengenai siapa yang kelak akan menggantikannya sebagai CEO LVMH.

Isu suksesi menjadi perhatian karena Arnault telah memimpin LVMH selama beberapa dekade dan keluarga memiliki keterlibatan besar dalam struktur kepemilikan perusahaan. Meski demikian, belum ada penetapan terbuka mengenai penerusnya di posisi puncak.

Catatan untuk 2026 menunjukkan gaji tahunan Arnault sebesar 1.138.307 euro, sama seperti tahun sebelumnya. Pada awal tahun ini, ia juga diperintahkan membayar 22,5 juta euro kepada otoritas pajak Prancis setelah sengketa pajak yang berlangsung bertahun-tahun.

Turunnya Arnault dari 10 besar tidak mengubah statusnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di industri barang mewah. Namun, perkembangan tersebut menegaskan bahwa kekayaan para miliarder sangat bergantung pada dinamika pasar, kondisi ekonomi global, serta perubahan preferensi konsumen di pasar utama.

Frequently Asked Questions

What is Kekayaan Bernard Arnault Menguap Rp1 149 Triliun?

Kekayaan Bernard Arnault Menguap Rp1 149 Triliun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kekayaan Bernard Arnault Menguap Rp1 149 Triliun matter?

Kekayaan Bernard Arnault Menguap Rp1 149 Triliun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.