Polisi Ungkap Motif Pelaku Keroyok Pedagang Cermin hingga Tewas saat Ricuh di Pejompongan
Daftar Isi
Polisi Dalami Motif Pengeroyokan Pedagang Cermin di Pejompongan
Eksplorasiindonesia.com – Polisi mengungkap alasan yang diduga mendorong tiga pria melakukan pengeroyokan terhadap pedagang cermin bernama Bambang Setiawan hingga meninggal dunia di Pejompongan, Jakarta. Peristiwa itu terjadi saat situasi di sekitar lokasi diwarnai kerusuhan dalam aksi terkait perampasan aset.
Tiga tersangka berinisial FP (23), DS (33), dan DDS (29) disebut terpancing emosi karena aktivitas mencari penghasilan mereka terganggu oleh keadaan ricuh tersebut. Ketiganya merupakan pekerja harian lepas yang biasa mencari pekerjaan serabutan di kawasan sekitar tempat kejadian.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin menyampaikan, pemeriksaan terhadap para tersangka mengarah pada rasa terganggu yang mereka alami ketika berada di area tersebut. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap dan mengandalkan pekerjaan yang datang secara tidak menentu.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan terkait motif, para pelaku merasa ada terganggu dengan peristiwa yang terjadi saat mereka bersama-sama melintas, karena kebetulan para pelaku ini mencari nafkah di sekitaran atau area tempat kejadian perkara,” ujarnya pada wartawan, Sabtu (12/9/2026).
Ketiganya Ikut Terlibat Saat Kerusuhan
Iman menjelaskan bahwa ketiga pria itu melintas ketika suasana di lokasi telah memanas. Dalam kondisi tersebut, mereka kemudian ikut masuk ke dalam kerusuhan yang berlangsung. Pengeroyokan terhadap Bambang terjadi di tengah situasi yang tidak terkendali.
Jenis pekerjaan para tersangka belum dijelaskan secara rinci. Namun, kepolisian menegaskan gambaran umum profesi mereka sebagai pekerja kasar dan pencari pekerjaan dadakan. Keterangan itu menjadi bagian dari penyelidikan untuk memahami latar belakang tindakan mereka pada hari kejadian.
“Kemudian sedang terjadi kerusuhan, mereka ikut serta di dalam kerusuhan itu sendiri. Profil ketiganya merupakan pekerja kasar, serabutan, yang melaksanakan atau mencari nafkah dengan mencari pekerjaan-pekerjaan yang dadakan, ya serabutan,” tuturnya.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kondisi massa yang ricuh dapat berkembang menjadi tindak kekerasan serius. Dalam situasi seperti itu, aktivitas warga di sekitar lokasi dapat ikut terdampak, termasuk orang-orang yang sedang bekerja atau melintas. Polisi masih melanjutkan pendalaman terhadap rangkaian peristiwa untuk memastikan peran masing-masing tersangka.
Penangkapan Dilakukan di Babakan Madang
FP, DS, dan DDS ditangkap di wilayah Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan Sentul. Penangkapan dilakukan setelah tim penyidik melakukan investigasi mendalam dengan pendekatan scientific crime investigation.
Sebelum para tersangka diamankan, aparat sempat menyebarluaskan sketsa wajah dua orang yang diduga terkait dengan pengeroyokan itu. Penyebaran sketsa menjadi salah satu langkah untuk memperluas pencarian dan mengumpulkan informasi yang dapat membantu pengungkapan identitas pelaku.
Penyidik juga menelusuri pergerakan orang-orang yang dicurigai. Mereka diketahui berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sehingga proses pencarian memerlukan pencocokan data tambahan. Salah satu unsur penting dalam penyidikan adalah pemeriksaan sidik jari yang ditemukan di lokasi kejadian.
“Dari penyelidikan di dalam penyidikan itu, tentunya (diketahui) para pelaku ini terus mobile dari satu tempat ke tempat yang lain. Dan kami sedang memastikan apakah sidik jari yang ditemukan di TKP dengan orang-orang yang terduga pelaku ini sinkron,” jelasnya.
Barang bukti dari tempat kejadian perkara menjadi sumber data forensik bagi penyidik. Sampel sidik jari diangkat dari sejumlah benda, antara lain kayu, batu, piring, serta gelas. Benda-benda tersebut kemudian diperiksa untuk melihat kemungkinan kecocokan dengan identitas orang yang telah dicurigai.
Kecocokan Sidik Jari Menguatkan Penyelidikan
Titik penting dalam penanganan perkara muncul ketika polisi mendeteksi keberadaan para terduga pelaku di Babakan Madang. Pada waktu yang sama, penyidik memperoleh tambahan data yang menguatkan hasil pencocokan sidik jari dari barang bukti di lokasi pengeroyokan.
Validasi tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk bergerak melakukan penangkapan. Penggunaan pemeriksaan forensik dalam perkara ini membantu penyidik menghubungkan temuan di tempat kejadian dengan orang yang kemudian diamankan.
“Nah, pada saat kebetulan para terduga pelaku ini sedang berada di wilayah Babakan Madang, di sekitaran Sentul, Bogor, kami memperoleh data tambahan terkait dengan kepastian sinkronisasi sidik jari tersebut. Nah, saat itulah kami melakukan proses penangkapan,” katanya.
Pengungkapan kasus pengeroyokan yang menewaskan Bambang Setiawan masih menjadi perhatian karena terjadi ketika kerusuhan berlangsung di ruang publik. Proses hukum terhadap FP, DS, dan DDS akan menentukan pertanggungjawaban masing-masing atas kekerasan yang menyebabkan korban kehilangan nyawa.
Bagi warga, perkara ini juga menjadi pengingat bahwa kerusuhan dapat membawa risiko besar bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Penanganan cepat, pengamanan lokasi, serta pengumpulan bukti secara cermat diperlukan agar pelaku kekerasan dapat diidentifikasi dan diproses sesuai hukum.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polisi Ungkap Motif Pelaku Keroyok Pedagang?
Polisi Ungkap Motif Pelaku Keroyok Pedagang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polisi Ungkap Motif Pelaku Keroyok Pedagang matter?
Polisi Ungkap Motif Pelaku Keroyok Pedagang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.