Meeting Results: Svitolina raih gelar WTA 1000 Italian Open 2026

Svitolina raih gelar WTA 1000 Italian Open 2026

Meeting Results – Jakarta – Petenis berkebangsaan Ukraina, Elina Svitolina, mengakhiri perjuangan luar biasa dengan memperoleh trofi Italian Open 2026. Di babak final yang berlangsung pada hari Minggu waktu Indonesia Barat (WIB), ia mengatasi Coco Gauff, unggulan ketiga, dengan skor 6-4, 6-7(5), dan 6-2. Kemenangan ini menandai gelar ketiga dalam sejarah Svitolina di Roma, setelah sukses meraih kejuaraan pada 2017 dan 2018. Dalam wawancara pasca-pertandingan, Svitolina berbagi perasaannya.

“Jelas ini adalah pertarungan yang sangat sulit. Saya sangat senang dengan cara saya mengatasi kegugupan, tidak hanya hari ini tetapi juga sepanjang turnamen ini,” kata Svitolina, seperti dilansir dari WTA. “Saya rasa dua minggu ini memang berat, tetapi saya sangat bangga dengan usaha yang telah saya lakukan. Saya merasa diri saya mampu berkembang di level tertinggi.”

Perjalanan menuju puncak podium memperlihatkan ketahanan mental dan fisik Svitolina. Gauff, yang bertujuan meraih gelar pertama di Roma, memulai dengan energi penuh, mematahkan servis dua kali untuk mengungguli 2-0 dan 4-2. Namun, Svitolina menunjukkan kemampuan regenerasi yang luar biasa, bangkit di set kedua dan mengubah arah pertandingan. Dalam gim kesembilan yang krusial, petenis asal Ukraina menyelamatkan tiga poin break, mempertahankan servisnya, dan akhirnya mematahkan servis Gauff untuk memenangkan set pertama dengan skor 6-4.

Petaka sempat menghantui Svitolina saat Gauff berusaha membangun keunggulan. Petenis Amerika itu mempertahankan dominasi dengan mematahkan servis untuk memimpin 6-5, tetapi Svitolina langsung merespons dengan memperoleh kesempatan empat poin break. Kemenangan dalam tiebreak 7-5 mempercepat perjuangan tersebut. Di set penentu, Svitolina tampil lebih stabil, mematahkan servis Gauff di gim kelima dan ketujuh, sehingga unggul 5-2. Pada menit ke-49 pertandingan, setelah dua jam berlangsung, Svitolina memperoleh match point ketiganya dan menyudahi pertandingan dengan kemenangan menentukan.

Kemenangan ini meningkatkan catatan pertemuan mereka menjadi 4-2. Selain itu, Svitolina juga memperbaiki rekor pertandingan di final lapangan tanah liat WTA. Ia kini mencatatkan angka 8-0 di babak penutup turnamen, menjadi petenis kedua yang meraih delapan final level WTA pertamanya di lapangan tanah liat, setelah Anna Smashnova. Di usia 31 tahun 237 hari, Svitolina mencatatkan rekor sebagai petenis tertua yang mampu meraih tiga gelar di satu turnamen WTA 1000. Ini melampaui pencapaian Serena Williams, yang berhasil mengklaim tiga gelar di Miami pada 2013 dengan usia 31 tahun 173 hari.

Perjalanan Kembali ke Puncak

Svitolina memulai perjalanan kebangkitannya setelah melahirkan putrinya pada Oktober 2022. Setelah masa cuti, ia kembali beraksi di lapangan pada April 2023. Dalam wawancara sebelumnya, petenis berusia 31 tahun ini menyatakan keyakinannya dalam proses kembalinya.

“Ketika saya kembali, bagi saya yang terpenting adalah memberi diri saya kesempatan yang baik untuk bermain di level tertinggi,” ujar Svitolina. “Saya tidak pernah berpikir bahwa saya bisa kembali. Saya pikir itu bertahap. Pertama, saya ingin kembali ke peringkat seratus besar karena saya memulai dari nol, kemudian ke peringkat 30 besar untuk menjadi unggulan.”

Perjalanan ini melibatkan rencana yang terstruktur. “Kemudian sejak tahun lalu saya mulai berpikir, oke, level saya sudah ada. Saya perlu lebih konsisten dan lebih kuat secara fisik agar bisa memiliki kesempatan masuk ke peringkat 10 besar,” tambahnya. Hal ini membuktikan tekadnya untuk membangun kembali performa sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.

Dalam kesuksesan terbarunya di Italian Open 2026, Svitolina juga mencatatkan rekor sejarah baru. Ia menjadi petenis pertama dari Ukraina yang mencapai 20 gelar tunggal WTA, sekaligus menggandeng gelar terbanyak dalam era Open. Lebih dari itu, ia mengklaim sebagai petenis kedua berusia di atas 30 tahun yang berhasil menjuarai Italian Open setelah Serena Williams pada 2013, 2014, dan 2016.

Momen Kemenangan dan Kembali ke Puncak

Kemenangan di Roma ini menjadi bukti konsistensi Svitolina di lapangan tanah liat. Dengan teknik yang matang dan mental yang tangguh, ia mampu mengatasi tantangan dari petenis top 5 dalam satu edisi turnamen. Ini juga menandai pencapaian penting karena ia menjadi petenis pertama yang memperoleh tiga kemenangan atas pemain peringkat lima dalam satu edisi Italian Open.

Performa luar biasa Svitolina juga mencerminkan kesiapan dirinya untuk menghadapi tantangan sepanjang musim. “Saya memulai dari nol, tetapi setiap hari saya berusaha menambah daya tahan diri. Pertandingan ini membuktikan bahwa saya bisa kembali bersaing di level tertinggi,” katanya. Dengan kemenangan ini, Svitolina menggarisbawahi kembali kejayaannya setelah mengalami masa cuti yang menguras energi.

Sementara itu, Gauff menunjukkan pertahanan yang kuat, tetapi kurang beruntung dalam menghadapi pertahanan Svitolina di babak final. Meski gagal meraih gelar di Roma, petenis berusia 20 tahun ini tetap menunjukkan potensi besar untuk menjadi bintang masa depan. Namun, bagi Svitolina, kemenangan ini bukan sekadar akhir pertandingan, melainkan awal dari perjalanan baru menuju tujuan lebih besar.

Dengan perolehan gelar ketiga di Roma, Svitolina menambah koleksi prestasinya sebagai petenis yang mampu menyelesaikan tantangan di lapangan tanah liat. Ini juga memperkuat posisinya sebagai salah satu atlet tenis paling andal di era modern. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu tergantung pada usia, tetapi pada tekad dan latihan yang konsisten. Svitolina kembali menunjukkan bahwa ia mampu bersaing di kancah papan atas WTA, bahkan setelah mengalami masa cuti melahirkan.

Berikutnya, Svitolina akan bersiap untuk menghadapi tantangan lebih besar di sepanjang musim. Dengan perolehan titel baru, ia semakin