Latest Program: 2.043 Talenta AI Baru Berhasil Dicetak, Lampaui Target BDT 2026

2f04e2cc-0fba-4db3-9624-3a252388d977-0

Ekonomi Kreatif Berhasil Melahirkan Lebih dari 2.000 Talentai AI, Melebihi Target Tahun 2026

Latest Program – Jakarta, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah mencapai pencapaian signifikan dalam program pelatihan talenta AI. Sebanyak 2.043 peserta berhasil menyelesaikan program Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026, yang awalnya hanya menargetkan 800 lulusan. Angka ini menunjukkan keberhasilan besar dalam meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia yang mampu menguasai kecerdasan buatan. Program ini dimulai pada bulan April 2026 dan telah menciptakan minat yang tinggi di kalangan masyarakat.

Antusiasme Peserta Melebihi Prediksi Awal

Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menjelaskan bahwa jumlah peserta yang mendaftar mencapai 5.905 orang, jauh melampaui kuota awal 2.000. “Program ini terbukti sangat diminati, bahkan jumlah pesertanya melebihi ekspektasi kami,” ujarnya di Gedung Film Pesona Indonesia, Sabtu (27/6/2026). Neil menegaskan bahwa tidak hanya kuota peserta yang di atas target, tetapi juga jumlah lulusan akhir program mengalami peningkatan yang signifikan.

“Saya lihat ada beberapa dari peserta ini yang sedang bekerja, jadi saya senang bahwa mereka bukan hanya belajar ulang (reskilling), tetapi juga meningkatkan keterampilan yang sudah ada (upskilling) dalam dunia kerjanya,” katanya.

Program BDT 2026 menargetkan pengembangan kapasitas tenaga kerja dalam bidang AI, dengan fokus pada penerapan teknologi tersebut di berbagai sektor ekonomi. Neil juga menyoroti distribusi peserta dari seluruh provinsi di Indonesia, di mana sebanyak 70% berasal dari Pulau Jawa, sementara 30% lainnya dari luar daerah tersebut. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah peserta terbesar, diikuti oleh Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Keberagaman Latar Belakang Peserta

Menurut Neil, lulusan dari program ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari calon tenaga kerja, tenaga kerja yang sedang beraktivitas, hingga pelaku usaha kreatif. “Kemampuan AI yang diperoleh bisa diterapkan untuk meningkatkan kapasitas kerja atau memperkaya kreativitas,” ujarnya. Kondisi ini dianggap positif karena mencerminkan kebutuhan akan pendidikan digital yang berkelanjutan di berbagai kalangan.

Neil menekankan bahwa AI tidak lagi sekadar alat teknologi, tetapi telah menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi. “Dengan kemampuan ini, individu bisa menghadapi perubahan teknologi dan berkontribusi pada produktivitas, kualitas karya, serta nilai ekonomi yang lebih tinggi,” tambahnya. Pemerintah optimis bahwa dengan adanya 2.043 lulusan, transformasi digital di berbagai sektor akan semakin cepat tercapai.

Pelatihan AI Sesuaikan Dengan Perkembangan Industri

CEO Dicoding, Narendra Wicaksono, mengungkapkan bahwa kurikulum pelatihan BDT 2026 dirancang agar peserta bisa memahami dasar-dasar AI secara menyeluruh. “Program ini membimbing peserta dari konsep dasar AI hingga cara menggunakan teknik prompt untuk menciptakan solusi,” katanya. Contohnya, peserta belajar membangun website, sistem keuangan, dan kampanye pemasaran dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan.

“Kemampuan yang diberikan disesuaikan dengan latar belakang masing-masing peserta, sehingga bisa langsung diaplikasikan di dunia kerja atau industri kreatif. Tujuannya adalah agar peserta memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.

Narendra memberi contoh bagaimana AI dapat diintegrasikan ke berbagai bidang. “Ada peserta yang menggunakan AI untuk merancang produk seperti energy gel bagi pelari, mulai dari riset hingga pemasaran,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan bisa menjadi alat yang berpotensi untuk mempercepat inovasi dalam industri kreatif.

Tantangan Digital Masih Tidak Mudah

Selain mencetak lulusan AI, Kementerian Komunikasi dan Informatika juga menyampaikan data bahwa Indonesia masih membutuhkan sekitar 600.000 hingga 1,2 juta talenta digital setiap tahun. “Angka ini mencakup kebutuhan dari sektor teknologi dan subsektor ekonomi kreatif, sehingga program seperti BDT 2026 menjadi langkah strategis,” kata Neil. Pemerintah berharap adanya pelatihan ini dapat memperkuat daya saing tenaga kerja di tengah dinamika global yang semakin cepat.

Neil menambahkan bahwa ekonomi kreatif memainkan peran kritis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi. “Program ini memberikan peluang bagi peserta untuk memperluas wawasan dan meningkatkan keterampilan, sehingga mereka bisa berkontribusi secara maksimal di industri mereka masing-masing,” ujarnya.

Langkah Ke Depan untuk Penguatan Ekonomi Kreatif

Dengan 2.043 lulusan yang dihasilkan, pemerintah berharap munculnya talenta AI dapat mendorong perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Neil menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun ekosistem digital yang tangguh. “Kita harus terus mendorong masyarakat, terutama kreator, untuk mempelajari AI dan mengintegrasikannya ke dalam proses kreatif,” katanya.

Sebagai penutup, Narendra menyatakan bahwa pelatihan ini tidak hanya memperkenalkan AI, tetapi juga membangun kepercayaan peserta terhadap kemampuan teknologi tersebut. “Kami percaya bahwa AI bisa memberikan manfaat yang luar biasa, baik untuk pengembangan bisnis maupun penguasaan keterampilan baru,” tutupnya. Kedua pihak sepakat bahwa program ini adalah langkah awal menuju masa depan di mana teknologi AI menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.