Special Plan: Komisi VIII DPR minta pemerintah fokus keselamatan KRL
Komisi VIII DPR Ingatkan Pemerintah Tetap Fokus pada Keselamatan KRL
Special Plan – Jakarta, Rabu – Anggota Komisi VIII DPR RI, Derta Rohidin, mengingatkan pemerintah agar tidak mengalihkan perhatian dari isu utama keselamatan transportasi umum. Hal ini menyusul usulan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) untuk mengadakan evaluasi terhadap penempatan gerbong khusus perempuan di Kereta Rel Listrik (KRL). Menurut Derta, meskipun usulan tersebut dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan perempuan, tetapi belum menyentuh akar masalah yang mendasar dalam sistem perkeretaapian.
Momen Kecelakaan Sebagai Kesempatan untuk Pembenahan Sistemik
Derta menegaskan bahwa insiden kecelakaan kereta api bukan hanya soal kesalahan teknis operasional, tetapi juga terkait tata kelola sistem yang lebih luas. “Insiden kecelakaan tersebut menyangkut struktur pengelolaan perkeretaapian yang harus terus diperbaiki secara menyeluruh,” ujarnya dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu. Ia menilai, masalah keselamatan transportasi publik harus menjadi prioritas utama, karena hal ini menentukan kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi yang digunakan sehari-hari.
“Keselamatan transportasi publik adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa disederhanakan pada satu aspek saja. Kita tentu mendukung perlindungan perempuan di ruang publik, tetapi kebijakan yang diambil harus tepat sasaran dan berbasis pada akar masalah,” tegas Derta.
Ia menyoroti bahwa kebijakan gerbong khusus perempuan di KRL, meskipun memiliki tujuan baik, masih berpotensi bersifat simbolik jika tidak disertai kajian yang komprehensif. Derta menjelaskan bahwa faktor penentu keamanan dalam transportasi umum lebih banyak dipengaruhi oleh elemen sistemik, seperti kesalahan manusia, gangguan mekanisme operasional, atau kelemahan infrastruktur rel. “Perubahan posisi gerbong perempuan tidak secara langsung mengurangi risiko tabrakan antarkereta,” tambahnya, yang bisa menyebabkan solusi jangka pendek tetapi tidak mengatasi penyebab utama kecelakaan.
Analisis Faktor Sistemik dalam Sistem Perkeretaapian
Derta menyebutkan beberapa aspek yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan keselamatan transportasi. Pertama, ia menyoroti pentingnya pembenahan pada sistem persinyalan dan komunikasi antar kereta. Jika persinyalan tidak akurat, atau komunikasi antar petugas operasional tidak terkoordinasi, risiko tabrakan atau kesalahan pengoperasian bisa meningkat. Kedua, kedisiplinan operasional dan standar prosedur keselamatan harus ditingkatkan, termasuk pelatihan berkala bagi masinis serta petugas rel. Ketiga, kualitas infrastruktur rel dan teknologi pengendalian harus diperiksa ulang, karena kelemahan di sini bisa memicu kecelakaan yang serius.
Terakhir, Derta menekankan perlunya manajemen lalu lintas kereta yang terintegrasi antara KRL dan kereta jarak jauh, seperti KA Argobromo Anggrek. “Jika sistem ini tidak saling terhubung, maka masalah keselamatan bisa terulang dalam skala yang lebih besar,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa data dari Kementerian Perhubungan menunjukkan sebagian besar kecelakaan kereta api dalam beberapa tahun terakhir dikarenakan kesalahan manusia dan gangguan sistem operasional, bukan karena konfigurasi gerbong penumpang.
Langkah-Langkah untuk Memastikan Keselamatan yang Sistemik
Sebagai langkah konkret, Derta menyarankan audit menyeluruh terhadap seluruh aspek sistem perkeretaapian. Audit tersebut harus mencakup persinyalan, komunikasi antar kereta, hingga kontrol operasional untuk menemukan celah risiko yang belum teridentifikasi. Selain itu, ia menekankan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia adalah kunci utama. “Keterampilan dan kualifikasi petugas harus diuji ulang secara berkala agar mereka mampu menjalankan tugas dengan profesional,” jelasnya.
Derta juga menyampaikan bahwa perlindungan perempuan di ruang publik harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya dengan menempatkan gerbong khusus. Ia menyoroti bahwa langkah-langkah seperti pencegahan pelecehan seksual, penguatan pengawasan, respons cepat terhadap laporan korban, serta edukasi publik terkait keamanan bersama, merupakan bagian dari solusi yang lebih holistik. “Kebijakan yang diambil harus mencakup semua aspek, termasuk pengelolaan teknis dan sosial,” tegas Derta.
Strategi untuk Menghindari Solusi Simbolik
Derta memperingatkan bahwa jika pemerintah hanya fokus pada solusi yang tampak cepat, seperti gerbong khusus perempuan, maka masalah mendasar keselamatan transportasi bisa terlewat. “Momentum pasca kecelakaan seharusnya dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan sistemik, agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya. Ia menilai, upaya ini memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, operator transportasi, serta masyarakat yang secara aktif mengawasi proses pengelolaan layanan tersebut.
Menurut Derta, kecelakaan di KRL bukan sekadar insiden kebetulan, tetapi mencerminkan kelemahan dalam sistem perkeretaapian yang sudah lama terjadi. “Kami ingin kebijakan yang diambil tidak hanya terlihat baik secara visual, tetapi juga mampu memberikan dampak yang nyata,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kecelakaan kereta api sering kali menimbulkan korban luka atau bahkan meninggal, sehingga keberhasilan dalam mencegahnya adalah target yang harus tercapai.
Harapan untuk Kebijakan yang Berkelanjutan
Menyusul kecelakaan yang terjadi, Derta mengharapkan pemerintah mampu melihat kesempatan ini sebagai titik awal untuk melakukan reformasi yang lebih menyeluruh. “Pemerintah harus melibatkan semua pihak, termasuk akademisi dan pengamat transportasi, dalam merumuskan kebijakan yang efektif,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan kebijakan, agar perbaikan keselamatan KRL tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek, tetapi bisa dijaga sepanjang waktu.
Menurut Derta, langkah-langkah seperti audit sistem perkeretaapian dan pelatihan sumber daya manusia bukan hanya sebagai keharusan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang. “Keselamatan transportasi umum adalah prioritas yang harus diutamakan, karena itu berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat sehari-hari,” ujarnya. Ia berharap pemerintah tidak mengabaikan aspek teknis dan operasional dalam upaya menjaga keselamatan KRL, meskipun langkah simbolik seperti gerbong khusus perempuan tetap diperlukan sebagai bagian dari strategi lebih luas.
Dengan memperbaiki faktor sistemik, Derta yakin risiko kecelakaan di KRL bisa diminimalkan secara signifikan. “Kami mend
