Main Agenda: OJK Minta Direksi BEI Baru Lanjutkan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia

7bb67356-d934-4b7f-9b6a-1ea676150eb7-0

OJK Berharap Direksi BEI Baru Terus Perkuat Reformasi Integritas Pasar Modal

Main Agenda – Kamis (18/6/2026), di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi memberikan arahan kepada jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru. Kepemimpinan baru BEI ini di bawah naungan Jeffrey Hendrik, dan OJK menitipkan pesan khusus terkait perbaikan tata kelola pasar modal. Salah satu fokus utama yang diungkapkan adalah terus mendorong reformasi integritas sebagai bagian dari upaya membangun pasar keuangan yang lebih sehat dan transparan.

Pertemuan dengan DPR dan Harapan untuk Reformasi

Pertemuan tersebut dilakukan setelah OJK melaporkan hasil pemilihan tujuh direktur BEI baru kepada DPR. Friderica menyebutkan bahwa dari total 28 kandidat yang mengajukan diri, tujuh orang terpilih berdasarkan uji kecocokan (fit and proper test) yang telah dilakukan. “Kita sudah memproses seluruh kandidat dengan mempertimbangkan kualifikasi dan kompetensi mereka,” jelasnya.

“Ada 28 orang yang sudah dilakukan fit and proper test di OJK dan alhamdulillah sudah terpilih tujuh orang yang terbaik untuk masing-masing bidang,” ucap Friderica usai pertemuan.

Dalam kesempatan itu, dia menekankan pentingnya komitmen dari direksi baru untuk mendorong pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di masa depan. “Pasar modal adalah salah satu ujung tombak pertumbuhan ekonomi, dan peran BEI harus semakin solid dalam menjaga kualitasnya,” tambahnya.

Kepemimpinan Baru dan Tanggung Jawab Reformasi

OJK berharap bahwa perubahan kepengurusan BEI akan menjadi momentum untuk meningkatkan standar integritas pasar modal. “Kita perlu memastikan semua pihak melihat bagaimana keberlanjutan reformasi integritas kita dijalankan,” tegas Friderica. Ia menyoroti bahwa tata kelola yang baik adalah kunci untuk menarik kepercayaan investor dan menjaga kepercayaan publik.

“Dan melanjutkan reformasi integritas di pasar modal. Karena semua akan melihat bagaimana keberlanjutan dari reformasi integritas yang kita lakukan untuk terus bagaimana Bursa Efek Indonesia ini bisa melaksanakan tugasnya ya,” kata dia.

Kata Friderica, BEI harus menjadi wadah yang aman bagi emiten, investor, dan seluruh pemangku kepentingan. “Keberhasilan reformasi integritas tidak hanya tentang kebijakan, tapi juga bagaimana kita menerapkannya secara konsisten dan terukur,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa tata kelola yang baik akan menciptakan lingkungan investasi yang lebih sehat dan minat masyarakat terhadap pasar modal meningkat.

Strategi Masa Depan dan Visi Pasar Modal Maju

Dalam rangka mendukung visi tersebut, OJK menyarankan BEI untuk terus memperkuat sistem pengawasan dan transparansi. “Kita perlu memastikan bahwa setiap transaksi dan keputusan di pasar modal selalu diawasi secara ketat, serta ada mekanisme yang jelas untuk menangani pelanggaran,” kata Friderica. Hal ini penting karena pasar modal Indonesia kini dihadapkan pada tantangan global dan domestik yang memerlukan kepercayaan kuat dari investor.

“Sehingga kita kedepankan integritas tata kelola dan juga kita akan terus melakukan perbaikan-perbaikan. Sehingga akan menjadi pasar modal yang semakin maju, semakin berkembang, dan bisa semakin menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Direksi baru BEI, kata Friderica, memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan perubahan yang signifikan. “Mereka harus menjadi pelaku reformasi yang gigih, tidak hanya dalam hal kebijakan tetapi juga dalam praktik sehari-hari,” lanjutnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan reformasi integritas bergantung pada kolaborasi yang erat dengan lembaga regulasi dan pihak terkait lainnya.

Peran BEI dalam Perekonomian Nasional

Menurut Friderica, BEI memiliki peran strategis dalam memastikan pasar modal mampu berkontribusi pada perekonomian Indonesia. “Pasar modal yang sehat akan menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan industri dan perekonomian,” ujarnya. Dalam konteks ini, ia menekankan bahwa reformasi integritas harus menjadi pilar utama untuk mewujudkan kepercayaan investor domestik dan internasional.

Friderica juga meminta direksi baru BEI untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada emiten dan investor. “Perlu ada kebijakan yang lebih ramah, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan pasar,” tambahnya. Ia mencontohkan bahwa keterbukaan informasi dan sistem pengawasan yang efektif dapat mengurangi risiko penipuan dan meningkatkan efisiensi pasar.

Tantangan dan Peluang dalam Reformasi Pasar Modal

OJK menyebutkan bahwa reformasi integritas pasar modal tidak bisa dilakukan secara terpisah dari upaya memperbaiki struktur regulasi. “Kita harus terus mengevaluasi kebijakan yang sudah ada, dan merancang kebijakan baru jika diperlukan,” jelas Friderica. Ia menambahkan bahwa tata kelola yang baik akan menjadi prasyarat untuk menarik investasi asing dan meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia.

Menurut Friderica, pasukan direksi baru BEI juga perlu memperkuat komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk masyarakat luas. “Transparansi dan keterbukaan informasi harus menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan,” katanya. Ia menegaskan bahwa ini adalah langkah penting untuk membangun budaya integritas di seluruh lapisan pasar modal.

Komitmen untuk Pembaruan Berkelanjutan

OJK berharap bahwa direksi baru akan menjalankan tugasnya dengan komitmen tinggi. “Mereka harus menjadi contoh yang baik, baik dalam mengambil keputusan maupun dalam menjalankan kebijakan,” ujar Friderica. Ia menyoroti bahwa keberhasilan reformasi integritas tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kemampuan direksi dalam menerapkan mereka secara konsisten.

Dalam pandangan Friderica, BEI harus menjadi pelaku utama dalam memastikan keberlanjutan reformasi. “Pasar modal yang berintegritas adalah aset paling berharga bagi perekonomian, dan kita harus terus mengembangkannya,” jelasnya. Ia menutup pertemuan dengan harapan bahwa kepengurusan baru akan mampu menciptakan pasar modal yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.