Topics Covered: Ahli: Banyak orang tetap ingin terlihat mapan demi “Join the Club”

Ahli: Masyarakat Tetap Berupaya Menunjukkan Kestabilan untuk Bergabung dengan Kelompok Tertentu

Topics Covered – Di Jakarta, Profesor Antropologi dari Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menyatakan bahwa keinginan masyarakat untuk tetap tampil stabil dalam kondisi ekonomi yang ketat tidak hanya didasari kebutuhan primer, tetapi juga semangat untuk masuk ke dalam kelompok-kelompok gaya hidup tertentu. “Motivasi utama dalam membeli barang bukan hanya kebutuhan primer, tetapi juga agar kita bisa masuk ke dalam kelompok tertentu,” ujar Semiarto dalam wawancara dengan ANTARA pada hari Jumat. Menurutnya, pola konsumsi saat ini berubah menjadi alat untuk menunjukkan identitas sosial dan posisi dalam masyarakat.

Motivasi Konsumsi Sebagai Penguasaan Status Sosial

Kebutuhan primer seperti pangan, pakaian, dan transportasi masih menjadi dasar utama pengeluaran masyarakat, tetapi tingkat konsumsi telah bergeser. “Konsumsi kini adalah bahasa sosial yang menunjukkan bahwa seseorang ‘I am okay’, yakni merasa baik-baik saja dalam lingkungan pergaulannya,” tambah Semiarto. Ia menegaskan bahwa aktivitas belanja tidak lagi bersifat spontan, tetapi direncanakan sebagai cara mempertahankan kesan mapan meski secara finansial harus lebih hemat.

“Motivasi kita membeli itu bukan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi agar kita bisa masuk ke dalam klub tertentu,” kata Semiarto kepada ANTARA, Jumat.

Semiarto menjelaskan bahwa keinginan untuk terlihat mapan muncul dari keinginan untuk diakui oleh lingkaran sosial tertentu. Dalam masyarakat urban, konsumsi menjadi cara menunjukkan kedudukan dan keanggotaan dalam kelompok-kelompok yang memiliki gaya hidup tertentu. Misalnya, penggunaan produk Apple seperti iPhone, MacBook, dan aksesori lainnya dianggap sebagai simbol status yang mengidentifikasi seseorang sebagai bagian dari kelompok “Apple boy” atau “Apple girl”.

Pengaruh Gaya Hidup Perkotaan pada Wilayah Daerah

Kebiasaan konsumsi yang awalnya berkembang di kota besar kini menyebar ke daerah-daerah melalui media sosial dan internet. “Pola gaya hidup perkotaan sudah merambah ke luar kota, bahkan ke daerah terpencil, karena pengaruh media digital dan pergeseran nilai sosial,” ujar Semiarto. Ia menyoroti bahwa meskipun ekonomi masyarakat daerah lebih terbatas, mereka tetap berusaha mengikuti tren konsumsi yang dianggap lebih modis atau elit.

“Misalnya pengguna Apple. HP-nya iPhone, laptop-nya MacBook, semuanya serba Apple. Itu Apple boy, Apple girl,” ujarnya.

Menurut peneliti ini, kesan mapan tidak hanya diperoleh melalui pengeluaran besar, tetapi juga dari pilihan simbol-simbol kecil yang terlihat sederhana namun mampu membangun citra. Contohnya, aktivitas seperti nongkrong di kafe, atau penggunaan gawai merek tertentu tetap dilakukan meski frekuensinya berkurang. “Orang tetap nongkrong, walaupun tidak setiap hari, mungkin seminggu sekali. Atau pindah ke tempat yang lebih ekonomis,” terangnya.

Teori “Join the Club” dalam Kehidupan Sosial

Semiarto menyoroti bahwa dorongan untuk “join the club” menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan konsumsi. “Kita ingin menjadi seperti orang lain yang kita pandang lebih bagus. Kita ingin join the club,” ujarnya. Dalam konteks ini, keanggotaan dalam kelompok tertentu dianggap sebagai cara menambah nilai sosial dan mengurangi rasa tertinggal dari lingkungan sekitar.

Menurutnya, fenomena ini terutama kuat terjadi di kota besar seperti Jakarta karena adanya keanekaragaman lapisan sosial dan ruang konsumsi yang lebih terbuka. “Makan di restoran, nongkrong di kafe, atau menghabiskan waktu di co-working space adalah bagian dari gaya hidup modern yang dianggap sebagai wajib,” katanya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang pengakuan sosial.

Perubahan Pola Konsumsi dalam Konteks Ekonomi Global

Semiarto menambahkan bahwa keinginan untuk tampil mapan dalam konteks ekonomi global saat ini lebih kompleks. Dengan hadirnya teknologi dan akses informasi yang mudah, masyarakat dihimpit tekanan untuk selalu mengikuti tren terbaru. Meskipun beberapa orang membatasi pengeluaran, mereka tetap mempertahankan simbol-simbol yang dianggap penting untuk tetap menjadi bagian dari kelompok tertentu. “Aktivitas seperti nongkrong atau penggunaan produk premium tetap dilakukan, meski dengan frekuensi yang lebih sedikit dan biaya yang lebih terkontrol,” ujarnya.

Kebiasaan ini juga terlihat di sektor kecil seperti pakaian, makanan, atau hiburan. Masyarakat mulai memilih barang dengan merek tertentu agar tidak dianggap tertinggal atau kurang stylish. “Penggunaan produk yang bisa mengidentifikasi identitas sosial tetap menjadi prioritas, meski dalam praktiknya, pengeluaran dibatasi agar tetap bisa memenuhi kebutuhan lain,” jelas Semiarto. Ia menekankan bahwa pola ini tidak hanya tentang konsumsi materi, tetapi juga tentang identitas dan keterlibatan sosial.

Peran Media Sosial dalam Mendorong Fenomena Konsumsi

Menurut Semiarto, media sosial dan internet berperan besar dalam memperluas pengaruh gaya hidup perkotaan ke luar kota. Platform seperti Instagram, TikTok, atau YouTube menjadi media untuk menyebarluaskan standar kehidupan yang dianggap ideal. “Melalui media ini, masyarakat daerah dapat membandingkan gaya hidup mereka dengan kelompok-kelompok urban yang lebih dianggap sukses,” katanya. Ia menilai bahwa ini mendorong masyarakat untuk mengadopsi simbol-simbol konsumsi yang menunjukkan status.

Di sisi lain, ia menekankan bahwa tekanan untuk tetap tampil mapan bisa juga berasal dari persaingan internal dalam lingkungan keluarga atau komunitas. “Orang tua, saudara, atau teman-teman bisa menjadi pengaruh yang memaksa seseorang untuk membeli barang tertentu agar dianggap memiliki kualitas kehidupan yang sejajar,” ujarnya. Fenomena ini, katanya, mengubah cara masyarakat mengelola keuangan dan kebutuhan sehari-hari.

Kebiasaan “join the club” ini, menurut Semiarto, terus berkembang karena adanya lingkaran sosial yang menawarkan keanggotaan melalui berbagai bentuk konsumsi. Dengan demikian, meskipun ekonomi semakin ketat, keinginan untuk tetap terlihat mapan tetap menjadi motivasi utama dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia. “Ini bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang cara membangun kepercayaan diri dan kedudukan di masyarakat,” pungkasnya.