Solution For: Dokter Peringatkan Anak Ngorok saat Tidur, Tanda Gangguan Pernapasan Berbahaya
Dokter Peringatkan Anak Ngorok Saat Tidur, Tanda Gangguan Pernapasan Berbahaya
Solution For – JAKARTA – Kebiasaan anak mengorok di malam hari kerap dianggap sebagai hal wajar, bahkan bisa disebut sebagai bagian dari pertumbuhan. Namun, para dokter menegaskan bahwa kebiasaan ini justru bisa menjadi pertanda masalah kesehatan serius jika terjadi secara berulang, terutama pada anak yang memiliki berat badan berlebih. Gangguan pernapasan yang terjadi pada masa tidur bisa memengaruhi kesehatan fisik serta kemampuan kognitif anak, yang berdampak pada prestasi belajar mereka.
Penyebab dan Dampak Gangguan Pernapasan pada Anak
Profesor dr Rini Sekartini, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, mengingatkan bahwa asumsi bahwa anak gemuk pasti sehat tidak selalu benar. Menurutnya, kelebihan berat badan pada anak bisa memicu berbagai komplikasi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun panjang. “Anak yang memiliki berat badan berlebih tidak otomatis berarti sehat secara menyeluruh,” ujar Prof Rini dalam acara Acekid, Minggu (7/6/2026). Ia menjelaskan bahwa masalah kesehatan seperti gangguan tidur sering kali terjadi pada anak dengan kondisi obesitas.
“Tidak selalu anak yang gemuk atau anak dengan gizi lebih itu sehat,” kata Prof Rini.
Salah satu gangguan yang sering terjadi adalah Obstructive Sleep Apnea (OSAS), kondisi di mana saluran pernapasan mengalami penyumbatan selama tidur. Akibatnya, pasokan oksigen ke organ tubuh, termasuk otak, menjadi terbatas. Hal ini tidak hanya mengurangi kualitas tidur anak, tetapi juga memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan belajar mereka. Selain itu, OSAS bisa menyebabkan kelelahan berlebihan, gangguan emosi, atau bahkan risiko komplikasi jantung.
OSAS: Kondisi yang Perlu Diwaspadai
Menurut Prof Rini, OSAS adalah gangguan pernapasan yang memicu kekurangan oksigen selama tidur. Kondisi ini bisa berakibat pada perubahan pola tidur, seperti terbangun berulang kali atau mengalami kelelahan di pagi hari. Dalam jangka panjang, gangguan tidur yang tidak diatasi bisa mengurangi kemampuan anak dalam berpikir, fokus, dan mengingat materi pelajaran. “Kalau tidak ditangani, anak bisa mengalami gangguan belajar di kemudian hari,” tambahnya.
OSAS juga berpotensi memperburuk kondisi kesehatan secara umum. Kekurangan oksigen yang terjadi selama tidur dapat memengaruhi pertumbuhan tulang dan otak, serta meningkatkan risiko terkena penyakit jantung atau tekanan darah tinggi di masa depan. Anak yang mengalami gangguan pernapasan ini sering kali mengalami kelelahan, kesulitan bermain, atau bahkan disiplin tidur yang buruk.
Dampak Obesitas pada Sistem Kekebalan Tubuh
Selain masalah pernapasan, obesitas pada anak juga berdampak pada sistem kekebalan tubuh. Banyak orang percaya bahwa anak dengan berat badan berlebih memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik, tetapi Prof Rini menyangkal asumsi ini. “Status imunitas sangat bergantung pada gizi anak. Anak obesitas bukan berarti imunnya lebih kuat,” jelasnya.
“Imunitas tubuh sangat dipengaruhi oleh status gizi. Anak yang obesitas bukan berarti status imunnya lebih baik,” katanya.
Prof Rini menekankan bahwa nutrisi seimbang dan aktivitas fisik rutin adalah kunci untuk menjaga kesehatan anak secara optimal. Kebiasaan makan berlebihan atau kurangnya olahraga bisa memicu peningkatan risiko penyakit seperti diabetes melitus atau hipertensi, yang sering muncul di usia remaja atau dewasa. Dengan pola hidup sehat, sistem kekebalan tubuh anak dapat berfungsi secara baik, dan kondisi obesitas bisa dikurangi secara signifikan.
Langkah Pencegahan untuk Membentuk Kesehatan Anak
Prof Rini menyarankan bahwa pencegahan obesitas sejak dini sangat penting untuk mencegah berbagai komplikasi kesehatan. Ia menekankan bahwa kebiasaan makan dan aktivitas fisik harus dipantau secara rutin, terutama pada anak-anak yang berisiko tinggi seperti yang memiliki riwayat keluarga obesitas. Selain itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda awal gangguan pernapasan, seperti mengorok terus-menerus atau terbangun tengah malam tanpa alasan jelas.
Mengingat pengaruh obesitas pada masa kecil dapat berdampak hingga dewasa, Prof Rini menyarankan bahwa anak-anak harus diberikan makanan bergizi, seperti buah, sayuran, dan protein tanpa lemak. Aktivitas fisik, seperti bermain di luar rumah atau olahraga teratur, juga diperlukan untuk menjaga berat badan ideal. “Pola hidup sehat saat ini akan mengurangi risiko penyakit kronis di masa depan,” tegasnya.
Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus atau hipertensi bisa muncul lebih dini pada anak yang mengalami obesitas. Dalam kasus OSAS, gangguan pernapasan bisa memicu kondisi seperti kenaikan tekanan darah atau kesulitan bernapas, yang berpotensi menjadi penyakit kronis jika tidak diperhatikan. Oleh karena itu, kepedulian orang tua terhadap kebiasaan tidur dan pola makan anak sangat penting.
Dengan memahami tanda-tanda awal dari gangguan pernapasan dan kelebihan berat badan, orang tua dapat mengambil langkah tepat sejak dini. Proses pencegahan tidak hanya mengurangi risiko penyakit jantung atau diabetes, tetapi juga membantu anak tumbuh secara sehat dan aktif. Selain itu, kesehatan mental anak juga bisa dipertahankan, karena kurangnya kualitas tidur sering kali terkait dengan peningkatan stres atau kecemasan.
Kesadaran akan pentingnya gizi dan aktivitas fisik menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan anak secara menyeluruh. Dengan menyesuaikan menu makanan dan memastikan waktu istirahat cukup, orang tua dapat mencegah berbagai masalah kesehatan yang mungkin muncul di masa depan. Kesehatan anak bukan hanya soal penampilan fisik, tetapi juga sistem pernapasan, kekebalan, dan kemampuan k
