Topics Covered: Mendukbangga kunjungi masyarakat adat Baduy untuk edukasi tentang KB

Mendukbangga Kunjungi Masyarakat Adat Baduy untuk Edukasi KB

Topics Covered – Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) serta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji melakukan kunjungan ke masyarakat adat Baduy di Banten. Tujuan utamanya adalah memberikan edukasi mengenai Program Keluarga Berencana (KB) kepada kelompok masyarakat yang terkenal dengan kehidupan berbasis tradisi dan budaya lokal. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menunjang tujuan nasional menuju Indonesia Emas 2045, yang bertujuan menciptakan generasi muda yang sehat, berkualitas, dan siap membangun bangsa.

Kemitraan dengan Ikatan Bidan Indonesia

Dalam peningkatan cakupan KB, Kemendukbangga/BKKBN terus berupaya memperluas akses layanan kesehatan reproduksi kepada berbagai kalangan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah kerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk memberikan pelayanan kontrasepsi yang optimal. Kemitraan ini dimaksudkan agar para bidan dapat berperan aktif dalam membantu masyarakat adat, terutama dalam menyesuaikan metode KB dengan kebutuhan dan kepercayaan mereka.

“Pendekatan secara adat dalam kegiatan ‘Sapa Budaya’ untuk mengedukasi masyarakat tentang KB ini terus kami lakukan agar kita lebih mengetahui kebutuhan masyarakat seperti apa,” kata Wihaji pada Kamis.

Kunjungan Wihaji ke Baduy bukan hanya sekadar edukasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang dimiliki masyarakat setempat. Dalam pertemuan tersebut, ia menyampaikan bahwa program KB harus disampaikan dengan cara yang sesuai dengan konteks sosial dan budaya masyarakat, agar lebih efektif dalam mencapai kesadaran akan pentingnya pengaturan keluarga.

Penyuluhan KB Berbasis Budaya Lokal

Pada kesempatan yang sama, Wihaji mengunjungi Desa Kanekes, Lebak, Banten, untuk melihat langsung penerapan edukasi KB yang dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga serta para bidan. Edukasi ini disampaikan dalam Bahasa Sunda, yang menjadi alat komunikasi utama masyarakat adat Baduy. Pendekatan oleh pihak lokal, terutama bidan yang lebih paham kondisi medan, dianggap penting dalam menciptakan pemahaman yang lebih dalam mengenai program KB.

“Saya akan berdialog langsung dengan masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam untuk memahami kebutuhan mereka,” ujar dia.

Dalam prosesnya, Wihaji menekankan bahwa program KB harus tidak hanya menjadi kebijakan pemerintah, tetapi juga bagian dari kesadaran masyarakat. Ia menyoroti pentingnya partisipasi aktif masyarakat adat dalam mengambil keputusan mengenai jumlah anak, sehingga kebijakan tidak terasa mengganggu kebiasaan mereka. “Saya ingin memastikan bahwa masyarakat Baduy merasa nyaman dengan layanan KB yang diberikan,” tambahnya.

Program KB Pria sebagai Langkah Kesetaraan Gender

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan gender, Kemendukbangga/BKKBN rutin melaksanakan program KB pria atau vasektomi setiap tahun. Hal ini diharapkan dapat mengurangi beban pengaturan keluarga hanya pada wanita, sekaligus meningkatkan kesadaran mengenai tanggung jawab bersama dalam membangun keluarga yang harmonis. “Pemerintah tetap menjalankan program tersebut setiap tahun,” jelas Wihaji.

Syarat yang diberlakukan dalam program vasektomi cukup ketat, yaitu usia minimal 35 tahun, memiliki minimal dua anak, serta dalam kondisi kesehatan yang baik. Syarat ini diterapkan untuk mencegah penggunaan KB pria yang tidak tepat waktu, seperti dilakukan oleh individu yang belum memenuhi kriteria.

“Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan,” tuturnya.

Kunjungan Wihaji ke Desa Kanekes juga menjadi momen penting untuk mengukur tingkat keberhasilan program KB dalam konteks budaya. Ia menyoroti bahwa penggunaan Bahasa Sunda dalam penyampaian edukasi tidak hanya memudahkan pemahaman masyarakat, tetapi juga mencerminkan upaya pemerintah untuk mendekatkan diri dengan kearifan lokal. “Dengan pendekatan seperti ini, masyarakat adat lebih mudah menerima pesan KB,” kata Wihaji.

Perluasan Cakupan KB dalam Perspektif Nasional

Program KB yang diluncurkan secara serentak nasional, dengan titik awal di Lebak, mengandung makna khusus dalam rangka memperingati ulang tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Momen ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menegaskan komitmen pemerintah dalam mendorong perluasan akses layanan kontrasepsi ke seluruh penjuru Indonesia, termasuk komunitas adat yang sering dianggap bersifat terpisah dari sistem pemerintahan.

Wihaji menegaskan bahwa KB adalah kebutuhan yang harus diakses oleh semua kalangan, termasuk masyarakat adat. “Kami tidak hanya menargetkan warga kota, tetapi juga masyarakat yang hidup di daerah terpencil,” tuturnya. Kehadiran tim pendamping dan bidan di Desa Kanekes, menurutnya, membuktikan bahwa pemerintah siap memperluas jaringan pelayanan KB ke berbagai wilayah, tanpa mengabaikan keunikan budaya masyarakat setempat.

Dalam wawancara dengan masyarakat Baduy Luar dan Baduy Dalam, Wihaji juga menjelaskan bahwa program KB merupakan bagian dari perencanaan pembangunan nasional. Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif warga, serta kesadaran bahwa pengaturan keluarga adalah bentuk investasi untuk masa depan bangsa.

Penyesuaian metode edukasi KB dengan kebudayaan Baduy, seperti menggunakan bahasa lokal dan menggali kebutuhan masyarakat secara langsung, diharapkan dapat memperkuat kepercayaan terhadap layanan KB. Selain itu, kunjungan ini juga menjadi contoh bagaimana pemerintah menunjukkan komitmen untuk memperhatikan segala aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam pengelolaan populasi yang menjadi fokus utama program tersebut.

Lebih lanjut, Wihaji menegaskan bahwa program KB harus terus dikembangkan secara berkelanjutan. “Kami ingin memastikan bahwa layanan KB tidak hanya tersedia, tetapi juga diterima secara luas oleh masyarakat,” kata dia. Hal ini menjadi tantangan utama, terutama di wilayah dengan kebiasaan kehidupan yang berbeda dari pola hidup modern. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan kolaborasi dengan organisasi lokal, keberhasilan program KB dapat tercapai secara maksimal.