Key Discussion: Komisi XI DPR RI minta Kalsel percepat hilirisasi industri

Komisi XI DPR RI Berharap Kalsel Percepat Hilirisasi Industri

Key Discussion – Di Banjarmasin, Komisi XI DPR RI mengingatkan Pemerintah Kalimantan Selatan agar mempercepat proses hilirisasi industri sebagai upaya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi H. Amro, menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam daerah secara lebih efektif. “Potensi sumber daya alam yang ada di Kalsel begitu besar dan harus dimanfaatkan secara optimal melalui hilirisasi industri,” ujarnya dalam pertemuan dengan Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin, di Gedung Mahligai Pancasila, Kamis lalu. Menurut Fauzi, hilirisasi akan menciptakan nilai tambah bagi produk lokal, sehingga mampu meningkatkan PAD secara signifikan.

Kebijakan yang Dibutuhkan untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Fauzi juga mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan yang mencapai 5,67 persen, melebihi rata-rata nasional. “Kinerja ekonomi Kalsel sangat baik, terutama didukung oleh sektor pertambangan, perkebunan, dan perdagangan,” katanya. Ia menambahkan, hilirisasi bisa menjadi faktor penting dalam memperkuat ekonomi daerah, terlebih dengan kontribusi sektor pertambangan yang mencapai 26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. “Dengan mengubah bahan mentah menjadi produk yang lebih bernilai, Kalsel bisa menjadi daerah yang unggul dalam pendapatan asli,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Fauzi menyoroti peran hilirisasi dalam mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. “Bukan hanya bahan mentah yang dikirim ke pusat, tetapi hasil olahan bisa menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil untuk provinsi,” tegasnya. Ia menilai, dengan hilirisasi, Kalsel tidak hanya memperkuat perekonomian lokal tetapi juga mengurangi risiko kenaikan harga global yang bisa mengganggu pendapatan.

Peluang dan Tantangan dalam Hilirisasi Industri

Menurut Fauzi, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8,1 persen, Kalsel perlu mengejar beberapa kebijakan strategis. “Dukungan dari pemerintah pusat sangat penting dalam mempercepat hilirisasi,” katanya. Ia menyebutkan, selain pengembangan industri, daerah tersebut juga harus memperhatikan optimalisasi penggunaan anggaran dan peningkatan sektor pariwisata. “Potensi pariwisata Kalimantan Selatan terutama berbasis sungai harus digarap lebih serius,” tambah Fauzi.

Kalimantan Selatan memiliki sejumlah sungai besar yang bisa dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata. “Sungai-sungai yang luas dan alami di Kalsel bisa menjadi nilai unik yang mendorong pengembangan sektor pariwisata,” jelasnya. Ia menilai, keberhasilan hilirisasi tidak terlepas dari peran pariwisata dalam menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi daerah. Selain itu, Fauzi mengingatkan bahwa sektor perkebunan, seperti kelapa sawit dan karet, juga perlu dikembangkan lebih lanjut.

Langkah Pemerintah Daerah dalam Mewujudkan Hilirisasi

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Ariadi Noor, yang mewakili Gubernur Kalsel, menyambut baik perhatian Komisi XI DPR RI terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. “Kita sangat menghargai upaya anggota DPR yang ingin membantu pengembangan Kalsel melalui hilirisasi industri,” ujarnya. Ariadi menegaskan bahwa Pemprov Kalsel membutuhkan dukungan dari pemerintah pusat untuk mengembangkan empat kawasan industri strategis (KIK), yaitu KIK Seradang di Kabupaten Tabalong, KIK Mantuil di Kota Banjarmasin, KIK di Kabupaten Tapin, dan KIK Jorong di Kabupaten Tanah Laut.

Kawasan industri ini diharapkan menjadi pusat pengolahan bahan mentah yang bisa meningkatkan daya saing Kalsel. “KIK akan menjadi motor penggerak dalam transformasi ekonomi daerah,” kata Ariadi. Ia menjelaskan, investasi hingga 250 triliun rupiah diperlukan untuk mempercepat proses hilirisasi dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. “Regulasi dari pemerintah pusat sangat berpengaruh dalam menjamin keberhasilan proyek ini,” imbuhnya.

Dalam diskusi, Fauzi H. Amro menyoroti bahwa hilirisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga pada kebijakan yang tepat. “Kita perlu merancang kebijakan yang bisa mendorong industri lokal untuk berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam. “Selain itu, peningkatan infrastruktur dan ketersediaan tenaga ahli juga menjadi faktor kunci,” tambah Fauzi.

Kawasan industri strategis (KIK) di Kalimantan Selatan, kata Ariadi, diharapkan mampu mendorong pengolahan bahan baku secara lokal. “KIK Seradang, Mantuil, Tapin, dan Jorong akan menjadi tempat yang cocok untuk mengembangkan industri seperti pertambangan dan perkebunan,” jelasnya. Ia juga menyebutkan, pengembangan KIK akan memberikan dampak positif pada sektor riil daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. “Dengan hilirisasi, Kalsel bisa menjadi contoh daerah yang sukses mengubah potensi alam menjadi keuntungan ekonomi,” pungkas Ariadi.

Potensi Pariwisata dan Strategi Pengembangan

Fauzi H. Amro menambahkan, sektor pariwisata juga perlu dimaksimalkan sebagai alternatif pendapatan daerah. “Kalimantan Selatan memiliki potensi wisata alam yang luar biasa, terutama dari sumber daya air yang melimpah,” katanya. Ia menyarankan pengembangan wisata berbasis sungai, seperti rafting, perahu tradisional, dan wisata alam lainnya, agar bisa menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri. “Wisata sungai bisa menjadi daya tarik unik yang mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.

Ariadi Noor menyambut baik rencana pengembangan pariwisata tersebut. “Kita harus memanfaatkan kekayaan alam Kalsel untuk mendorong sektor pariwisata yang lebih berkualitas,” katanya. Ia menilai, dengan menggabungkan hilirisasi industri dan pariwisata, Kalimantan Selatan bisa memperkuat ekonominya secara lebih komprehensif. “Kedua sektor ini saling melengkapi dan mendorong pertumbuhan yang lebih seimbang,” tambah Ariadi.

Komisi XI DPR RI juga menyarankan peningkatan kualitas SDM di daerah tersebut untuk mendukung hilirisasi. “Tenaga kerja yang terlatih akan menjadi kunci keberhasilan transformasi industri,” ujarnya. Fauzi menekankan perlunya pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang relevan. “Dengan sumber daya manusia yang terampil, industri lokal bisa berkembang lebih cepat,” jelasnya. Selain itu, ia menyor