Important Visit: Awak kapal MV Hondius akan jalani karantina hantavirus di Rotterdam

Awak Kapal MV Hondius Jalani Karantina Hantavirus di Rotterdam

Important Visit – Kapal pesiar MV Hondius yang terkena hantavirus akan menjalani proses karantina selama enam minggu di Pelabuhan Rotterdam, Belanda, setelah tiba di sana. Pemerintah Belanda, Jumat (15/5), secara resmi mengumumkan rencana ini, dengan menyebut Rotterdam sebagai tempat penanganan penyakit menular selama pelayaran. Kapal tersebut diperkirakan akan berlabuh di Rotterdam pada Senin depan (18/5), menurut pengumuman yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Kesejahteraan, dan Olahraga Sophie Hermans serta Menteri Luar Negeri Tom Berendsen.

Pemerintah Belanda Menetapkan Pelabuhan untuk Penanganan Penyakit Menular

Dalam surat yang dikirim ke parlemen pada Jumat, para menteri menjelaskan bahwa Rotterdam dipilih sebagai pelabuhan utama untuk memastikan penanganan hantavirus berjalan efektif. Surat tersebut menegaskan bahwa pihak berwenang telah menetapkan protokol khusus untuk mengurangi risiko penyebaran virus selama pelayaran. Dalam surat itu juga dijelaskan bahwa langkah-langkah ini didasari kekhawatiran akan kemungkinan penularan di antara anggota kru yang terinfeksi, serta kebutuhan untuk menjaga kesehatan masyarakat secara global.

“Rotterdam telah ditetapkan sebagai pusat pengelolaan penyakit menular dalam konteks pelayaran,” tulis menteri dalam surat tersebut.

Menurut Oceanwide Expeditions, perusahaan yang mengoperasikan kapal MV Hondius, saat ini terdapat 27 orang di atas kapal, terdiri dari 25 awak kapal dan dua staf kesehatan. Dari jumlah tersebut, 17 orang berasal dari Filipina, sedangkan sisanya adalah warga Belanda, Ukraina, Rusia, dan Polandia. Pemerintah Belanda menyatakan bahwa keputusan karantina diperlukan karena adanya risiko penularan hantavirus di tengah perjalanan kapal yang membawa para awak dari berbagai negara.

Rincian Awak Kapal dan Rekomendasi RIVM

Pemerintah Belanda mengungkapkan bahwa sebagian besar dari para awak kapal akan menjalani karantina mandiri di rumah setelah tiba di Rotterdam, sementara sejumlah anggota kru yang tidak bisa kembali ke negara asal akan ditempatkan di fasilitas karantina khusus. Terkait dengan 17 warga Filipina, Institut Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Nasional (RIVM) merekomendasikan agar mereka tetap berada di Belanda selama enam pekan.

“Rekomendasi ini diberikan karena terbatasnya kemampuan untuk menerapkan karantina secara wajib di negara asal mereka, serta akses yang kurang optimal ke layanan medis di sana,” jelas RIVM dalam surat yang disampaikan.

Lebih lanjut, lembaga tersebut menjelaskan bahwa rekomendasi ini didasari pertimbangan dua aspek utama: pertama, kapasitas negara asal untuk menjalankan protokol karantina, dan kedua, keselamatan kesehatan para awak yang terpapar virus. Dalam suratnya, RIVM juga menyebutkan bahwa keputusan tersebut dibuat setelah konsultasi intensif dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta berdasarkan pedoman resmi yang dikeluarkan lembaga tersebut.

Proses pembersihan kapal MV Hondius akan dilakukan oleh perusahaan spesialis dari luar pihak eksternal, dengan mengikuti pedoman yang diterbitkan RIVM. Pembersihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua area kapal bebas dari virus hantavirus, termasuk area yang sering disentuh anggota kru selama menjalani pelayaran. Kerja sama erat akan dilakukan dengan layanan kesehatan Kota Rotterdam, sehingga memastikan setiap langkah pembersihan sesuai dengan standar yang ketat.

Kapal MV Hondius, yang berlayar dari sejumlah negara, sebelumnya diketahui mengalami penularan hantavirus selama perjalanan ke Belanda. Penyakit ini, yang termasuk dalam keluarga virus hantavirus, dapat menyebar melalui udara atau kontak langsung dengan partikel virus yang terbawa dari hewan pembawa, seperti tikus. Gejala yang mungkin muncul antara lain demam, sakit kepala, batuk, dan sakit perut, dengan risiko komplikasi yang serius jika tidak segera diatasi.

Dalam menjalani karantina, para awak kapal diberi instruksi untuk menjaga kebersihan diri, memakai masker, dan menghindari kontak dekat dengan orang lain. Tindakan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko penyebaran virus di tengah masyarakat lokal. Selain itu, para petugas pembersih yang terlibat dalam kegiatan ini juga diberikan perlindungan tambahan, seperti alat pelindung diri (APD) dan jadwal kerja yang teratur, agar tidak perlu menjalani karantina setelah menyelesaikan tugasnya.

Langkah Pemulihan dan Kolaborasi dengan WHO

Proses karantina di Rotterdam akan diawasi secara ketat oleh tim kesehatan setempat, dengan bantuan dari RIVM dan organisasi internasional seperti WHO. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Belanda untuk mengendalikan wabah hantavirus di tengah situasi global yang dinamis. Dengan mengimplementasikan protokol WHO, pihak berwenang berharap dapat mencegah penyebaran penyakit lebih luas.

Dalam surat yang ditujukan kepada publik, RIVM juga menyebutkan bahwa keputusan karantina di Rotterdam dibuat setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kesehatan di negara asal para awak. Hal ini dilakukan karena beberapa negara tidak memiliki sistem karantina yang memadai, atau akses ke fasilitas medis yang optimal. Karantina selama enam pekan dianggap sebagai jalan terbaik untuk memastikan keberhasilan pengendalian virus.

“Alasan utama kami adalah agar meminimalkan risiko terhadap masyarakat lokal dan global, serta menjaga kesehatan para awak yang terpapar virus,” tulis RIVM dalam suratnya.

Proses pembersihan kapal yang akan dilakukan selama karantina juga menjadi prioritas utama. Perusahaan spesialis yang ditugaskan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap area kapal, termasuk kamar tidur, ruang makan, dan fasilitas umum. Selain itu, pembersihan juga mencakup penghapusan partikel virus dari permukaan dan lingkungan kapal, untuk mencegah kontak berkelanjutan dengan anggota kru.

Para menteri menyatakan bahwa tindakan karantina ini tidak hanya berdampak pada para awak kapal, tetapi juga berpengaruh terhadap pembangunan kerja sama antar-negara dalam menghadapi pandemi. Pemerintah Belanda berharap dengan menetapkan Rotterdam sebagai pusat penanganan, mereka dapat menjadi contoh terbaik dalam upaya pengendalian virus di tengah perjalanan laut yang terus berlangsung. Langkah ini juga memberikan ruang bagi pihak asing untuk memperkuat sistem kesehatan di negara masing-masing.

Kapal MV Hondius sendiri merupakan bagian dari armada Oceanwide Expeditions, yang selama ini dikenal sebagai penggerak pariwisata laut di Eropa. Pelayaran