New Policy: PTPP catat progres Bendungan Bagong 59,49 persen saat tinjauan Wapres
PTPP Catat Progres Bendungan Bagong 59,49 Persen Saat Tinjauan Wapres
New Policy – Di Jakarta, perusahaan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) mengungkapkan perkembangan pembangunan Bendungan Bagong Paket III di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang telah mencapai 59,49 persen saat kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres) Gibran Rakabuming Raka. Angka ini menunjukkan kemajuan lebih cepat dibandingkan target awal sebesar 56,56 persen. Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo, menjelaskan bahwa capaian tersebut diraih melalui perencanaan matang, inovasi teknis, serta kerja sama yang harmonis antar berbagai pihak terkait dalam pelaksanaan proyek.
Kunjungan Wapres Gibran pada 30 April 2026 menjadi momen penting untuk meninjau langsung kondisi konstruksi bendungan. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyoroti perlunya percepatan penyelesaian proyek agar manfaat yang diharapkan dapat segera dirasakan oleh masyarakat, khususnya petani dan warga setempat. Hal ini sejalan dengan tujuan utama proyek yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan air serta produktivitas sektor pertanian.
Manfaat dan Kapasitas Bendungan
Bendungan Bagong Paket III, yang dikerjakan oleh PTPP, memiliki kapasitas penampungan air mencapai 17,4 juta meter kubik. Infrastruktur ini diharapkan bisa menyuplai air irigasi bagi sekitar 977 hektare lahan pertanian dalam sistem Daerah Irigasi Bagong. Selain itu, proyek juga akan memberikan pasokan air baku sebesar 153 liter per detik, serta berperan dalam mengendalikan banjir di wilayah Kabupaten Trenggalek. Joko Raharjo menekankan bahwa progres yang dicapai menjadi bukti komitmen PTPP untuk menyelesaikan proyek tepat waktu, sekaligus menjaga kualitas dan keselamatan pekerjaan.
“PTPP berkomitmen untuk menyelesaikan proyek Bendungan Bagong tepat waktu dengan tetap mengedepankan kualitas, keselamatan kerja, dan keberlanjutan,” ujar Joko Raharjo, berdasarkan keterangan resmi dari Jakarta, Sabtu.
Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp402,31 miliar dengan masa pelaksanaan selama 1.473 hari kalender, dimulai dari 20 Desember 2024. Dalam perjalanan pengerjaan, PTPP menghadapi beberapa tantangan teknis, terutama karena konstruksi bendungan berdiri di atas lapisan koluvial yang memerlukan rekayasa khusus untuk memastikan stabilitas dan keamanan struktur. Meski demikian, perusahaan terus mengembangkan metode inovatif guna mempercepat pekerjaan sekaligus mempertahankan standar keselamatan yang ketat.
Kunjungan Wapres Gibran tidak hanya meninjau progres fisik proyek, tetapi juga menjadi ajang untuk menilai kinerja tim yang terlibat. Selama inspeksi, beliau memberikan apresiasi atas upaya para pekerja serta menyampaikan semangat untuk terus berupaya memenuhi target. “Semangat terus,” pesan Gibran, yang dianggap sebagai motivasi kuat bagi semua pihak yang terlibat.
Kolaborasi dan Sinergi Pembangunan
Wapres Gibran Rakabuming Raka juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kelancaran pelaksanaan proyek. Kehadiran beliau bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, Wakil Bupati Trenggalek Syah Muhammad Natanegara, serta sejumlah pejabat terkait menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong penyelesaian infrastruktur penting tersebut.
Menurut Joko Raharjo, progres yang dicapai berkat kolaborasi intensif antara PTPP dengan berbagai stakeholder. Proyek ini menjadi contoh bagaimana integrasi perencanaan, teknologi, dan kerja sama lintas sektor dapat menghasilkan penyelesaian yang lebih cepat dari jadwal awal. Meski tantangan teknis terus dihadapi, inovasi yang diterapkan berhasil mengurangi hambatan, menjaga kualitas, dan mengoptimalkan efisiensi waktu.
Peran Bendungan dalam Pengelolaan Air
Kemampuan bendungan untuk mengendalikan banjir dan meningkatkan akses air bersih menjadi fokus utama pengembangan. Lokasi Bendungan Bagong berada di daerah yang rentan banjir, sehingga proyek ini diharapkan mampu mengurangi risiko bencana alam serta memastikan kestabilan lingkungan hidup. Dengan kapasitas 17,4 juta meter kubik, bendungan dapat menampung air hujan saat musim kemarau dan mengalirkannya ke area pertanian yang membutuhkan.
PTPP menyatakan bahwa proyek ini adalah bagian dari upaya nasional dalam pembangunan infrastruktur air. Selain itu, kontribusi proyek ini terhadap peningkatan produksi pertanian juga menjadi penekanan utama. Dengan menyuplai air irigasi ke 977 hektare lahan, bendungan diharapkan meningkatkan hasil panen petani, menurunkan biaya produksi, serta memperkuat ketahanan pangan di daerah tersebut.
Kepala proyek juga menjelaskan bahwa keselamatan kerja menjadi prioritas utama selama pengerjaan. Di tengah tantangan teknis, PTPP terus mengawasi standar keselamatan dan kesehatan para pekerja, memastikan tidak ada insiden serius yang terjadi. Ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk menciptakan proyek yang berkelanjutan, baik secara lingkungan maupun sosial.
Waktu dan Tantangan Proyek
Proyek Bendungan Bagong Paket III yang memiliki durasi pengerjaan selama 1.473 hari kalender diharapkan selesai tepat waktu. Joko Raharjo mengungkapkan bahwa meski ada tantangan, progres yang telah dicapai menunjukkan keberhasilan manajemen waktu dan sumber daya. Proyek ini juga menjadi bagian dari rangkaian pembangunan air di Jawa Timur, yang dianggap sangat strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam tinjauannya, Wapres Gibran memberikan masukan penting terkait koordinasi lebih lanjut antar institusi. Ia menekankan bahwa peran pemerintah daerah dalam memastikan komunikasi dan dukungan logistik sangat berpengaruh pada keberhasilan proyek. Hal ini menjadi rekomendasi bagi semua pihak untuk terus berkolaborasi, memastikan bahwa Bendungan Bagong dapat beroperasi sebagaimana rencana.
Selain manfaat bagi pertanian, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak positif dalam sektor lain, seperti pariwisata dan energi. Lokasi bendungan yang strategis bisa menjadi titik referensi untuk pengembangan daerah sekitar, termasuk memperbaiki sistem transportasi air dan mempermudah akses ke sumber daya alam. Joko Raharjo menyebut bahwa kontribusi PTPP tidak hanya dalam konstruksi, tetapi juga dalam penguatan manajemen proyek secara keseluruhan.
