Visit Agenda: Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran Akhirnya Minta Maaf
Bintang Film Rahadian Beri Maaf Usai Mengenakan Kebaya dalam Kirab Malam 1 Suro
Visit Agenda – Jakarta, iNews.id — Aktor ternama Rahadian M Saputra akhirnya memberikan pernyataan resmi setelah terlibat dalam kontroversi karena memakai kebaya wanita saat mengikuti Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo. Pernyataan tersebut disampaikan melalui video yang diunggah di akun Instagram miliknya, Jumat (19/6/2026). Dalam video itu, Rahadian mengakui kesalahan dan menegaskan tanggung jawab penuh atas tindakannya, yang sempat memicu perdebatan luas di masyarakat dan kalangan budayawan.
Pernyataan Rahadian M Saputra
Dalam video klarifikasi yang ia bagikan, Rahadian menjelaskan bahwa keputusan memakai kebaya hitam lengkap dengan sanggul dalam acara tradisional tersebut adalah pilihan pribadinya. “Saya Rahadian M Saputra. Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu,” katanya, dikutip Jumat (19/6/2026).
“Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak saya sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya,” tegasnya.
Rahadian menegaskan bahwa ia sadar bahwa tindakannya tidak sesuai dengan aturan adat dan nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi dalam prosesi Kirab Malam 1 Suro.
Menurutnya, kesadaran akan kesalahan tersebut muncul setelah ia menyadari bahwa pemakaian kebaya tidak hanya melanggar norma adat, tetapi juga memicu kekacauan dalam interpretasi tradisi. “Saya menyadari tindakan saya tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman dan penghormatan terhadap nilai, adat, dan budaya. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa, dan masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan saya,” tambahnya dalam video.
Proses Kirab Malam 1 Suro
Kirab Malam 1 Suro adalah bagian dari upacara adat yang dilakukan untuk menyambut Tahun Baru Jawa. Acara ini berlangsung di Pura Mangkunegaran, sebuah tempat ibadah dan pusat budaya yang memiliki sejarah panjang di Solo. Pemakaian kebaya dalam prosesi ini biasanya dilakukan oleh peserta perempuan, sementara laki-laki diharapkan mengenakan pakaian tradisional yang sesuai dengan pakem.
Rahadian mengungkapkan bahwa ia sempat mengira bahwa kebaya bisa menjadi bagian dari busana yang diperbolehkan dalam acara tersebut. Namun, setelah menerima banyak kritik, ia merasa perlu memperbaiki kesalahan tersebut. “Beberapa waktu terakhir ini saya meluangkan waktu untuk refleksi diri, mendengarkan masukan, dan juga memahami perspektif yang diberikan masyarakat. Kritik dan saran yang diberikan akan saya jadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut Rahadian, keputusan memakai kebaya dalam Kirab Malam 1 Suro bukanlah niat untuk melanggar tradisi, tetapi lebih pada keinginan menciptakan kesan estetika tertentu. Ia juga menyatakan bahwa proses refleksi tersebut membantunya memahami konteks budaya yang lebih dalam. “Saya berjanji untuk tidak melakukan dan mengulangi hal ini lagi,” lanjutnya.
Kontroversi dan Reaksi Masyarakat
Kontroversi ini memicu reaksi beragam dari masyarakat. Sebagian menganggap tindakan Rahadian sebagai bentuk penyelewengan adat, sementara yang lain melihatnya sebagai ekspresi kreatif yang inovatif. Namun, seiring berjalannya waktu, kritik yang muncul terutama dari kalangan pemerhati budaya Jawa mulai berubah menjadi dukungan untuk langkah korreksi yang ia ambil.
Rahadian juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah memberikan kesempatan untuk belajar dari kesalahan tersebut. “Sekali lagi, saya mohon maaf kepada seluruh keluarga besar Mangkunegaran dan seluruh masyarakat yang pernah terluka atas tindakan saya ini. Saya juga ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengingatkan dan memberikan saya kesempatan untuk belajar dari kesalahan ini,” tuturnya.
Sebelumnya, Rahadian menjadi perbincangan publik setelah foto-fotonya saat mengikuti Kirab Malam 1 Suro viral di media sosial. Dalam acara tersebut, ia terlihat mengenakan kebaya hitam dan sanggul, yang umumnya menjadi busana peserta perempuan. Pemakaian pakaian tersebut memicu perdebatan tentang kesesuaian dengan aturan adat.
Menurut budayawan setempat, kebaya dalam Kirab Malam 1 Suro adalah bagian dari ritual yang memiliki makna simbolis. “Pakaian tradisional dalam upacara adat memiliki fungsi untuk menunjukkan kehormatan terhadap kesakralan tradisi. Ketika seseorang melanggarnya, hal itu bisa dianggap sebagai tanda kurangnya kesadaran akan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat,” kata salah satu ahli budaya.
Dalam refleksinya, Rahadian menjelaskan bahwa ia berusaha memahami seluruh aspek budaya dalam prosesi Kirab Malam 1 Suro. Ia mengakui bahwa kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang aturan adat yang diterapkan dalam acara tersebut. “Saya berharap pengalaman ini menjadi pelajaran bagi diri saya sendiri, serta bisa menjadi bahan pertimbangan bagi orang lain dalam menjaga kesesuaian dengan tradisi,” imbuhnya.
Konteks Budaya dalam Kirab Malam 1 Suro
