Latest Program: Abdul Hayat Gani, dari Birokrasi ke Politik yang Melayani

98ce6a42-7c21-4157-87f3-f774b72d0e9c-0

Abdul Hayat Gani, dari Birokrasi ke Politik yang Melayani

Latest Program – Di Sulawesi Selatan, Abdul Hayat Gani bukan lagi wajah asing. Selama bertahun-tahun, ia telah menorehkan jejaknya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di berbagai jabatan penting, baik di tingkat daerah maupun nasional. Dari pengalaman berkiprah dalam birokrasi, Hayat—sebutan akrabnya—mulai merasa bahwa keinginannya untuk berkontribusi lebih besar bagi masyarakat masih belum terpenuhi. Keputusan untuk berpindah ke dunia politik dianggapnya sebagai langkah yang diperlukan untuk menciptakan perubahan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Langkah itu diambil setelah ia melalui masa pilihan yang penuh makna. Menurut Hayat, birokrasi punya peran penting, tetapi masih terbatas dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat secara menyeluruh. “Saya percaya bahwa ruang perjuangan yang lebih luas diperlukan untuk mendorong keadilan dan kesejahteraan rakyat,” katanya dalam wawancara pada Senin (15/6/2026). Dengan keyakinan tersebut, ia memutuskan bergabung dengan Partai Perindo, yang menurutnya memiliki visi yang selaras dengan komitmen sosialnya.

“Kita harus memastikan bahwa setiap tindakan politik berakar pada kebutuhan masyarakat, bukan sekadar ambisi pribadi,” ujar Abdul Hayat Gani.

Kepemimpinan Hayat di Partai Perindo di Sulsel dirancang untuk memperkuat peran organisasi politik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Dalam pelantikan sebagai Ketua DPW Partai Perindo Sulsel pada 5 Februari lalu, ia menyatakan target yang jelas: menempatkan satu anggota DPRD di setiap kabupaten/kota, serta menargetkan 3-4 kursi di provinsi dan dua kursi di DPR RI. “Tujuan kami bukan hanya memperoleh suara, tetapi menciptakan fraksi yang bisa mengubah kebijakan untuk kebaikan bersama,” jelasnya.

Perjalanan Hayat ke politik bukanlah kejutan bagi banyak orang. Sejak dulu, ia dikenal sebagai sosok yang penuh dedikasi dan penuh perhatian. Ketika mengabdikan diri di birokrasi, ia selalu menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Prinsip itu konsisten ia pegang, bahkan di tengah kesibukan dan tugas-tugas yang menantang. “Jabatan tidak pernah jadi tujuan akhir, tapi sarana untuk memperjuangkan rakyat,” tambahnya.

Kepedulian Sosial yang Berkelanjutan

Sikapnya yang hangat terhadap sesama tidak hanya terlihat dalam kinerja di lingkungan kerja, tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Hayat menyisihkan waktu untuk menghubungi keluarga, terutama anak-anaknya, setiap hari. Meski jadwalnya padat, ia tetap memastikan komunikasi dengan mereka tetap terjalin. “Saya ingin mereka tahu bahwa saya peduli, meski sehari-hari harus berjuang untuk kepentingan orang lain,” katanya.

Dalam kesibukan, Hayat juga tetap menjaga kebiasaan sederhana yang mengingatkannya pada akar kehidupan. Pallu Mara, masakan ikan berkuah asam khas Sulsel, adalah favoritnya. Hidangan itu sering ia ingat sebagai kenangan tentang kampung halaman, tempat ia dibesarkan di Barru, 5 April 1965. Kebersederhanaan ini tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidupnya, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggapnya sebagai fondasi kekuatan sosial.

Pendidikan dan Pengalaman yang Membentuk Karakter

Perjalanan Hayat dari birokrasi ke politik didukung oleh latar belakang pendidikan yang solid. Setelah menyelesaikan SMA Negeri 1 Barru, ia melanjutkan studi di IKIP Ujung Pandang, kemudian meraih gelar magister di Universitas Gadjah Mada dan doktor dari Universitas Hasanuddin. Pendidikan tingkat tinggi ini memberinya wawasan yang luas, terutama dalam kepemimpinan dan pengelolaan kebijakan publik.

Di luar jalur akademik, Hayat juga mengikuti pelatihan kepemimpinan di Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jakarta. Dari tingkat IV hingga I, ia mengasah kemampuan manajerial dan komunikasinya. Pengalaman ini menjadi bekal dalam menghadapi tugas-tugas politik yang lebih kompleks. Kepuasan terbesar bagi Hayat adalah ketika kebijakan yang ia bantu dapat memberi manfaat nyata bagi rakyat.

Sebagai ASN, Hayat pernah menjabat Direktur Penanganan Fakir Miskin di Kementerian Sosial RI, Penjabat Wali Kota Parepare, dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel periode 2019-2022. Di setiap posisi, ia selalu mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Penghargaan Satyalancana Karya Satya yang diterimanya dari Presiden Republik Indonesia adalah bukti usaha selama bertahun-tahun, baik untuk masa 10, 20, maupun 30 tahun pengabdian.

“Jabatan hanyalah alat, tetapi tujuannya adalah memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” ucap Hayat.

Transisi dari birokrasi ke politik bagi Hayat bukan sekadar perubahan posisi, tetapi perpindahan paradigma. Ia ingin memastikan bahwa perjuangan politik tidak hanya tentang pemilihan, tetapi juga tentang implementasi kebijakan yang konkret. Dengan kepemimpinan yang penuh rasa tanggung jawab, Hayat percaya bahwa Partai Perindo bisa menjadi platform untuk menyuarakan aspirasi rakyat Sulsel kepada pemerintah pusat.

Komitmen untuk melayani masyarakat terus mengalir dalam setiap langkahnya. Hayat mengakui bahwa dunia politik membutuhkan disiplin yang ketat, seperti halnya dalam birokrasi. “Waktu adalah kekayaan yang paling berharga, jadi harus digunakan secara efektif,” jelasnya. Keberhasilan dalam mengelola agenda, baik di tingkat daerah maupun nasional, adalah bukti dari sikap ini.

Bagi Hayat, politik bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari perjuangan jangka panjang untuk keadilan. Perjalanan dari birokrasi hingga politik menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti mengejar tujuan melayani masyarakat. “Jabatan adalah alat, tetapi keinginan untuk berubah adalah motivasi terbesar,” tuturnya. Dengan visi dan misi yang konsisten, ia berharap bisa membangun Sulsel yang lebih baik, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.