What Happened During: Korban Penembakan di Kembru Papua Bertambah Jadi 12 Orang, 1 di Antaranya Anak-Anak
Korban Penembakan di Kembru Papua Bertambah Jadi 12 Orang, Termasuk Satu Anak
What Happened During – JAKARTA, Sebuah kejadian penembakan di Kampung Kembru, Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, yang terjadi pada 14 April 2026, kini telah mengakibatkan 12 korban jiwa. Informasi ini diungkapkan setelah Komnas HAM menerima kunjungan dari Panitia Khusus (Pansus) DPRK Puncak di Jakarta, Senin (8/6/2026). Saurlin P Siagian, salah satu komisioner Komnas HAM yang menangani pemantauan dan penyelidikan, menjelaskan bahwa kejadian tersebut menjadi sorotan karena dampaknya yang signifikan.
Tragedi yang Diakui sebagai Peristiwa Berdarah
Dalam wawancara, Saurlin menyatakan bahwa Komnas HAM telah menyatakan kejadian tersebut sebagai tragedi di Papua. “Kami yakin peristiwa ini merupakan bentuk kekerasan yang berdampak besar, dengan jumlah korban meninggal yang awalnya 11 orang, kini bertambah satu menjadi 12,” ujar Saurlin. Menurutnya, investigasi terus dilakukan untuk memastikan penyebab dan pelaku dari insiden tersebut.
“Peristiwa di Kembru pada 14 April 2026 jelas merupakan tragedi yang memerlukan pengungkapan kebenaran, baik untuk korban maupun masyarakat sekitar,” tambah Saurlin. Lembaga tersebut, katanya, telah memulai proses pengumpulan data dan pemeriksaan saksi guna memperjelas detail kejadian.
Menurut Saurlin, korban tambahan yang meninggal adalah seorang anak yang terkena tembakan di dada setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mulia. Anak tersebut dinyatakan meninggal setelah beberapa minggu dirawat, sehingga total jumlah korban yang ditemukan mencapai 12 orang. “Korban tersebut mengalami kondisi kritis sejak hari kejadian dan akhirnya berpulang setelah menjalani pengobatan intensif,” ujarnya.
Langkah-Langkah Penyelidikan oleh Komnas HAM
Komnas HAM, setelah menerima laporan dari Pansus DPRK Puncak, langsung melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian. “Kami melakukan investigasi langsung di lapangan, termasuk memeriksa saksi-saksi yang ada di sekitar wilayah Kembru,” kata Saurlin. Selain itu, lembaga tersebut juga mengumpulkan keterangan dari para korban dan pihak terkait untuk menggali informasi lebih lanjut.
“Proses penyelidikan ini tidak hanya memperhatikan jumlah korban, tetapi juga memastikan bahwa tidak ada pihak yang mengabaikan fakta-fakta yang ada,” jelas Saurlin. Ia menekankan pentingnya transparansi dalam mengungkap penyebab dan pelaku insiden tersebut.
Sebelumnya, Menteri HAM Natalius Pigai mengatakan bahwa pelaku penyerangan terhadap warga sipil di Distrik Kembru telah dikenal oleh masyarakat setempat. Namun, hingga saat ini belum ada pihak yang secara terbuka mengakui tanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pigai menyoroti bahwa kejadian ini memicu kekhawatiran tentang pengakuan publik terhadap pelaku.
Keterbukaan dan Kebutuhan Pengakuan
Pigai, dalam wawancara di Kantor Kementerian HAM Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026), menekankan bahwa kejadian di Kembru tidak bisa dipersalahkan tanpa dasar yang jelas. “Peristiwa ini terjadi pada siang hari, dan pelakunya sudah memahami dampak yang ditimbulkan,” ujarnya. Menurut Pigai, masyarakat di lokasi dan korban sudah menyadari bahwa kekerasan terjadi.
“Kami mengingatkan bahwa saat ini yang terpenting adalah keberanian dari pihak yang terlibat untuk mengakui perbuatannya. Jangan sampai ada pihak yang saling melempar opini tanpa dasar yang kuat,” tambah Pigai. Ia juga menyebutkan bahwa kejadian ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kebijakan keamanan di wilayah Papua.
Komnas HAM terus memantau perkembangan kasus ini, dengan harapan dapat menemukan jawaban yang jelas mengenai siapa yang bertanggung jawab. “Kami sedang menggali informasi lebih dalam, termasuk meninjau dokumen dan rekaman kejadian yang tersedia,” kata Saurlin. Proses ini diharapkan bisa memberikan gambaran lengkap mengenai kejadian berdarah tersebut.
Editor: Kastolani Marzuki Pigai menyampaikan poin-poin ini seusai menerima laporan dan data dari berbagai sumber. “Komnas HAM berupaya untuk memberikan pemahaman yang objektif kepada publik, agar kejadian di Kembru tidak hanya menjadi isu politik, tetapi juga menjadi fakta yang jelas,” ujarnya.
Kasus penembakan di Kembru menjadi sorotan karena dampaknya terhadap korban dan masyarakat sekitar. Dengan jumlah korban meninggal mencapai 12 orang, termasuk satu anak, kejadian ini memperlihatkan bagaimana keterlibatan pihak-pihak tertentu bisa menyebabkan kesan berdarah. Komnas HAM dan Menteri Pigai menekankan bahwa investigasi harus terus berjalan hingga semua fakta terungkap.
