Key Issue: Bacaan Niat Mandi Hari Raya Idul Adha, Arab dan Artinya Lengkap Tata Caranya
Bacaan Niat Mandi Hari Raya Idul Adha, Arab dan Artinya Lengkap Tata Caranya
Key Issue – Pada hari raya Idul Adha, mandi sunnah menjadi bagian penting dari persiapan yang harus dilakukan umat Islam sebelum melaksanakan shalat Ied. Ibadah sunnah ini merupakan salah satu bentuk kesunahan yang dianjurkan untuk dijalankan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Mandi hari raya Idul Adha tidak hanya sebagai cara membersihkan tubuh, tetapi juga simbol kebersihan dan kesiapan spiritual menuju ibadah yang lebih suci.
Makna Ibadah Sunnah Idul Adha
Ibadah sunnah muakkadah Idul Adha memiliki peran penting dalam tradisi keagamaan Islam. Dalam kitab hadis, Nabi Muhammad SAW menekankan bahwa hari raya Idul Adha adalah salah satu syi’ar min sya’air al-Islam, atau salah satu tanda khas keagamaan Islam. Menurut para ulama, sholat Idul Adha tidak hanya sekadar ibadah, tetapi juga menjadi perayaan yang mengandung makna spiritual, seperti mengingat peristiwa qurban dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS.
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata bahwa orang-orang Jahiliyah punya dua hari dalam satu tahun dan merayakannya dengan main-main. Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, Nabi SAW bersabda: Dahulu kalian punya dua hari untuk merayakannya, lalu Allah menggantinya bagi kalian yang lebih baik, yaitu Hari Fithri dan hari Adha.” (HR An Nasai)
Menurut pemerintah Indonesia, hari raya Idul Adha tahun ini jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Tanggal tersebut ditetapkan setelah sidang isbat yang memastikan awal Dzulhijjah. Dengan adanya hari raya ini, umat Muslim diwajibkan untuk melaksanakan sholat Ied, dan mandi sebelumnya menjadi bagian dari persiapan. Meskipun tidak wajib, mandi sunnah membantu menciptakan suasana kebersihan dan ketaatan yang lebih maksimal.
Dasar Hukum Mandi Hari Raya Idul Adha
Beberapa ulama mengungkapkan bahwa mandi pada hari raya Idul Adha memiliki dasar dari praktik sahabat Nabi. Contohnya, Abdullah bin Umar ibnu Khattab RA yang dilaporkan dalam atsar: “Ia mandi pada hari raya Idul Fitri sebelum berangkat sholat.” (HR. Atsar Abdullah bin Umar). Meski tidak ada hadis langsung dari Rasulullah SAW, atsar ini dianggap sahih oleh Imam An Nawawi, sebagaimana tercantum dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab.
“أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى”
Sebaliknya, hadits yang menyebutkan bahwa Nabi SAW mandi pada dua hari raya—Idul Fitri dan Idul Adha—dianggap lemah oleh sebagian ulama. Namun, hadis dari Ibnu Abbas RA tetap menjadi dasar untuk melakukan mandi pada hari raya Idul Adha. Berikut hadis tersebut:
“يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ تَعَالَى”
Hadis ini menegaskan bahwa Nabi SAW menjalani mandi sebagai bagian dari ritual hari raya. Meskipun sumbernya tidak langsung dari Nabi, praktik ini menjadi contoh yang mengarah pada keharusan menjalankannya.
Bacaan Niat Mandi Hari Raya Idul Adha
Niat mandi hari raya Idul Adha ditujukan untuk meraih keberkahan dan keistimewaan dari ibadah sunnah. Berikut bacaan niatnya dalam bahasa Arab dan terjemahan:
“نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِيَوْمِ عِيْدِ الْأَضْحَى سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى”
Artinya: “Saya niat mandi pada hari Raya Idul Adha sunnah karena Allah Taala.” Niat ini merupakan bagian dari keseluruhan prosedur, yang seharusnya diucapkan sebelum proses mandi dimulai.
Mandi hari raya Idul Adha memiliki cara yang sama dengan mandi wajib umumnya, tetapi dengan niat yang spesifik. Niat adalah pembeda utama, dan seharusnya diucapkan secara jelas. Dalam praktiknya, niat ini bisa diucapkan dengan intonasi santun dan fokus pada tujuan spiritual. Selain itu, niat juga mengandung semangat untuk melaksanakan amal yang lebih teratur dan bermakna.
Tata Cara Mandi Hari Raya Idul Adha
Langkah-langkah dalam melakukan mandi hari raya Idul Adha bisa dijelaskan sebagai berikut:
- Memulai dengan membaca niat, yaitu “Nawaitul ghusla liyaumi ‘iidil Adha sumbatan Lillahi Ta’aalaa.”
- Mencuci kedua telapak tangan, dengan memasukkan jari-jari ke dalam air sebagai langkah awal.
- Menyiramkan air ke seluruh tubuh, mulai dari kepala hingga ujung kaki, secara bertahap.
- Menggosok kulit kepala dengan jari-jari tangan, lalu menyiramkan air ke atas kepala sebanyak tiga kali.
- Menyiramkan air ke seluruh tubuh, memastikan semua bagian telah terbasahi.
- Melakukan tata cara yang sama seperti mandi wajib, dengan mengawali bagian kanan tubuh terlebih dahulu.
- Menggosok rambut dan kulit kepala dengan air, serta memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlewat.
Cara ini didasarkan pada hadis dari Aisyah, istri Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang menyebutkan:
“عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ك
