Special Plan: BGN tambah 18 dapur SPPG di Pangkalpinang guna pemerataan layanan MBG

BGN tambah 18 dapur SPPG di Pangkalpinang guna pemerataan layanan MBG

Special Plan – Kota Pangkalpinang menjadi sorotan setelah Badan Gizi Nasional (BGN) memperluas jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut. Penambahan ini bertujuan untuk mempercepat distribusi Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kepada masyarakat, terutama para siswa, ibu hamil dan menyusui, serta balita yang tinggal di kota itu. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan layanan gizi secara merata, mengurangi kesenjangan akses, dan mendukung kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Progres Pembangunan Dapur SPPG

Koordinator Wilayah SPPG Kota Pangkalpinang, Rori Nahla Oktavian, mengungkapkan bahwa progres konstruksi 18 dapur baru telah mencapai 80 hingga 85 persen. “Pembangunan ini berjalan cukup cepat, dan kami terus memantau keberlanjutan penyelesaian agar semua fasilitas sesuai standar,” jelas Rori saat diwawancara di Pangkalpinang, Senin. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengoperasian dapur SPPG tidak hanya bergantung pada fisik bangunan, tetapi juga pada kesiapan proses sanitasi dan pengelolaan logistik.

“Saat ini pembangunan 18 dapur SPPG ini sudah mencapai 80 hingga 85 persen,” kata Rori Nahla Oktavian.

Dapur SPPG merupakan pusat pengadaan dan distribusi makanan bergizi yang dikelola secara terpusat. Selain menyediakan makanan, dapur ini juga bertindak sebagai sentral koordinasi antara pemerintah, penyuplai, dan para penerima manfaat. Dengan menambah jumlah dapur, BGN berupaya memastikan bahwa layanan MBG dapat mencapai seluruh lapisan masyarakat, termasuk daerah terpencil yang sebelumnya kesulitan mendapatkan bantuan.

“Kami terus memantau pembangunan proses dapur SPPG ini untuk memastikan kelayakan dapur tersebut, seperti kebersihan, sanitasi, dan lainnya yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

Program MBG sendiri dirancang untuk memberikan bantuan pangan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak usia sekolah dasar, ibu hamil, serta balita. Dapur SPPG menjadi jalur utama dalam memastikan distribusi makanan yang sehat dan cukup, terutama di tengah tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat. “Dengan adanya penambahan dapur SPPG ini tentunya akan menambah penyerapan tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian masyarakat di daerah ini,” tambah Rori.

Kapasitas dan Manfaat Dapur SPPG

Saat ini, jumlah dapur SPPG yang sudah beroperasi mencapai 20 unit, dan setiap dapur dioperasikan oleh sekitar 50 orang tenaga kerja. Komposisi anggota tim meliputi 47 relawan yang terlibat dalam pelayanan langsung, serta sejumlah anggota yang berperan sebagai kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. “Program ini memberikan dampak sosial yang signifikan, karena telah menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja lokal,” papar Rori.

“Alhamdulillah, dengan adanya Program MBG ini sudah menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja sehingga membantu pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran,” katanya.

Manfaat penyerapan tenaga kerja ini tidak hanya terbatas pada pekerjaan langsung di dapur SPPG, tetapi juga melibatkan sektor lain seperti transportasi, penyimpanan, dan distribusi. Selain itu, program MBG memberikan dampak ekonomi positif kepada sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat. “Program MBG tidak hanya mengurangi angka pengangguran tetapi juga membantu pelaku UMKM lokal dan pemasok yang datang memenuhi kebutuhan SPPG di kota ini,” lanjut Rori.

Dapur SPPG menjadi mitra strategis bagi UMKM, karena memastikan ketersediaan bahan baku pangan yang sesuai standar gizi. Dengan adanya sistem distribusi yang terstruktur, keberadaan dapur ini memungkinkan perusahaan kecil menjangkau pasar yang lebih luas. “Dapur SPPG memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dalam menjual produk mereka secara teratur, sehingga meningkatkan stabilitas pendapatan,” tambah Rori.

Strategi Pemerataan dan Kolaborasi

BGN berkomitmen untuk mewujudkan pemerataan akses layanan gizi, dengan menyebarluaskan sistem SPPG ke berbagai kecamatan. Hal ini dilakukan dalam upaya menekan ketimpangan antara daerah padat dan daerah terpencil. “Dapur SPPG di Pangkalpinang adalah contoh nyata dari upaya ini, yang memastikan bahwa semua masyarakat, termasuk yang terpencil, dapat memperoleh makanan bergizi secara gratis,” tutur Rori.

“Kami terus memantau pembangunan proses dapur SPPG ini untuk memastikan kelayakan dapur tersebut, seperti kebersihan, sanitasi, dan lainnya yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.

Kolaborasi antara BGN dan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan program ini. Relawan yang terlibat tidak hanya membantu proses pengoperasian dapur, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang. Selain itu, BGN aktif membangun kemitraan dengan pihak ketiga, seperti badan usaha dan lembaga pendidikan, untuk memperluas jangkauan program.

Keberhasilan SPP