Ramadhipa banyak belajar dari Veda dan Mario Aji

Ramadhipa Banyak Belajar dari Veda dan Mario Aji

Ramadhipa banyak belajar dari Veda dan Mario – Jakarta – Dalam perjalanan meniti karier di level internasional, pembalap muda Indonesia Muhammad Kiandra Ramadhipa mengungkapkan bahwa ia mendapatkan banyak wawasan dari seniornya, Veda Ega Pratama dan Mario Suryo Aji. Keduanya, yang sebelumnya telah berkiprah di sirkuit Eropa, menjadi sumber motivasi dan bimbingan penting baginya. Ramadhipa menjelaskan bahwa pengalaman yang dimiliki oleh Veda dan Mario menjadi bekal yang sangat berharga, terutama dalam adaptasi terhadap lingkungan balapan yang berbeda dari sirkuit lokal.

Menghadapi tantangan musim ini di Red Bull Rookies Cup, Ramadhipa mengatakan bahwa ia mengandalkan masukan dari para senior untuk mempercepat proses penyesuaian. “Karena Veda atau Mario sudah berlaga di sana, saya pasti harus memperoleh informasi dari mereka. Saya perlu memastikan diri menerima cukup data sebelum menghadapi setiap balapan,” ujarnya dalam wawancara daring bersama media, termasuk ANTARA, Selasa lalu. Menurut Ramadhipa, masukan dari senior tidak hanya membantu dalam teknik balapan, tetapi juga memberikan pandangan tentang atmosfer kompetisi yang lebih intensif.

“Ilmu enggak ada batasnya. Jadi saya harus terus bertanya, bahkan di sirkuit yang sudah saya kuasai pun, saya meminta pendapat untuk terus berkembang di sesi berikutnya,” tambahnya.

Keberadaan Veda dan Mario, kata Ramadhipa, bukan hanya sebagai pendamping di jalur balapan, tetapi juga sebagai inspirasi bagi keberanian dan ketekunan dalam menghadapi persaingan global. Ia menjelaskan bahwa keduanya sudah merasakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi di Eropa, sehingga pengalaman tersebut menjadi pedoman untuk menghadapi tantangan di luar batas Indonesia. “Saya merasa sangat dekat dengan Mario karena dia memiliki pengalaman yang lebih luas dari saya. Saya ingin belajar lebih banyak dari dia, karena saya lihat dia punya attitude yang kuat,” tuturnya.

Selain diberi dukungan moral, Ramadhipa juga memperoleh manfaat teknis dari persiapan di ajang Moto3 JuniorGP. Salah satu mekanik yang pernah bekerja bersama Veda kini menjadi bagian dari timnya, sehingga proses evaluasi data dan pengembangan performa menjadi lebih efektif. “Datanya bisa dibandingkan dengan Veda, jadi saya bisa melihat kelemahan diri dan terus meningkatkan diri,” katanya.

Proses Adaptasi di Tingkat Internasional

Dalam balapan di tingkat dunia, Ramadhipa mengakui bahwa banyak hal baru yang harus ia pelajari. Dari karakteristik sirkuit hingga strategi pemanfaatan lintasan, ia mengungkapkan bahwa seniornya memberikan panduan yang sangat berharga. “Mulai dari racing line, cara menghadapi tikungan, hingga pendekatan saat balapan, semua bisa saya peroleh dari mereka,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa adaptsi ini tidak hanya membutuhkan keahlian teknis, tetapi juga sikap mental yang tangguh.

Keberhasilan Ramadhipa dalam meraih kemenangan pertama di Race 2 Red Bull Rookies Cup di Sirkuit Jerez, Spanyol, akhir pekan lalu, menjadi bukti nyata bagaimana pelajaran dari Veda dan Mario mulai berbuah hasil. Kemenangan tersebut, menurutnya, adalah modal penting untuk menatap seri-seri berikutnya. “Saya rasa hasil ini membuat saya lebih percaya diri dan semangat menghadapi balapan di luar negeri,” ujarnya.

“Saya cukup dekat dengan Mario dan Veda. Kalau Mario, dia selalu memberikan saya semangat dan motivasi,” kata Ramadhipa.

Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara pembalap muda dan senior di dunia balapan bukan hanya sekadar mentor dan murid, tetapi juga bagian dari jaringan suporter yang saling memperkuat satu sama lain. Ramadhipa menyebut bahwa Mario Aji, khususnya, memiliki peran penting dalam membantunya membangun mental balapan. “Pengalaman Mario lebih banyak, jadi banyak hal positif yang bisa saya pelajari, baik di dalam maupun luar lintasan,” ujarnya.

Di sisi lain, Ramadhipa juga menekankan bahwa keberhasilan di tingkat internasional tidak terlepas dari keberadaan tim dan pelatih yang mendukungnya. Ia menjelaskan bahwa dengan mekanik yang pernah bekerja bersama Veda, timnya dapat merujuk pada data dan pengalaman sebelumnya, sehingga keputusan dalam pembinaan sepeda motor menjadi lebih matang. “Dukungan teknis dari mereka membuat saya lebih siap menghadapi setiap sesi balapan,” katanya.

Harapan dan Aspirasi di Jalur Moto3 JuniorGP

Ramadhipa saat ini tengah fokus pada persiapan musim penuh di Red Bull Rookies Cup, sementara juga menyiapkan diri untuk tampil di FIM Moto3 Junior World Championship 2026. Ia menyebut bahwa ambisi untuk menghadapi ajang internasional memotivasi dirinya untuk terus meningkatkan kualitas balapan. “Saya ingin menunjukkan kemampuan yang lebih baik di setiap sirkuit, terutama saat berlaga di Moto3 JuniorGP,” ujarnya.

Di balik kesuksesannya, Ramadhipa juga mengakui bahwa ada banyak hal yang belum ia kuasai. Ia menyebut bahwa pengalaman dari Veda dan Mario menjadi langkah awal untuk mengatasi kekurangan tersebut. “Saya merasa bahwa mereka memberikan saya banyak wawasan, dan saya terus belajar dari mereka meskipun prosesnya memakan waktu,” jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan di tingkat internasional membutuhkan kesabaran dan komitmen yang tinggi.

Dalam perjalanan kariernya, Ramadhipa juga mengungkapkan bahwa ia ingin menjadikan prestasi sebagai awal dari pencapaian lebih besar. “Saya ingin menorehkan jejak pembalap Indonesia di ajang internasional, dan kemenangan ini menjadi awal yang baik untuk terus berkembang,” katanya. Dengan dukungan dari senior dan tim, ia yakin bisa menghadapi tantangan di masa depan dengan lebih baik.

Keberhasilan pertama di Red Bull Rookies Cup, menurut Ramadhipa, tidak hanya membuatnya lebih percaya diri, tetapi juga memperkuat tekad untuk terus mengejar impian. Ia menyebut bahwa balapan di Eropa memberikan kesan yang berbeda dari kompetisi lokal, dan ia ingin mencoba menyesuaikan diri dengan lebih baik di setiap sirkuit. “Saya merasa bahwa atmosfer di sana lebih ketat, dan saya harus terus berusaha agar bisa bertahan,” ujarnya.

Dengan target untuk berlaga di Moto3 JuniorGP 2026, Ramadhipa menjelaskan bahwa ia berharap bisa memperoleh pengalaman berharga di level yang lebih tinggi. “Saya ingin terus belajar dari pengalaman mereka, karena mereka sudah melewati banyak hal di Eropa,” katanya. Ia juga menekankan bahwa setiap balapan adalah pelajaran baru, dan ia tidak pernah berhenti mencari cara untuk meningkatkan diri.

Dalam kesimpulannya, Ramadhipa mengungkapkan bahwa hubungan dengan senior seperti Veda dan Mario tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran teknis, tetapi juga sebagai pengingat bahwa keberhasilan di tingkat internasional membutuhkan usaha yang konsisten. “Saya berterima kasih pada mereka karena membantu saya memahami dunia balapan yang lebih luas,” kata Ramadhipa. Dengan semangat ini, ia berharap bisa menciptakan generasi pembalap Indonesia yang lebih tangguh di ajang global.