eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pesan WA Terakhir Siswa Korban Perundungan di Lumajang kepada Kakak: Mengeluh Sakit Hampir Mati

Published Juli 1, 2026 · Updated Juli 1, 2026 · By Karen Anderson

Pesan WA Terakhir Siswa Korban Perundungan di Lumajang kepada Kakak: Mengeluh Sakit Hampir Mati

Kasus Pemukulan di Sekolah Berdampak Fatal, Dua Pelaku Diduga Terlibat

Pesan WA Terakhir Siswa Korban Perundungan - Kasus dugaan perundungan yang mengakibatkan kematian Muhammad Ilham, seorang siswa SMP di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, semakin memperjelas keterlibatan dua pelaku dalam insiden mematikan tersebut. Pesan WhatsApp yang dikirim korban menjadi salah satu bukti penting dalam penyelidikan. Dalam pesan tersebut, Ilham menyampaikan kondisi yang dialaminya setelah menerima perlakuan kasar dari teman sekelasnya.

Menurut keterangan keluarga, korban sempat mengalami benturan di belakang kepala setelah dipukuli di dalam kelas. Peristiwa itu diduga terjadi pada 18 Mei 2026 di SMP PGRI Sukodono. Awalnya, kejadian itu dipicu oleh masalah sepele, yakni adanya sampah di bawah meja korban saat dua pelaku yang berinisial SLF dan AR sedang menjalankan tugas piket. Kepada kakaknya, Ahmad Dani, korban mengeluhkan rasa sakit hampir mati setelah insiden terjadi.

"Adik saya di kelas sendiri waktu itu, terus di bawah meja dia itu ada sampah, yang piket, kemungkinan besar dua pelaku, terus setelah itu adik saya dipukuli di kelas. Waktu itu dia bilang dia merasakan sakit, terus dia juga WhatsApp ke saya dan bilangnya hampir mati. Saya ada di Jakarta waktu itu jadi saya enggak bisa mendampingi," ujar Dani, Selasa (30/6/2026).

Korban, Muhammad Ilham, warga Desa Jatisari, Kecamatan Kedungjajang, memang sebelumnya tidak berani lagi masuk sekolah setelah mengalami trauma akibat pemukulan. Meski demikian, ia masih sempat mengirim pesan ke kakaknya yang sedang berada di Jakarta. Pesan itu menyampaikan rasa sakit yang dialami dan kekhawatiran akan kondisi kesehatannya.

Dari informasi yang diperoleh, korban baru mengeluhkan sakit pada 21 Juni 2026. Kemudian, ia dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Namun, tiga hari kemudian, pada 24 Juni 2026, korban meninggal dunia. Hasil autopsi menunjukkan adanya pendarahan di bagian belakang kepala akibat benturan. Kini, Polres Lumajang tengah menyelidiki kasus ini dengan menetapkan satu pelaku, SLF, sebagai tersangka. Sementara pelaku lain, AR, masih dalam proses investigasi.

Kasus perundungan ini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di Polres Lumajang. Kasie Humas Polres, Ipda Suprapto, mengungkapkan bahwa penyidik sedang mendalami motif bullying yang menjadi penyebab kematian korban. "Saat ini ditangani oleh Reskrim di Unit PPA. Dan untuk terduga pelaku sudah diamankan. Sementara ada pelaku satu orang yang sudah dilakukan pengamanan oleh PPA Polres Lumajang. Untuk motifnya bullying," katanya.

Keluarga korban menilai bahwa perlakuan yang dialami Muhammad Ilham merupakan bentuk perundungan berkelanjutan yang tidak terbendung. Menurut Dani, korban kerap merasa takut dan cemas di lingkungan sekolah. "Sejak kejadian itu, adik saya tidak pernah lagi berani masuk kelas. Dia sering bercerita tentang rasa sakit yang tidak kunjung hilang," imbuhnya.

Sebagai bagian dari upaya penyelidikan, polisi juga memeriksa kondisi fisik korban sebelum dan sesudah insiden. Meski korban sempat berusaha menutupi rasa sakitnya, kejadian pemukulan dianggap sebagai awal dari penyakit yang berakibat fatal. "Korban mungkin sudah terluka sejak awal, tapi dia tidak segera mencari bantuan," jelas Dani.

Sementara itu, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan perundungan yang menyebabkan kematian Muhammad Ilham. Hal ini memicu kekecewaan keluarga korban, yang mengharapkan penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang. "Kami menunggu respons dari sekolah. Mungkin ada yang terlewat dalam proses penanganan," ujar Dani.

Kasus ini juga menyoroti peran guru dan pihak sekolah dalam mencegah kekerasan terhadap siswa. Beberapa warga setempat mengkritik kebijakan sekolah yang tidak segera mengambil tindakan tegas setelah aduan korban. "Sekolah harus lebih sensitif terhadap keluhan siswa. Jika tidak ditangani, bisa berujung pada tragedi seperti ini," kata salah satu warga Desa Jatisari.

Di sisi lain, polisi menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Mereka sedang memeriksa bukti-bukti tambahan, termasuk rekaman kamera dan saksi mata, untuk memastikan tindakan yang dilakukan SLF dan AR. Selain itu, tim medis juga mengungkap bahwa korban mungkin mengalami komplikasi akibat cedera yang terus-menerus tidak diperhatikan.

Dengan adanya pesan WhatsApp korban sebagai salah satu petunjuk, kasus ini semakin memperkuat dugaan bahwa perundungan bukanlah kejadian tunggal, melainkan upaya terus-menerus yang mengarah pada kematian. Pihak kepolisian berharap kejadian serupa tidak terulang di masa depan. "Kami akan memastikan semua pelaku diberi sanksi sesuai aturan," tegas Ipda Suprapto.

Dari keterangan keluarga dan polisi, jelas bahwa dugaan perundungan ini menimbulkan dampak psikologis dan fisik yang sangat berat pada korban. Kondisi yang dialami Muhammad Ilham menunjukkan bahwa bullying tidak hanya menyebabkan rasa sakit, tetapi juga bisa memicu kondisi kritis yang berujung pada kematian. Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh lingkungan pendidikan untuk lebih waspada dan responsif terhadap keluhan siswa.

Sebagai informasi tambahan, pihak keluarga juga mengungkap bahwa korban sempat mengalami gejala seperti pusing, mual, dan rasa lemas sebelum mengirim pesan WhatsApp. Meski tidak segera mencari perawatan, kondisi kesehatannya terus memburuk hingga akhirnya memicu kematian. "Adik saya mungkin sudah lelah dari tekanan di sekolah. Ia tidak bisa berbicara pada siapa pun," ungkap Dani.

Dengan dugaan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah, kasus ini menggugah masyarakat untuk lebih memperhatikan dampak bullying terhadap kesehatan mental dan fisik anak. Kecamatan Kedungjajang juga sedang mengevaluasi kebijakan sekolah setempat untuk mencegah insiden serupa di masa depan. "Sekolah harus menjadi tempat belajar, bukan tempat mendera," tambah Dani.