Program Terbaru: Mayoritas Siswa Jakarta Tak Habiskan MBG, DPR: Perlu Ada Prioritas Sekolah Agar Tepat Sasaran

Mayoritas Siswa Jakarta Tak Habiskan MBG, DPR: Perlu Prioritas Sekolah Agar Tepat Sasaran

Temuan Penelitian

Dari hasil riset yang dilakukan Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), ditemukan bahwa sebagian besar murid SD di Jakarta tidak menghabiskan makanan yang disediakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini memberi risiko pemborosan pangan (food waste) dalam inisiatif tersebut.

Komentar DPR

Sekretaris Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menyoroti pentingnya memastikan MBG diberikan secara tepat sasaran. Ia menekankan perlunya kejelasan kriteria serta peran prioritas sekolah dalam distribusi bantuan makanan tersebut. “Pemerintah harus memperjelas target penerima MBG agar program ini tidak hanya menjadi simbol,” ujarnya, Kamis (5/3).

“Siswa tidak habiskan makanan karena menu tidak bervariasi sehingga menimbulkan kebosanan pada anak. Saya meminta BGN untuk mengedukasi SPPG agar memperhatikan tiga hal. Pertama, kandungan gizi menu jangan sampai kurang dari standar. Kedua, keamanan makanan harus terjamin. Ketiga, menu harus bervariasi supaya siswa tidak bosan sehingga makanan dihabiskan oleh siswa,” beber Yahya.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lima sekolah dasar di wilayah Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan, dan Pusat. Proses observasi berlangsung selama Juni hingga September 2025, melalui wawancara dan pengamatan langsung terhadap siswa, guru, pengelola, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).

Dalam setiap kunjungan, tim peneliti menghabiskan satu hari di setiap sekolah untuk memantau cara siswa memakan MBG di dua hingga tiga kelas. Dian Sulistiawati, dosen antropologi yang memimpin studi, menjelaskan bahwa tujuan riset adalah menggambarkan situasi pelaksanaan program secara detail di berbagai lingkungan sekolah di DKI Jakarta.

“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang memang habiskan makanan, sementara siswa lainnya memakan secara tidak lengkap, bahkan ada yang hanya menyantap sedikit,” kata Dian, Rabu (4/3).

Menurut Dian, MBG tidak hanya berupa penyediaan makanan, tetapi juga mencerminkan proses budaya. Perubahan kebiasaan makan, katanya, memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan berbagai aspek seperti relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi masyarakat lokal.

Respon BGN

Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan alasan menyajikan spageti dan burger dalam program Makan Siang Gratis. Ternyata, ini sebagai respons atas permintaan siswa untuk mengurangi kejenuhan terhadap nasi. BGN juga mengusulkan evaluasi terkait variasi menu yang disiapkan SPPG, agar tidak membuat siswa merasa bosan.

Program MBG, kata Dian, juga membuka peluang untuk memahami tantangan dan strategi dalam pelaksanaan di tingkat sekolah. Meski beberapa orang tua di Sumatera Selatan menyatakan bahwa MBG membantu mengurangi pengeluaran harian mereka, tetap saja masalah konsumsi makanan di kalangan siswa masih menjadi perhatian serius.

Dalam konteks sosial, menurut Dian, makanan dan kebiasaan konsumsi siswa dipengaruhi oleh konstruksi budaya. Dengan demikian, keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan, tetapi juga pada bagaimana makanan tersebut disesuaikan dengan preferensi dan lingkungan sosial siswa.