Agenda Utama: Tragis! KPAI Sebut Ayah Kandung Diduga Ikut Aniaya Santri hingga Tewas di Sukabumi

27fd82c6 e04c 4de5 a741 84506e3b55dd 0

Tragis! KPAI Sebut Ayah Kandung Diduga Ikut Aniaya Santri hingga Tewas di Sukabumi

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui komisionernya, Diyah Puspitarini, mengungkap fakta mengerikan terkait kekerasan yang menewaskan NS, seorang santri SMP dari Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Sukabumi. Berdasarkan laporan, NS diduga menjadi korban penganiayaan yang melibatkan ayah kandungnya, AS, serta ibu tirinya. Kecelakaan ini terjadi selama empat tahun terakhir, dengan intensitas yang semakin meningkat hingga akhirnya memakan korban jiwa.

Dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (2/3), Diyah menyebutkan bahwa jenazah NS dimakamkan di dekat rumah pamannya atau bibinya. “Keluarga Uwak dari Ananda NS sangat dekat, bahkan jenazah dimakamkan di dekat rumah Uwak,” ujarnya. Selama investigasi, pihak KPAI bertemu dengan tetangga dan keluarga korban, menemukan bahwa kekerasan tidak hanya dilakukan oleh ibu, tetapi juga ayah.

“Itu dari tetangga?” tanya Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman. “Tetangga dan keluarga besar, Uwak. Dan itu sudah terjadi, terutama lebih intens 4 tahun terakhir,” jawab Diyah. “Umur Almarhum berapa?” tanya Habiburokhman. “9 tahun. Saat saya tanya kepada pimpinan keluarga dan tetangga, apakah ada yang mengingatkan, keluarga besar mengatakan pernah mengingatkan. Tapi jawaban ayah adalah, ‘Itu anak saya, urusan saya’,” sambung Diyah.

Kematian NS menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi fisiknya yang mengalami luka bakar di hampir seluruh tubuh, dari dada hingga kaki. Sebelum meninggal di RSUD Jampang Kulon, korban sempat menceritakan pengalaman penyiksaan kepada ayah dan kakek angkatnya, Isep. Menurut keterangan Isep, NS menyatakan bahwa ia disiksa oleh ibu tirinya dengan cara dipaksa meminum air panas.

Kepala RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, memberikan penjelasan terkait hasil autopsi. “Tim forensik menemukan luka bakar di lengan, kaki, dan punggung. Selain itu, ada luka di area bibir dan hidung. Paru-paru juga sedikit membengkak, serta sampel organ dikirim ke Jakarta untuk memeriksa adanya zat berbahaya,” jelas dr. Carles. Kematian NS, yang baru kembali dari pesantren untuk menyambut Ramadan, meninggalkan impian besar menjadi seorang ulama yang tak terwujud.

Ayah kandung NS, Anwar Satibi (38), mengungkapkan rasa sedih dan kehilangan atas kepergian putra sulungnya. “Anak saya ingin jadi kiai, itu yang membuat saya sangat sakit hati. Saat saya pulang dari Sukabumi, saya beri uang 50 ribu untuk bekal di pesantren, dia sangat senang,” ungkapnya sambil berbicara dengan suara bergetar di RS Bhayangkara Setukpa, Jumat (20/2). Kesaksian Isep juga mendukung bahwa korban secara jelas menunjuk ibu tirinya sebagai pelaku kekerasan.

“Dia bilang itu sama mama (ibu tiri). Ada bukti videonya, itu ucapan Almarhum sendiri,” tambah Isep.