eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Visit Agenda: Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran

Published Juni 22, 2026 · Updated Juni 22, 2026 · By Talia Aryani

Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran

Visit Agenda - Survei terbaru yang dilakukan di Israel menghadirkan hasil yang menggemparkan. Dalam penelitian ini, sebanyak 92,1% responden meyakini Iran sebagai pihak yang memenangkan konflik dengan Israel beberapa bulan terakhir. Angka tersebut mencerminkan tingkat keyakinan publik yang sangat tinggi terhadap dominasi Iran dalam perang tersebut. Survei yang melibatkan 3.644 peserta ini dirilis oleh Universitas Ibrani Yerusalem pada 17 hingga 20 Juni 2026, lalu diterbitkan oleh surat kabar The Times of Israel. Temuan ini menunjukkan keraguan masyarakat Israel terhadap hasil yang dianggap sukses oleh pemerintah saat ini.

Analisis lebih lanjut dari survei menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel merasa negara mereka tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari 87,8% responden, sebagian besar menganggap bahwa Israel hanya berhasil meraih sebagian kecil dari hasil yang diharapkan dalam pertarungan melawan Iran. Kritik terhadap pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbukti signifikan, dengan 72,5% warga Israel tidak percaya pada klaimnya bahwa negara ini menghasilkan keuntungan besar dalam konflik tersebut. Penolakan terhadap narasi pemerintah ini mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap prestasi yang disampaikan.

Hasil survei juga memberikan gambaran negatif terhadap kepemimpinan Netanyahu selama konflik. Sebanyak 56,4% responden menilai kinerjanya sebagai "gagal" atau "buruk," sementara hanya 26,5% yang menganggapnya positif. Pandangan ini semakin memperkuat persepsi bahwa kebijakan luar negeri Israel selama perang tidak efektif dalam mengurangi ancaman dari Iran. Selain itu, 82,9% peserta survei mengatakan bahwa perang melawan Iran justru melemahkan keamanan negara mereka secara berkelanjutan.

“Hasil survei ini menunjukkan bahwa masyarakat Israel kini lebih pesimis terhadap dampak perang terhadap masa depan negara,” ujar salah satu peneliti dari Universitas Ibrani Yerusalem dalam wawancara terpisah. “Meski Netanyahu menegaskan kemenangan, banyak warga tidak percaya karena kehilangan korban dan kestabilan politik yang terganggu.”

Konflik antara Israel dan Iran berawal pada 28 Februari 2026, ketika kedua negara melakukan serangan gabungan terhadap posisi Iran di kawasan Selat Hormuz. Perang berlangsung hingga 8 April, dengan kekuatan Israel dan sekutunya mencoba menghancurkan infrastruktur Iran di wilayah strategis. Namun, setelah konflik berakhir, ketidakpuasan publik terus mengemuka. Kesepakatan gencatan senjata yang diteken oleh Presiden AS Donald Trump menjadi titik balik, meski perang tersebut tidak sepenuhnya memutus hubungan yang tegang antara dua pihak.

Kendati gencatan senjata diumumkan, beberapa insiden kecil masih terjadi, terutama di wilayah Selat Hormuz, yang menjadi area sensitif. Dalam upaya memperkuat perdamaian, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Islamabad pada 17 Juni 2026. Kesepakatan ini dikenal sebagai MoU Islamabad, yang menandai berakhirnya perang, meski banyak pihak menganggap perjanjian tersebut masih rapuh. Dengan penurunan kemampuan militer Iran, Israel berharap mengamankan dominasi di kawasan, tetapi kekhawatiran publik terhadap efektivitas perang tetap ada.

Konflik ini mengubah persepsi masyarakat Israel terhadap keamanan dan kestabilan negara. Pasca perang, 82,9% responden menyatakan bahwa ancaman dari Iran justru semakin terasa. Meskipun Israel berhasil menargetkan beberapa situs penting Iran, kehilangan korban besar di sektor militer dan ekonomi membuat kepercayaan warga terhadap strategi pemerintah menurun. Survei menunjukkan bahwa masyarakat lebih fokus pada kerugian yang dialami daripada keberhasilan yang diraih.

Perbedaan antara kebijakan Netanyahu dan harapan publik menjadi sumber ketegangan. Pernyataan Perdana Menteri yang menekankan kemenangan Israel dianggap terlalu optimis oleh sebagian besar masyarakat. Sebanyak 72,5% warga Israel meragukan klaim bahwa perang menghilangkan ancaman eksistensial dari Iran. Kritik ini juga terkait dengan kebijakan luar negeri yang dianggap terlalu agresif, tanpa memastikan keberlanjutan perdamaian. Tantangan utama terletak pada upaya mengisi kekosongan keamanan yang diakibatkan oleh konflik.

Analisis survei menambahkan bahwa perang Iran-Israel menciptakan perubahan signifikan dalam pola kehidupan warga. Banyak responden mengungkapkan bahwa keadaan sosial dan ekonomi negara menjadi lebih tidak stabil. Peningkatan biaya hidup, gangguan perdagangan, dan ketidakpastian politik menjadi faktor utama yang menggerus optimisme awal terhadap hasil perang. Meski Israel mengklaim berhasil menargetkan posisi Iran, efek jangka panjang dari konflik dianggap merugikan negara tersebut.

Sebagai penutup, survei ini menegaskan bahwa masyarakat Israel kini lebih memprioritaskan kestabilan daripada keberhasilan bersenjata. Angka 92,1% yang meyakini kemenangan Iran menjadi bukti bahwa opini publik terus berkembang meski perang sudah berakhir. Perjanjian MoU Islamabad, meski dinilai sebagai langkah penting, masih memerlukan waktu untuk mengevaluasi dampaknya terhadap hubungan antar negara dan keamanan dalam jangka panjang. Kritik terhadap kepemimpinan Netanyahu menjadi cerminan bahwa kebijakan militer dan diplomatik harus lebih transparan untuk memperkuat dukungan masyarakat.