Topics Covered: Bupati Purwakarta Minta Maaf soal Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat yang Dinilai Rendahkan Perempuan

0a9bc645-2792-4262-8eff-691bdf5c668f-0

Bupati Purwakarta Minta Maaf atas Kontroversi Lagu ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’

Topics Covered – Kontroversi terkait lagu berbahasa Sunda yang dibuat oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, memicu respons cepat dari sang kepala daerah. Lagu tersebut, yang berjudul ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’, menjadi trending topic di media sosial dan menarik perhatian publik karena dianggap mengandung lirik yang dinilai merendahkan perempuan. Polemik ini terutama memicu kritik dari Anggota DPR, Atalia Praratya, yang menyatakan kekecewaannya atas tindakan seorang figur publik yang membuat karya musik dengan narasi yang kurang inklusif. Permintaan maaf yang disampaikan Om Zein menjadi upaya untuk menenangkan masyarakat dan menjelaskan maksud dari lirik yang menjadi sumber perdebatan.

Konteks Permintaan Maaf di Desa Karoya

Permintaan maaf Om Zein disampaikan saat ia menjalani agenda pelayanan publik di Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta, pada Kamis (2/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, dia secara tegas menyampaikan rasa penyesalannya terhadap ketidaknyamanan yang muncul akibat lagu tersebut. “Saya memohon maaf kepada seluruh masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan, serta jika kata-kata dalam lagu membuat beberapa pihak merasa tersinggung,” ujarnya. Om Zein menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menyinggung atau mendiskreditkan kelompok tertentu, termasuk perempuan, dalam karya tersebut.

“Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun dan tidak bermaksud mendiskreditkan siapa pun,” kata Om Zein. Ia menjelaskan bahwa lirik lagu lahir dari refleksi pribadi dan pengalaman hidupnya, serta memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar kontroversi.

Asal Usul Lagu: Dari Puisi ke Karya Musik

Lagu yang menjadi sorotan ini sebenarnya awalnya ditulis dalam bentuk puisi pada tahun 2020, jauh sebelum Om Zein menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Menurut penjelasannya, puisi tersebut merupakan bentuk perenungan atas perjalanan hidup dan pencarian jati diri yang dialami oleh dirinya pada masa itu. “Puisi itu dibuat oleh seorang Om Zein yang sedang dalam fase perubahan, bukan oleh bupati saat ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa lirik yang diperdebatkan sebelumnya adalah bagian dari refleksi diri, bukan untuk menyinggung perempuan secara spesifik.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Om Zein menyebut bahwa puisi tersebut dibacakan dalam berbagai kesempatan sebelum akhirnya diaransemen menjadi lagu oleh seorang seniman pada 2023. Saat itu, dia masih dalam masa pencarian jati diri, bukan sebagai pemimpin daerah. Menurutnya, proses kreatif ini dilakukan secara alami, tanpa rencana untuk menyampaikan pesan tertentu yang bisa dianggap merendahkan.

Reaksi Publik dan Sorotan dari Kalangan Politik

Kontroversi ‘Lalaki Langit Lalanang Bejat’ memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Sejumlah warganet menilai lirik lagu mengandung stereotip gender yang menggambarkan perempuan sebagai objek yang bisa dianggap kurang berdaya. Sementara itu, aktivis perempuan mempertanyakan sikap masyarakat yang terkesan membenarkan narasi yang dinilai tidak adil. Anggota DPR Atalia Praratya turut memberikan tanggapan, menekankan pentingnya tanggung jawab moral dari figur publik dalam menyampaikan pesan yang menghormati perempuan.

“Kritik yang muncul wajar, karena sebagai pemimpin daerah harus menjaga keseimbangan antara kreativitas dan kepekaan sosial,” imbuh Atalia Praratya. Ia menyoroti bahwa karya seni harus diiringi kesadaran akan dampaknya terhadap masyarakat.

Penjelasan Lebih Lanjut dari Bupati Purwakarta

Om Zein berusaha memperjelas maksud lirik lagu yang menjadi sumber polemik. Menurutnya, kalimat-kalimat dalam karya tersebut terutama mencerminkan perasaannya pada masa lalu, ketika ia sedang menjalani perjalanan spiritual dan pengalaman asmara yang memicu refleksi. “Lirik itu menggambarkan kondisi emosional saya, bukan kebijakan atau pandangan politik,” jelasnya. Ia menyatakan bahwa lagu ini bukan bermaksud untuk menyampaikan nilai-nilai yang merendahkan perempuan, melainkan ekspresi pribadi yang bisa diartikan berbeda oleh masyarakat.

Om Zein juga menyoroti bahwa lagu ini menjadi viral di media sosial setelah dipublikasikan pada Januari 2026. Dalam beberapa hari, konten tersebut mendapat perhatian luas, termasuk dari kalangan profesional dan akademisi. Meski begitu, ia tidak mengakui bahwa lagu tersebut secara sengaja menciptakan kesan merendahkan perempuan. “Saya yakin banyak orang bisa merasakan makna yang lebih dalam dalam setiap kata yang saya tulis,” katanya.

Upaya untuk Menjaga Citra dan Menjelaskan Konteks

Setelah permintaan maaf disampaikan, Om Zein berharap masyarakat dapat memahami latar belakang karya tersebut. Ia menjelaskan bahwa lagu ini tercipta dari keinginan untuk menyampaikan pesan pribadi melalui seni, dengan harapan bisa menarik perhatian dan merangsang refleksi. “Saya ingin melalui karya ini mengajak orang-orang untuk berpikir lebih dalam tentang perasaan dan pengalaman hidup,” ujarnya.

Sementara itu, ia juga menyebut bahwa pihaknya akan terus mengawasi dampak dari lagu ini dan bersedia melakukan penyesuaian jika diperlukan. “Saya siap menerima masukan dan evaluasi dari masyarakat, karena keterbukaan adalah kunci dalam membangun kepercayaan,” tuturnya. Menurutnya, kesadaran akan gender equality adalah sesuatu yang harus terus diperkuat, baik melalui karya seni maupun kebijakan publik.

Refleksi tentang Peran Seni dalam Sosial

Kontroversi ini juga memicu diskusi lebih luas mengenai peran seni dalam menyampaikan pesan sosial. Di satu sisi, ada yang menganggap lagu ini sebagai bentuk kebebasan kreatif yang bisa diinterpretasikan berbagai macam. Di sisi lain, kritikus menyatakan bahwa seniman juga harus mempertimbangkan dampak narasinya terhadap masyarakat, terutama terhadap kelompok yang rentan. “Seni memang boleh mengekspresikan emosi, tapi harus tetap sensitif terhadap isu-isu yang penting bagi kehidupan sosial,” pungkas Atalia Praratya.

Dengan permintaan maaf yang disampaikan, Om Zein menunjukkan komitmen untuk memperbaiki kesan yang muncul. Ia juga berharap lagu ini bisa menjadi bahan perdebatan yang memperkaya pemahaman publik tentang isu gender, bukan sekadar sumber perpecahan. “Saya ingin ini bisa menjadi sarana untuk memperdalam peran perempuan dalam masyarakat,” tuturnya.