Strategi Penting: Intelijen AS Ragu Tujuan Perang Tercapai, Iran Bikin Trump “Menderita”

bc408b77 31b5 45e2 bd70 1b7de28079c5 0

Intelijen AS Ragu Tujuan Perang Tercapai, Iran Bikin Trump “Menderita”

Dari Jakarta, CNBC Indonesia melaporkan bahwa semakin intensnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah menimbulkan keraguan dari dalam pemerintahan AS. Laporan internal yang diterbitkan oleh National Intelligence Council mengungkapkan bahwa serangan terhadap Iran tidak terbukti mampu menggulingkan kekuasaan pemerintahan negara tersebut. Meski Trump tetap memperkuat tindakan militer, analisis intelijen menunjukkan hasil akhirnya mungkin tetap sama, yakni proses suksesi di Iran.

Kekhawatiran tentang Stok Senjata AS

Kemajuan intelijen juga mencatat bahwa upaya serangan udara terhadap Iran mulai menguras persediaan senjata tertentu AS. Hal ini diungkapkan dalam pengarahan tertutup antara pejabat Trump dan anggota Kongres. Sementara itu, Iran terus melancarkan tindakan balasan terhadap Israel, serta instalasi militer AS di Timur Tengah.

Serangan Terhadap Target Iran

Operasi militer akhir pekan lalu melibatkan pemboman yang mengenai berbagai titik strategis di Iran, termasuk gedung pemerintahan dan fasilitas militer. Aksi tersebut juga menyasar bangunan sipil seperti rumah sakit dan sekolah, yang menewaskan 168 siswa dalam satu serangan langsung. The Associated Press memverifikasi kemungkinan bahwa serangan itu berasal dari angkatan laut AS.

Dalam pidato di KTT Shield of the Americas di Florida, Trump mengklaim keberhasilan operasi militer, menyebutkan bahwa AS telah menghancurkan 42 kapal militer Iran dalam tiga hari. Ia menegaskan bahwa negara-negara tetangga harus melihat dampaknya. “Kami melakukan dengan sangat baik di Iran, Anda bisa melihat hasilnya,” kata Trump, dilansir The Guardian.

“Delapan bulan lalu mereka akan memiliki senjata nuklir. Dan mereka gila, dan mereka akan menggunakannya, jadi kami telah melakukan kebaikan untuk dunia,” tambahnya.

Kekhawatiran tentang konflik terus memanas sejak Israel dan AS membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Meski negosiasi diplomatik masih berjalan, kedua pihak kembali memulai serangan besar, yang membuat kelompok oposisi Iran terlihat kurang mungkin mengambil alih kekuasaan.