Strategi Penting: Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis
Bali Mulai ‘Berdarah’ Efek Perang Iran, Jumlah Penerbang Turun Drastis
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan di wilayah udara akibat konflik Timur Tengah mulai memengaruhi industri penerbangan global. Maskapai terpaksa menghindari jalur udara sekitar Iran dan daerah rawan lainnya. Akibatnya, penerbangan harus mengambil rute yang lebih jauh, meningkatkan penggunaan bahan bakar, memperpanjang durasi perjalanan, serta menaikkan biaya operasional. Dampak ini paling terasa di Bali dan Thailand.
Wilayah Udara Terbatasi, Penerbangan Berhenti atau Diubah
Menurut laporan dari Nation Thailand, Senin (23/3/2026), karena sebagian besar wilayah udara Timur Tengah masih dibatasi ketat, ribuan penerbangan telah dibatalkan atau dialihkan sejak konflik memanas pada 28 Februari. Hal ini mengganggu koridor utama Asia-Eropa dan berdampak pada sektor pariwisata di Asia Tenggara.
“Kondisi ini mengganggu jalur utama Asia-Eropa dan berdampak pada sektor pariwisata di Asia Tenggara,” kata Nation Thailand.
Biaya dan Tarif Tiket Naik, Risiko Penurunan Permintaan Jarak Jauh
Reuters melaporkan bahwa maskapai di Asia dan Eropa telah menaikkan tarif tiket dan menambah biaya tambahan bahan bakar, serta menyesuaikan jadwal penerbangan. Lonjakan harga bahan bakar dan perubahan rute membuat waktu tempuh lebih lama. Dampak ini berpotensi mengurangi permintaan perjalanan jarak jauh, terutama dari segmen pelancong yang rentan terhadap perubahan harga.
Thailand dan Bali Rentan Terhadap Gangguan
Pengamat industri menyebutkan bahwa Bali dan Thailand menjadi destinasi di Asia Tenggara yang paling rentan jika situasi ini terus berlangsung. Bali sangat bergantung pada wisatawan dari Eropa dan pasar jarak jauh lainnya. Thailand pun mengalami tantangan serupa, dengan durasi perjalanan yang lebih lama, kapasitas kursi berkurang, dan harga tiket meningkat, yang bisa menekan permintaan di musim puncak wisata.
“Bali sangat bergantung pada wisatawan dari Eropa dan pasar jarak jauh lainnya,” tutur pengamat industri.
Malaysia Tahan Terhadap Dampak Langsung
Malaysia dinilai lebih tahan terhadap efek langsung konflik, karena wisatawan Eropa hanya menyumbang kurang dari 15% dari total kunjungan. Meski demikian, mereka umumnya tinggal lebih lama dan menghabiskan lebih banyak uang untuk akomodasi, tur, dan belanja. CNA mencatat, setidaknya 200 penerbangan keluar dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, terutama menuju Timur Tengah, telah dibatalkan.
Peluang Strategis untuk Malaysia
Dalam situasi ini, Malaysia melihat peluang untuk menjadi pusat transit alternatif. Kepala penerbangan sipil Malaysia, Norazman Mahmud, mengatakan bahwa bandara di Thailand, Singapura, Hong Kong, dan Malaysia berpotensi menjadi pilihan stabil bagi penumpang menuju Eropa, seiring maskapai meninjau ulang jalur transit di kawasan Teluk. Malaysia Airlines juga mulai memperluas kapasitas penerbangan ke Eropa, sementara Malaysia Aviation Group menyiapkan rute tambahan ke London dan Paris untuk mengatasi kebutuhan selama periode gangguan.
Sementara itu, program Visit Malaysia 2026 dan tren pertumbuhan pariwisata yang terus berlangsung dianggap bisa memperkuat daya tarik negara ini. Pelaku industri optimis bahwa permintaan dari Asia Timur, India, dan wilayah Asia Tenggara akan menutupi penurunan dari pasar Eropa.
