Seskab Teddy Beberkan 3 Alasan Harga Pertamax Naik – Singgung Kenaikan Minyak Dunia
Seskab Teddy Beberkan 3 Alasan Harga Pertamax Naik, Singgung Kenaikan Minyak Dunia
Seskab Teddy Beberkan 3 Alasan Harga - JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green 95 yang dilakukan PT Pertamina (Persero) menjadi topik hangat dalam diskusi terkini. Dalam penjelasannya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan tiga poin utama yang menjelaskan dasar pengenaan kenaikan harga tersebut. Jumat (12/6/2026), Teddy membagikan informasi ini melalui akun Instagram @sekretariat.kabinet, yang menyoroti hubungan antara harga BBM di Indonesia dengan pergerakan pasar global.
Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Tergantung pada Pasar Internasional
Teddy menyebutkan bahwa BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak diberi subsidi oleh pemerintah. Hal ini berbeda dengan BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar, yang harganya tetap stabil meski harga minyak dunia mengalami perubahan. Menurut Teddy, pertama kali kenaikan harga Pertamax dilakukan karena harga minyak internasional mengalami kenaikan signifikan. "Pertamax termasuk jenis bahan bakar yang tidak mendapatkan subsidi pemerintah. Dengan demikian, harga jual Pertamax ditentukan oleh fluktuasi harga minyak global," jelasnya dalam postingan.
"Pertamax adalah BBM non-subsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia," tulis Teddy melalui Instagram.
Dalam konteks ini, Teddy menekankan bahwa harga minyak dunia tidak bisa dipisahkan dari kebijakan penyesuaian harga BBM di Indonesia. BBM non-subsidi dianggap lebih rentan terhadap perubahan harga global karena tidak mendapat bantuan keuangan dari negara. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar diatur secara khusus agar biaya hidup masyarakat tidak terlalu terbebani.
Kenaikan Harga Minyak Dunia Sejak Maret Memengaruhi BBM Non-Subsidi
Teddy menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak dunia telah terjadi sejak Maret 2026. Namun, pemerintah memutuskan untuk menahan kenaikan harga BBM bersubsidi selama beberapa bulan terakhir. "Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi Pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," tambahnya.
Kenaikan harga minyak global ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti permintaan yang meningkat di pasar internasional, kenaikan produksi minyak dari produsen utama, dan ketidakstabilan politik di negara-negara penghasil minyak. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar untuk menghindari dampak yang lebih besar terhadap masyarakat. Teddy menyebutkan bahwa kebijakan ini adalah upaya untuk menjaga keseimbangan antara kenaikan harga internasional dan ketersediaan BBM bagi kebutuhan warga.
Harga BBM Non-Subsidi Indonesia Masih Lebih Murah dari Negara Tetangga
Alasan ketiga yang diberikan Teddy adalah perbandingan harga BBM non-subsidi di Indonesia dengan negara-negara tetangga. Dalam penjelasannya, ia menyebutkan bahwa meski harga minyak dunia naik, harga Pertamax dan Pertamax Green 95 di Indonesia masih lebih terjangkau dibandingkan dengan bahan bakar RON 92 atau 95 di sejumlah negara. "Harga dua BBM non-subsidi di Indonesia lebih murah dibandingkan dengan BBM RON 92 atau 95 di negara tetangga," terang Teddy.
"Harga BBM Indonesia dibanderol Rp16.260 per liter, Filipina Rp22.158 per liter, Laos Rp31.945 per liter, Thailand Rp28.910 per liter, Myanmar Rp25.085 per liter, dan Singapura Rp42.971 per liter," kata Teddy mengutip data dari Petrol Price.
Menurut data yang dibandingkan, harga BBM di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan harga di negara-negara seperti Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan harga BBM di Indonesia belum sepenuhnya mengikuti level harga internasional. Meski demikian, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 memicu kekhawatiran terhadap dampak terhadap masyarakat, terutama bagi pengguna kendaraan bermotor yang mengandalkan bahan bakar tersebut.
Teddy juga menyoroti bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi tidak bisa dihindari karena biaya produksi dan pengiriman minyak mentah ke Indonesia mengalami peningkatan. Pemerintah, katanya, telah mencoba menyeimbangkan antara kenaikan harga global dan kebutuhan masyarakat dalam menetapkan harga yang diterapkan. "Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah akibat dari kebutuhan untuk mengikuti harga pasar global," lanjut Teddy.
Di sisi lain, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 mengisyaratkan pergeseran kebijakan pemerintah terhadap subsidi BBM. Teddy menegaskan bahwa selama ini BBM non-subsidi diatur untuk mengakui risiko pasar dan biaya operasional yang terus meningkat. Namun, ia juga menyebutkan bahwa pemerintah masih menjaga harga BBM bersubsidi agar tidak memberatkan masyarakat umum, terutama yang berpenghasilan rendah.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kenaikan harga Pertamax terjadi dalam rangka mengimbangi biaya produksi yang terus meningkat. Berdasarkan data Petrol Price, harga BBM non-subsidi di Indonesia memang masih relatif terjangkau dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Namun, fluktuasi harga global tetap menjadi faktor utama yang menentukan kebijakan penyesuaian harga di dalam negeri. Dengan demikian, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 bukanlah hal yang terpisah dari kondisi pasar internasional.
Dalam penjelasannya, Teddy juga meminta masyarakat untuk memahami bahwa kebijakan penyesuaian harga BBM adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara keuangan negara dan kebutuhan pengguna bahan bakar. "Pertamax dan Pertamax Green 95 adalah produk yang diatur berdasarkan harga pasar, jadi kenaikan harga itu adalah alur alami dari situasi ekonomi global," terangnya.
Sebagai tambahan, Teddy menekankan bahwa kenaikan harga Pertamax tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia, tetapi juga oleh dinamika pasar domestik. Pertamina, sebagai perusahaan pelatih, harus menghitung biaya pengangkutan, distribusi, dan keuntungan yang diharapkan. Dengan adanya kenaikan harga, pemerintah mencoba memastikan bahwa perusahaan pelatih tetap bisa beroperasi secara efisien tanpa harus menanggung beban berlebihan.
Sebagai akibat dari kenaikan harga Pertamax, masyarakat pengguna kendaraan bermotor mengalami tekanan dalam pengeluaran harian. Meski demikian, Teddy menyatakan bahwa pemerintah terus memantau dampak kebijakan ini dan siap melakukan penyesuaian lebih lanjut jika diperlukan. "Kenaikan harga BBM non-subsidi adalah salah satu bagian dari kebijakan yang diambil untuk mengimbangi kondisi ekonomi global," tegasnya.
Dengan tiga poin penjelasan ini, Teddy memberikan gambaran bahwa kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 adalah langkah wajib yang dilakukan untuk menyelaraskan dengan pasar internasional. Ia juga meminta masyarakat untuk bersabar dan memahami bahwa penyesuaian harga ini adalah bagian dari perubahan yang tak terhindarkan di tengah ket