Menghadapi Tantangan: Paus Leo Kritik Donald Trump: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Pengobar Perang
Paus Leo Kritik Donald Trump: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Pengobarkan Perang
Dalam perayaan Minggu Palma di Vatikan, Paus Leo mengkritik para pemimpin Amerika Serikat dan Israel yang terlibat dalam konflik dengan Iran. Ia menekankan bahwa Yesus menolak kekerasan dan tidak akan mendengarkan doa dari mereka yang tangan penuh dengan darah.
Kardinal Pierbattista Pizzaballa, yang memimpin Gereja Katolik di Palestina dan Israel, dilarang oleh polisi Israel untuk mengadakan Misa Palma di Yerusalem. Larangan ini memicu kecaman dari sejumlah pemimpin global.
“Tuhan kita adalah Yesus, Sang Raja Damai yang menolak perang. Ia tidak bisa digunakan untuk melegalkan konflik,” ujar Paus Leo dalam kotbahnya di Lapangan St Petrus, Vatikan.
Paus Leo, yang menjadi paus pertama dari Amerika Serikat, menyampaikan pernyataan tersebut saat Trump dan Israel sedang bersiap melancarkan serangan terhadap Iran. Terkait hal ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menjadi sorotan karena berdoa secara terbuka memohon Tuhan memberikan penderitaan bagi musuh.
Dalam kotbah yang sama, Paus mengutip Kitab Yesaya, mengatakan: “Jika kamu menadahkan tangan untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku. Bahkan setelah berdoa berulang kali, Aku tidak akan mendengarkan, karena tanganmu berlumuran darah.” Ia juga mengingatkan pengikutnya tentang peristiwa saat Yesus memarahi para murid yang mencabut pedang untuk mengusir tentara yang akan menangkap-Nya.
Yesus, menurut Paus Leo, tidak mempersenjatai diri. Ia memilih jalan damai, bahkan ketika dipaksa menghadapi kekerasan. Hal ini sejalan dengan pesan Paus yang selama ini menekankan pentingnya dialog untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Kontroversi Doa dalam Kaitan dengan Perang
Kotbah Paus Leo disampaikan saat para pemimpin AS semakin sering menampilkan “kesalehan” mereka di depan publik. Pete Hegseth, yang menggagas Kementerian Pertahanan AS sebagai institusi perang, memicu reaksi karena menutup pidatonya dengan doa.
“Biarlah setiap peluru mengenai sasarannya demi melawan musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung. Berikanlah mereka hikmat dalam setiap keputusan, ketabahan menghadapi cobaan, persatuan yang tak goyah, serta kedahsyatan aksi terhadap mereka yang tak layak belas kasihan,” doa Hegseth.
Hegseth, seorang jemaat gereja evangelis, merupakan tokoh nasionalis Kristen. Ia kini digugat oleh Americans United for Separation of Church and State, organisasi non-profit yang menuntut pemisahan antara agama dan negara di AS. Gugatan ini berdasarkan doa bulanan yang ia adakan di Pentagon untuk mendukung perang di Iran.
Konteks Minggu Palma dalam Tradisi Katolik
Minggu Palma adalah awal Pekan Suci dalam tradisi Katolik. Hari itu, umat Katolik memperingati kedatangan Yesus ke Yerusalem, sebelum Ia menggelar perjamuan terakhir pada Kamis Putih, disalib dan mati pada Jumat Agung, serta bangkit pada Minggu Paskah.
Namun, pada Minggu Palma lalu, polisi Israel menghalangi Kardinal Pizzaballa bersama para rekan-rekannya saat berusaha merayakan Misa di Gereja Makam Kudus. Larangan ini menggambarkan ketegangan antara agama dan kekuasaan di wilayah Timur Tengah.
