Main Agenda: Eks Dirjen Dikti Ungkap Minat Mahasiswa Masuk PTS Mulai Berkurang, Ada Apa?
Main Agenda: Eks Dirjen Dikti Ungkap Minat Mahasiswa ke PTS Menurun, Ada Apa?
Main Agenda – Jakarta — Dalam rapat Panja SPMB Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (24/6/2026), Prof Nizam, mantan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud, menyampaikan temuan mengejutkan tentang penurunan minat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Data dari Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) menunjukkan bahwa sekitar 30% dari PTS hanya mampu mengisi kurang dari separuh kapasitasnya, menjadi tantangan serius bagi sektor pendidikan tinggi. Temuan ini memperlihatkan perlunya analisis lebih mendalam untuk mengidentifikasi penyebab utama.
Tren Penurunan Minat Mahasiswa ke PTS: Fakta dan Data
Dari data yang diberikan, PTS dengan kapasitas 50 mahasiswa hanya menerima sekitar 25, sementara PTS berkapasitas 100 hanya mampu menampung 50. “Ini menunjukkan bahwa minat mahasiswa semakin berkurang, sehingga banyak PTS mengeluhkan adanya penurunan jumlah calon tadi,” ujar Nizam. Fakta ini menjadi perhatian utama karena dinamika pasar pendidikan tinggi mulai bergeser ke arah institusi publik yang lebih diminati.
“Kondisi ini diakui oleh banyak PTS yang mengeluhkan keterbatasan jumlah peminat. Data dari APTISI membuktikan bahwa 30% dari PTS hanya mampu mencapai kurang dari 50% dari kapasitas mereka, mencerminkan adanya ketimpangan antara penawaran pendidikan dan permintaan mahasiswa,” tambah Nizam.
Kondisi tersebut juga terjadi meski jumlah PTS di Indonesia terus bertambah. Menurut Nizam, peningkatan jumlah PTS tidak cukup untuk menutupi penurunan minat mahasiswa, terutama di sektor pendidikan berkualitas. “PTS berkualitas masih sedikit jika dibandingkan dengan PTN, baik dari segi akreditasi maupun prestasi,” jelasnya, menyoroti bahwa daya tarik PTS belum mampu menyaingi PTN dalam menarik calon mahasiswa.
Faktor Penurunan Minat Mahasiswa ke PTS: Akreditasi dan Biaya
Nizam mengungkapkan bahwa dua faktor utama memengaruhi penurunan minat. Pertama, kualitas pendidikan di PTS masih dianggap kurang menarik karena akreditasi yang belum merata. “PTS berkualitas memang ada, tetapi jumlahnya tidak seimbang dengan kebutuhan masyarakat,” katanya. Kedua, biaya kuliah di PTS relatif lebih tinggi, menjadi hambatan bagi calon mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah.
“Biaya kuliah di PTS berkualitas sulit terjangkau bagi sebagian besar masyarakat, sementara PTN biasanya lebih terjangkau dan didukung oleh kebijakan pemerintah,” ucap Nizam.
Menurut Nizam, perbedaan biaya ini membuat banyak mahasiswa lebih memilih PTN sebagai opsi utama. Ia menekankan bahwa kebijakan biaya pendidikan yang tidak proporsional berdampak signifikan pada daya saing PTS. “Ini menjadi alasan mengapa PTS perlu melakukan perbaikan kebijakan finansial dan akreditasi untuk menarik minat masyarakat,” tambahnya.
Peningkatan Kapasitas PTN Sebagai Ancaman PTS
Kemendikbud juga melaporkan bahwa PTN telah mengalami peningkatan kapasitas sekitar 10 persen per tahun. “Porsi mahasiswa di PTN meningkat dari 34,4% pada 2014 menjadi 47,3% di 2025,” ujar Nizam. Angka ini menunjukkan bahwa PTN mampu menampung lebih banyak mahasiswa, sementara PTS mengalami stagnasi dalam peningkatan kapasitasnya.
“Peningkatan kapasitas PTN di satu sisi baik, tetapi di sisi lain berdampak pada PTS sebagai penyedia pendidikan tinggi swasta,” tambah Nizam.
Nizam menyatakan bahwa keberhasilan PTN dalam meningkatkan akses pendidikan tinggi harus diimbangi oleh inovasi di sektor PTS. “PTS perlu beradaptasi dengan perubahan permintaan mahasiswa, agar tetap relevan dan diminati,” jelasnya. Ia menyarankan strategi seperti penguasaan media digital, peningkatan kualitas program studi, dan kebijakan biaya yang lebih terjangkau untuk menjaga daya tarik PTS.
Strategi PTS untuk Mengatasi Penurunan Minat
Dalam menghadapi tantangan ini, Nizam menekankan pentingnya PTS melakukan evaluasi terhadap metode pemasaran dan strategi akademik. “PTS perlu meningkatkan kualitas pengajaran dan fasilitas pendidikan agar bisa bersaing dengan PTN,” ujarnya. Selain itu, Nizam menyarankan kolaborasi dengan pemerintah untuk memperoleh bantuan biaya dan kebijakan yang lebih mendukung.
“Dengan kualitas yang lebih baik dan biaya yang lebih terjangkau, PTS dapat memperluas daya tariknya dan menarik lebih banyak mahasiswa, terutama dari kalangan menengah ke bawah,” kata Nizam.
Nizam menegaskan bahwa perbaikan ini tidak hanya penting untuk menstabilkan jumlah mahasiswa, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan. “Dengan memperkuat daya saing PTS, sektor pendidikan tinggi bisa menjadi lebih seimbang antara institusi swasta dan negeri,” tutupnya.
