eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Latest Program: PLN Pangkas Anak Usaha dari 44 Jadi 23 Entitas

Published Juni 7, 2026 · Updated Juni 7, 2026 · By Talia Aryani

PLN Optimalkan Struktur Bisnis dengan Pengurangan Anak Usaha

Latest Program - PT PLN (Persero) tengah mempercepat langkah transformasi internalnya dengan menargetkan penyederhanaan jumlah anak usaha menjadi 23 entitas pada 2028. Sebelumnya, perusahaan memiliki 44 anak usaha yang beroperasi di berbagai sektor energi. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat efisiensi operasional dan mengoptimalkan sistem tata kelola korporasi. Selain itu, PLN juga ingin memastikan bahwa struktur bisnisnya lebih fokus, dengan integrasi yang lebih baik antar unit usaha.

Langkah penyederhanaan jumlah anak usaha merupakan bagian dari strategi transformasi yang lebih luas. Dalam dua tahun ke depan, PLN akan melepaskan kepemilikan pada 21 dari 44 entitas tersebut. Keputusan ini disampaikan oleh Dony Oskaria, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, dalam sebuah forum strategis. Menurut Dony, perubahan ini bertujuan untuk selaras dengan peta jalan ketahanan energi nasional dan meningkatkan daya saing Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tingkat global.

“Pengurangan jumlah anak usaha ini adalah instrumen utama untuk mendorong transformasi yang lebih cepat dan terarah,” ujar Dony Oskaria. Ia menekankan bahwa kebijakan ini selaras dengan visi jangka panjang PLN dalam menyediakan energi yang lebih andal dan berkelanjutan.

Dalam implementasinya, skema streamlining yang dipilih PLN diharapkan dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dan meminimalkan redundansi dalam operasional. Dengan menyederhanakan jumlah entitas, PLN menginginkan pengelolaan usaha menjadi lebih terpadu, sehingga mampu merespons dinamika pasar dan kebutuhan nasional secara lebih efektif. Dony menjelaskan bahwa reorganisasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan kecepatan eksekusi proyek strategis, seperti pengembangan infrastruktur energi dan peningkatan kapasitas pasokan listrik.

Kebijakan streamlining ini merupakan bagian dari upaya PLN untuk membangun sistem bisnis yang lebih modern. Dengan menekan jumlah anak usaha, perusahaan dapat mengalokasikan sumber daya lebih efisien, baik dalam hal dana maupun tenaga kerja. Selain itu, struktur yang lebih ramping diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan serta manajemen risiko. Menurut Dony, perubahan ini juga membantu PLN dalam menjaga stabilitas jaringan listrik dan memastikan keandalan layanan kepada masyarakat.

Mengoptimalkan Daya Saing BUMN

Dony Oskaria menambahkan bahwa penyederhanaan jumlah anak usaha adalah langkah untuk meningkatkan daya saing BUMN di pasar global. Dalam beberapa tahun terakhir, PLN terus berupaya mengadopsi standar internasional dalam manajemen operasional dan pengembangan teknologi. Dengan struktur yang lebih sederhana, PLN diharapkan mampu bersaing dengan perusahaan energi swasta yang memiliki kecepatan eksekusi dan inovasi lebih tinggi.

Kebijakan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam menjadikan BUMN sebagai pilar ekonomi nasional. Dengan mengurangi jumlah anak usaha, PLN bisa memfokuskan perhatiannya pada bisnis inti, yaitu penyediaan listrik dan pengelolaan jaringan distribusi. Selain itu, pengurangan jumlah entitas ini diharapkan mampu menekan biaya operasional dan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dony menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya sekadar penyesuaian struktur, tetapi juga bagian dari komitmen PLN untuk menjadi pelaku utama transformasi energi nasional.

Progress RUPTL 2025–2034

Selain mengevaluasi perubahan struktur internal, PLN juga memberikan update mengenai realisasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025–2034. Menurut data yang disampaikan, sebanyak 1.634 proyek dari total rencana yang telah ditetapkan telah memasuki tahap pelaksanaan. Angka ini mencapai hampir 40 persen dari total proyek yang direncanakan, menunjukkan bahwa proyek strategis PLN sedang berjalan di jalur yang tepat.

Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai bidang, seperti pembangunan infrastruktur pembangkit listrik, perluasan jaringan transmisi, dan pengadaan gardu induk. Gardu induk, sebagai komponen penting dalam sistem distribusi, menjadi fokus utama dalam mengakomodasi pertumbuhan permintaan energi yang terus meningkat. Dony menyatakan bahwa progres ini merupakan hasil dari koordinasi yang intensif antara PLN dan mitra strategis, serta dukungan pemerintah dalam berbagai kebijakan energi nasional.

Pembangunan infrastruktur pembangkit listrik menjadi salah satu prioritas dalam RUPTL. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi energi terbarukan dan konvensional, sehingga mampu memenuhi kebutuhan listrik rakyat dan industri. Selain itu, perluasan jaringan transmisi bertujuan untuk mengurangi risiko kepadatan pada sistem distribusi dan meningkatkan daya tahan jaringan terhadap fluktuasi permintaan. Proyek pengadaan gardu induk juga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan layanan listrik di daerah-daerah yang masih memerlukan peningkatan akses.

Menurut Dony, progres yang dicapai dalam RUPTL menjadi indikator keberhasilan transformasi yang tengah dijalani PLN. "Kami telah memastikan bahwa proyek-proyek strategis ini terus berjalan sesuai jadwal, meskipun ada tantangan dari sisi ketersediaan dana dan alat produksi," kata dia. Ia menambahkan bahwa upaya ini juga didukung oleh kebijakan pemerintah dalam meningkatkan investasi di sektor energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Dengan penyederhanaan struktur anak usaha dan peningkatan implementasi RUPTL, PLN menargetkan peningkatan kapasitas energi hingga 50 persen pada 2034. Tantangan utama yang dihadapi perusahaan adalah keterbatasan anggaran dan kebutuhan untuk mempercepat proses regulasi. Namun, Dony yakin bahwa langkah yang diambil saat ini akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kemampuan PLN dalam menyediakan energi yang andal dan berkelanjutan.