Latest Program: Massa Mulai Gelar Aksi di Depan DPR, Ini Tuntutannya

5244d8b9-81e7-47ce-a5f3-75a61f316e57-0

Massa Gelar Aksi di Depan Gedung DPR, Tuntut Perubahan dalam Program MBG

Latest Program – Di Jakarta, ribuan warga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli Makan Bergizi Gratis memulai aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Senin (15/6/2026). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk keberatan terhadap kebijakan yang dianggap tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Peserta aksi tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB, didampingi oleh satu unit kendaraan komando. Mereka langsung mengisi ruang terbuka dengan orasi, menggunakan pengeras suara untuk menyampaikan pesan mereka. Spanduk dan poster yang dibawa oleh peserta aksi memperkuat penekanan pada tuntutan utama yang mereka ajukan.

Konteks Aksi dan Tuntutan Utama

Aksi ini dianggap sebagai respons masyarakat terhadap berbagai kelemahan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Massa berharap DPR RI menjadi pihak yang aktif dalam memastikan kebijakan tersebut mampu memberikan manfaat maksimal bagi rakyat. Dalam orasi mereka, peserta aksi menyoroti adanya konflik kepentingan dan kurangnya transparansi dalam pengelolaan MBG. Mereka juga mengkritik keputusan pemerintah yang dinilai memperparah kepercayaan publik terhadap program ini.

Permintaan untuk Perubahan Kepemimpinan

Dalam aksinya, massa menyampaikan lima tuntutan utama yang ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia dan DPR RI. Pertama, mereka meminta pemecatan Nanik S Deyang dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) karena dianggap tidak memenuhi standar kepatutan dan integritas. Penyebab utamanya adalah rekam jejak Nanik yang masih menjadi sorotan akibat kasus hukum yang menimpanya. Kedua, massa menuntut evaluasi kembali keputusan pengangkatan Nanik sebagai kepala BGN, menilai bahwa kebijakan ini perlu direvisi agar lebih adil.

Ketiga, peserta aksi meminta Komisi IX DPR RI menggunakan kewenangannya untuk menguji kelayakan Nanik dalam jabatannya. Mereka juga ingin mendapatkan penjelasan mengenai proses seleksi dan pertimbangan yang menjadi dasar pemilihan Nanik. Keempat, massa mendesak DPR untuk tidak mengabaikan isu mengenai penjelasan yang diberikan oleh Nanik dalam keterangan Justice Collaborator (JC) Sony Sonjaya. Kelima, mereka menyerukan tindakan boikot terhadap program MBG sebagai bentuk penolakan terhadap pengangkatan Nanik sebagai Kepala BGN, dengan alasan bahwa dia diduga terlibat dalam skandal korupsi yang menggerogoti kredibilitas lembaga tersebut.

“Negara tidak boleh mempertaruhkan masa depan program strategis pemenuhan gizi rakyat kepada pejabat yang masih menimbulkan kontroversi dan tanda tanya besar di ruang publik,” ujar orator dari atas mobil komandonya, Senin (15/6/2026).

Peran Komisi IX dalam Pengawasan

Komisi IX DPR RI menjadi fokus utama aksi ini, karena dianggap bertanggung jawab atas pengawasan kebijakan gizi nasional. Massa menekankan bahwa lembaga ini harus tampil aktif dalam memastikan keputusan yang diambil selaras dengan kepentingan rakyat. Mereka menilai bahwa jika Komisi IX tidak melakukan tindakan, maka kepercayaan masyarakat terhadap institusi legislatif akan terus berkurang. Orator juga menyampaikan bahwa tuntutan ini bukan sekadar kekecewaan terhadap Nanik, tetapi juga protes terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak transparan.

Kontroversi dan Dampak Aksi

Kontroversi terkait Nanik S Deyang sejak awal menjadi pemicu aksi ini. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa kebijakan MBG telah dianggap sebagai sarana untuk menyembunyikan kelemahan dalam pengelolaan anggaran. Massa menilai bahwa program ini harus dikelola dengan lebih baik agar bisa memberikan manfaat yang nyata. Aksi ini juga diharapkan mampu mengundang perhatian publik untuk meninjau ulang kebijakan tersebut.

Dalam konteks sosial, aksi ini menunjukkan kekuatan massa dalam mengkritik kebijakan pemerintah. Peserta aksi berharap tuntutan mereka bisa direspons dengan cepat, sehingga program MBG bisa direformulasikan agar lebih efektif. Mereka juga ingin memastikan bahwa kepemimpinan di BGN tidak lagi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak jelas. Dengan demikian, aksi ini tidak hanya menargetkan Nanik, tetapi juga menjadi sinyal untuk perubahan struktural dalam pengelolaan kebijakan gizi nasional.

Respon dan Tantangan Ke depan

Pihak DPR RI dan pemerintah masih memperhatikan keberlanjutan aksi ini. Meski demikian, massa menginginkan respons yang konkret dan segera. Mereka juga menantikan evaluasi lebih lanjut terhadap kebijakan MBG dan keputusan pemecatan Nanik. Dalam diskusi terbuka, beberapa pihak mempertanyakan apakah kebijakan ini benar-benar memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Ada pula yang menilai bahwa aksi ini bisa menjadi momentum untuk reformasi dalam pengelolaan program-program sosial pemerintah.

Koalisi Masyarakat Peduli Makan Bergizi Gratis menegaskan bahwa aksi ini adalah bagian dari upaya memastikan keadilan dalam distribusi kebijakan gizi. Mereka mengingatkan bahwa program MBG merupakan salah satu inisiatif strategis untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan ibu-ibu. Dengan adanya aksi ini, masyarakat diharapkan bisa mengawasi implementasi program tersebut secara lebih ketat. Massa juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi dalam pengambilan keputusan pemerintah.

Dalam kesimpulannya, aksi di depan Gedung DPR RI pada Senin (15/6/2026) menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengawasan kebijakan nasional. Tuntutan yang disampaikan bukan hanya sekadar keluhan, tetapi juga harapan untuk perbaikan yang berkelanjutan. DPR RI dan pemerintah diharapkan merespons dengan tindakan tegas dan transparan, agar program MBG bisa menjadi solusi yang benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.