Important Visit: DPR Ungkap Ada Blind Spot Pertahanan Udara di Indonesia Timur, Usul Sistem Deteksi Dini
DPR Temukan Titik Kegelapan dalam Pertahanan Udara Indonesia Timur
Important Visit - Pertahanan udara Indonesia, khususnya di wilayah timur, masih memiliki kelemahan yang perlu diperbaiki, menurut anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Syamsu Rizal. Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Markas Komando Operasi Udara II Makassar. Rizal mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara saat ini belum memadai, sehingga terdapat area yang tidak terpantau dengan baik. "Kita tidak ingin lagi ada titik kegelapan yang memungkinkan intersepsi oleh negara lain atau pesawat tak dikenal," kata Rizal dalam pernyataannya, seperti dilansir Minggu (14/6/2026).
Kelemahan Sistem Deteksi di Wilayah Timur
Rizal menekankan bahwa pertahanan udara Indonesia Timur memerlukan penguatan lebih lanjut untuk mengatasi ancaman yang mungkin datang dari berbagai sumber. Menurutnya, peningkatan teknologi menjadi kunci utama, bukan hanya bergantung pada sistem Ground Control Interception (GCI) yang sudah ada. "Dengan teknologi lebih canggih, seperti AWACS, kita bisa memperkuat kemampuan deteksi dan pengawasan di langit Indonesia," jelas Rizal. Ia menjelaskan bahwa AWACS atau Airborne Early Warning and Control System (AEWACS) dapat memainkan peran penting dalam memantau ruang udara secara lebih efektif.
"Bukan hanya sekadar GCI, tetapi juga teknologi seperti AWACS atau Airborne Early Warning Control, sehingga ke depannya Indonesia Timur bisa menjaga keutuhan negeri ini," ujar Rizal.
Wilayah Indonesia Timur, yang mencakup sekitar 30 persen dari total wilayah negara, memiliki kawasan yang luas dan terpencil. Komando Operasi Udara II Makassar, yang bertugas mengawasi area tersebut, diberi tanggung jawab besar. Rizal menyoroti bahwa sistem deteksi yang ada belum mampu menjamin keamanan penuh, terutama menghadapi ancaman dari pesawat tak dikenal atau teknologi modern lainnya. "Jika tidak diperkuat, risiko terhadap kedaulatan Indonesia akan meningkat," tambahnya.
Peran AWACS dalam Meningkatkan Kemampuan Pengawasan
Sistem AWACS, yang merupakan pesawat pengawas udara, memiliki kemampuan untuk mendeteksi ancaman dari jarak jauh dan memberi peringatan dini. Teknologi ini sangat penting dalam menghadapi pesawat tempur atau pesawat tak berawak (UAV) yang dapat memasuki wilayah udara tanpa terdeteksi. Rizal menilai bahwa penggunaan AWACS akan membantu mempercepat respons pertahanan udara, terutama di kawasan yang kurang terjangkau oleh radar konvensional.
"Kita tidak menginginkan hal itu terjadi, tetapi kita harus bersiap dengan teknologi yang lebih maju," kata Rizal.
Komando Operasi Udara II Makassar, sebagai unit utama yang mengawasi sebagian besar wilayah timur, membutuhkan dukungan teknologi pendukung untuk meningkatkan kinerjanya. Rizal menekankan bahwa pertahanan udara tidak bisa hanya bergantung pada sistem darat, karena pesawat-pesawat modern dapat bergerak cepat dan mengubah strategi perang secara dinamis. "Dengan AWACS, kita bisa memantau area lebih luas dan mengurangi risiko kejutan," tambahnya.
Langkah Strategis untuk Mengatasi Ancaman
Menurut Rizal, upaya untuk meningkatkan pertahanan udara harus menjadi prioritas dalam agenda kebijakan pertahanan. Indonesia Timur, yang merupakan jalur utama pengangkutan dan pengawasan, rentan terhadap ancaman yang mungkin berasal dari luar negeri. Ia juga menyebutkan bahwa keberadaan UAV, yang digunakan oleh berbagai pihak, menambah kompleksitas dalam menjaga keamanan wilayah udara.
Dalam wawancara terpisah, Rizal mengungkapkan bahwa sistem deteksi dini sangat penting untuk mengantisipasi berbagai bentuk ancaman. "Dengan teknologi yang lebih baik, kita bisa mengurangi risiko serangan yang tidak terduga," jelasnya. Ia menambahkan bahwa selain AWACS, penguatan infrastruktur radar dan komunikasi juga diperlukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara secara keseluruhan.
Pertahanan Udara sebagai Pilar Keamanan Nasional
Indonesia Timur, sebagai bagian dari wilayah negara yang strategis, memiliki peran krusial dalam menjaga keutuhan wilayah. Rizal menilai bahwa pengawasan udara yang optimal akan meminimalkan risiko pengambil alihan oleh negara lain atau organisasi teroris. "Kita harus memastikan bahwa setiap titik di wilayah udara terjaga dengan baik," ujarnya.
Kehadiran teknologi modern seperti AWACS tidak hanya meningkatkan kemampuan deteksi, tetapi juga memperkuat kemampuan komando untuk mengambil keputusan tepat waktu. Rizal berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem pertahanan udara, terutama di kawasan yang rawan. "Dengan persiapan yang matang, Indonesia bisa menjaga kedaulatannya secara lebih efektif," pungkasnya.