Historic Moment: Tukang Parkir di Bogor Dipalak Preman Rp50.000, Dikeroyok gegara Tolak Setor
Tukang Parkir di Bogor Dikeroyok Preman Gegara Tolak Setor Rp50.000
Kasat Reskrim Polres Bogor: Tiga Pelaku Pengeroyokan Dugaan Tindak Pidana
Historic Moment - Di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, sebuah insiden pengeroyokan terjadi saat seorang tukang parkir menolak memberikan uang jatah kepada para pelaku. Menurut informasi yang dihimpun, kejadian ini berlangsung di sebuah kafe yang terletak di wilayah tersebut. Pemilik kafe dan pengunjung menyebutkan bahwa korban dipaksa oleh tiga orang preman untuk menyetor uang sebesar Rp50.000, namun pihak korban menolaknya. Akibatnya, para pelaku menyerang korban secara langsung.
“Terjadi dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh sekitar tiga orang terhadap juru parkir di lokasi tersebut,” kata Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Anggi Eko Prasetyo, dalam keterangan resmi yang diberikan pada Sabtu (20/6/2026). Menurut Anggi, para pelaku meminta uang jatah preman dari korban, namun korban menolak pembayaran tersebut. “Kemudian mereka menghampiri korban dan memintai sejumlah uang sekitar Rp50.000. Namun, uang itu tidak diberikan, sehingga memicu kemarahan mereka dan akhirnya berujung pada pengeroyokan,” tambahnya.
Kasat Reskrim menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi karena korban mempertahankan keberatannya terhadap praktek pungutan wajib yang dianggap tidak adil. Ia menegaskan bahwa polisi telah melakukan investigasi menyeluruh dan berhasil menangkap satu pelaku berinisial O (40 tahun). Sementara dua pelaku lainnya masih dalam pencarian.
Berdasarkan laporan warga setempat, kebiasaan para preman meminta uang jatah dari tukang parkir sudah lumasan di wilayah Gunung Putri. Biasanya, mereka menghampiri korban saat sedang beroperasi, kemudian mengancam atau memaksa membayar sejumlah uang sebagai imbalan atas jasa mereka. Praktik ini sering kali membuat korban merasa tertekan dan terpaksa menyetor uang, meskipun tidak setuju.
“Saat ini penanganan terus kami lakukan, dan kami juga sedang mengidentifikasi dua terduga pelaku lainnya yang masih buron. Tindak lanjut akan dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” kata Anggi dalam rilis yang sama. Ia menambahkan bahwa kasus ini sedang ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan semua pelaku terlibat dan mengetahui motif dari kejadian tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya praktik kriminal yang meresahkan masyarakat sekitar. Menurut saksi mata, kafe yang menjadi lokasi insiden tersebut sering digunakan oleh preman sebagai tempat berkumpul dan melakukan pungutan. Selain itu, pihak korban mengklaim bahwa kejadian ini terjadi setelah beberapa kali mereka menolak memberikan uang jatah kepada pelaku. “Kami tidak menyetor uang itu karena merasa sudah dibayar oleh pelanggan. Jadi, tidak ada alasan untuk menambah beban ekstra,” ujar salah satu saksi yang enggan disebutkan nama.
Pengembaraan para pelaku juga menjadi pertimbangan dalam penanganan kasus ini. Polisi mencurigai bahwa mereka mengancam korban dengan cara-cara yang kasar, seperti menghina atau merendahkan status pekerjaannya. Anggi mengatakan bahwa para pelaku kemungkinan besar menganggap tukang parkir sebagai korban yang mudah dikotak karena posisinya yang terlihat lemah. “Mereka memanfaatkan kesempatan saat korban sedang sibuk melayani pelanggan. Karena menolak, mereka langsung memperlihatkan kekerasan,” jelasnya.
Setelah pengeroyokan, korban dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara itu, polisi juga mengumpulkan bukti-bukti seperti rekaman CCTV, saksi, dan keterangan korban. “Kami sedang memeriksa keadaan korban dan mengejar pelaku lainnya agar kasus ini dapat terungkap secara lengkap,” lanjut Anggi. Ia menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk menindak tegas praktek kekerasan oleh preman di wilayah Bogor.
Berbagai kelompok preman di Jawa Barat sering kali melakukan aktivitas serupa, yaitu memaksa pengusaha kecil atau pekerja sederhana untuk menyetor uang jatah sebagai bentuk perjanjian. Praktik ini terkadang memicu konflik antara korban dan pelaku, terutama ketika korban merasa tidak adil. Dalam kasus ini, para preman menganggap tukang parkir sebagai korban yang bisa diambil keuntungan. “Kami mencurigai bahwa mereka melakukan tindakan ini secara rutin, dan korban menjadi salah satu sasaran,” kata Anggi.
Polisi juga memperkuat penelusuran terhadap sumber dana para pelaku. Mereka mencoba mengetahui apakah kejadian tersebut terkait dengan kegiatan preman lainnya atau merupakan aksi independen. Selain itu, tim investigasi juga berupaya mengumpulkan bukti-bukti yang bisa digunakan untuk mengungkap motif di balik tindakan pengeroyokan tersebut. “Kami memastikan semua sisi kejadian ini terbongkar, baik dari segi peran pelaku maupun hubungan antar kelompok,” ujar Anggi.
Di sisi lain, masyarakat setempat mengkritik kebijakan para preman yang terus-menerus memeras warga. Mereka berharap pihak kepolisian dapat memberikan perlindungan lebih baik kepada para tukang parkir yang kerap menjadi korban. “Kalau tidak ada penegakan hukum, praktik seperti ini akan terus berlanjut,” ungkap warga sekitar. Beberapa dari mereka sudah melaporkan kejadian serupa sebelumnya, tetapi selalu dibiarkan karena pelaku sering kali menghilang setelah menyetor uang.
Dalam beberapa hari terakhir, polisi meningkatkan intensitas penyelidikan. Mereka juga berkoordinasi dengan pihak kafe untuk memastikan tidak ada pelaku yang terlewat. “Kami tidak hanya mengejar pelaku, tetapi juga ingin mengetahui apakah ada sistem atau jaringan yang mendukung praktik ini,” kata Anggi. Ia menegaskan bahwa kasus ini akan menjadi bahan evaluasi untuk memperketat pengawasan di wilayah Gunung Putri.
Sebagai tindak lanjut, polisi juga mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan melaporkan setiap kejadian serupa. Mereka berharap dengan adanya kasus ini, kebiasaan memeras warga bisa diakhiri. “Kami akan terus