eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Historic Moment: Negara-Negara Barat Kompak Kecam Israel Serang Lebanon: Hizbullah Akan Semakin Kuat

Published Juni 3, 2026 · Updated Juni 3, 2026 · By Sholeh Hidayat

Negara-Negara Barat Kompak Kecam Israel Serang Lebanon: Hizbullah Akan Semakin Kuat

Historic Moment - Di tengah perluasan operasi militer Israel ke wilayah Lebanon, sejumlah negara Barat secara serempak mengecam tindakan tersebut. Mereka khawatir bahwa serangan dan pendudukan baru yang dilakukan Israel justru akan memperkuat keberadaan Hizbullah, organisasi gerilya yang berperan signifikan dalam konflik antara Israel dan Lebanon. Kecaman ini terjadi dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Senin (1/6/2026), di mana mayoritas anggota dewan menyampaikan protes terhadap langkah Israel yang memperluas penyerangannya. Persetujuan untuk mengkritik secara kolektif menunjukkan keseragaman pandangan antara negara-negara anggota, meski ada perbedaan dalam intensitasnya.

Kecaman dari Prancis

Salah satu kritik yang paling tajam datang dari Prancis. Dubes Prancis untuk PBB, Jerome Bonnafont, menegaskan bahwa tindakan Israel tidak akan membawa keamanan jangka panjang bagi wilayah tersebut. Menurutnya, setiap serangan terhadap Lebanon justru memperkuat keterlibatan Hizbullah dalam konflik, yang berpotensi memicu eskalasi lebih besar. Bonnafont menyarankan adanya sesi darurat di Dewan Keamanan PBB untuk menghadapi operasi militer besar yang diumumkan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

“Ini memperburuk lingkungan yang sudah hancur bagi warga sipil Lebanon. Satu-satunya jalan menuju penyelesaian politik yang berkelanjutan adalah pelucutan senjata Hizbullah,” ujarnya.

Bonnafont menyebut bahwa operasi militer Israel sejauh ini terkesan sembrono, karena tidak memperhatikan dampak terhadap masyarakat Lebanon. Ia juga menyoroti bahwa upaya Israel untuk mengendalikan wilayah tersebut belum menunjukkan hasil yang signifikan, justru memperkuat posisi Hizbullah dalam memperoleh dukungan dari rakyat Lebanon. Dengan perluasan penyerangan, menurutnya, Israel berisiko memicu keterlibatan lebih dalam dari pihak-pihak lain, termasuk Iran, yang dianggap sebagai penyangga utama Hizbullah.

Kritik Inggris

Sementara itu, Inggris juga memberikan pernyataan tajam terhadap tindakan Israel. Kuasa Usaha Inggris untuk PBB, James Kariuki, menilai operasi militer tersebut sebagai eskalasi yang tidak proporsional. Menurutnya, perluasan serangan tidak hanya memperburuk kondisi di Lebanon, tetapi juga mengancam kestabilan regional. “Operasi ini menunjukkan kurangnya kehati-hatian dalam menghadapi ancaman dari Hizbullah,” kata Kariuki.

“Satu-satunya solusi yang mungkin mengurangi ketegangan adalah negosiasi yang memperhatikan kepentingan Lebanon dan pelibatan pihak-pihak terkait,” tambahnya.

Kariuki menekankan bahwa tindakan Israel memperkuat kekuatan Hizbullah, yang telah lama menjadi kekuatan penghalang bagi perluasan wilayah Israel. Ia juga menyebut bahwa penyerangan terus-menerus ke Lebanon berpotensi memicu perang gerilya yang lebih intens, sehingga menimbulkan risiko lebih besar bagi warga sipil. Kritik Inggris ini sejalan dengan kecaman Prancis, meski cara penyampaiannya berbeda.

Posisi Amerika Serikat

Berbeda dengan negara-negara lain, Amerika Serikat memilih tidak langsung mengkritik Israel. Dubes AS untuk PBB, Mike Waltz, justru menyalahkan Hizbullah dan Iran atas ketegangan yang terjadi. Menurut Waltz, perluasan operasi Israel adalah langkah yang tepat untuk memastikan keamanan nasional, terlepas dari dampak yang ditimbulkan di Lebanon. “Kebutuhan Israel untuk melindungi wilayahnya diakui oleh seluruh dunia,” kata dia.

“Perdamaian bisa tercapai jika Hizbullah menghentikan serangan dan pemerintah Lebanon mampu menegaskan kedaulatan penuh atas wilayahnya serta membangun kembali negara ini,” tambah Waltz.

Waltz juga menyoroti bahwa operasi militer Israel tidak seharusnya dihentikan, karena keberadaan Hizbullah dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan Israel. Ia menilai bahwa dukungan internasional untuk Israel perlu tetap dipertahankan, terutama setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan gencatan senjata yang sebelumnya diharapkan bisa mendinginkan situasi. Namun, keputusan Trump tidak mengubah sikap AS yang tetap mendukung operasi militer Israel.

Dampak Konflik terhadap Ketidakstabilan Regional

Kecaman dari negara-negara Barat tersebut semakin menegaskan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Para diplomat mengkhawatirkan bahwa serangan Israel ke Lebanon akan memicu respons yang lebih keras dari Hizbullah, yang telah lama menjadi kekuatan penentang utama Israel. Dengan pendudukan baru, Hizbullah bisa meningkatkan kemampuan operasionalnya, termasuk dalam menyediakan perlindungan bagi warga sipil Lebanon dan memperkuat posisi politiknya di dalam negeri.

Kebijakan luar negeri negara-negara Barat menunjukkan kecemasan terhadap eskalasi konflik. Meski ada keseragaman dalam mengecam Israel, masing-masing negara memiliki alasan yang berbeda. Prancis menyoroti kesan sembrono dalam operasi militer, sedangkan Inggris mempertanyakan proporsionalitas tindakan Israel. Di sisi lain, AS memfokuskan perhatiannya pada kepentingan nasional Israel. Kombinasi ini menciptakan dinamika yang kompleks dalam menghadapi konflik yang semakin memanas.

Para negara Barat juga memprediksi bahwa operasi militer Israel akan mengubah sejarah kawasan. Dengan memperluas penyerangannya ke Lebanon, Israel dianggap akan mendapatkan keuntungan politik yang signifikan, terutama dalam menegaskan kekuasaannya di kawasan tersebut. Namun, di balik manfaat tersebut, risiko konflik yang lebih besar dianggap lebih besar, terutama jika Hizbullah membalas serangan dengan cara yang lebih agresif.

Salah satu faktor yang memicu kecemasan ini adalah ketidakstabilan ekonomi dan sosial Lebanon. Dengan operasi militer Israel, wilayah Lebanon terus mengalami kerusakan infrastruktur, pengungsian massal, dan tekanan pada mata uang lokal. Ini berpotensi memperburuk kondisi hidup warga Lebanon, terutama di wilayah yang terkena langsung oleh serangan Israel. Kritik dari negara-negara Barat mencerminkan kekhawatiran mereka akan dampak jangka panjang dari perluasan operasi militer tersebut.

Permintaan untuk Resolusi PBB

Sepanjang sidang Dewan Keamanan PBB, para diplomat menekankan pentingnya resolusi internasional untuk mengendalikan eskalasi konflik. Mereka meminta PBB memperkuat peran dalam menegaskan prinsip-prinsip perdamaian dan mengurangi dampak serangan Israel terhadap warga sipil. Meski ada kecaman, beberapa negara juga menyuarakan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara keamanan Israel dan keberlanjutan perdamaian di Lebanon.

Kebutuhan untuk merespons operasi Israel secara cepat menjadi isu utama dalam sidang tersebut. Bonnafont menekankan bahwa sesi darurat diperlukan untuk memastikan tindakan internasional yang segera dilakukan. Dengan situasi yang semakin kritis, para negara Barat berharap PBB dapat menjadi medan bagi negosiasi yang