Berita Penting: 3 Skenario Akhir Perang di Arab, Iran Bisa Menang Lawan AS-Israel?

eb2ad05d 9c32 43de 9bc0 bb9de46e8fb2 0

3 Skenario Akhir Perang Iran VS AS-Israel, Apakah Iran Bisa Keluar sebagai Pemenang?

Jakarta, CNBC Indonesia – Situasi krisis Iran kini semakin mengguncang kestabilan pemerintah, investor, hingga masyarakat awam. Hal ini sangat bergantung pada kebijakan pemimpin yang terus mengubah arah, termasuk presiden AS Donald Trump dan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang belum teruji. Pada hari Senin, Trump memberikan isyarat beragam, menyebut konflik ini sebagai “ekspedisi singkat” yang bisa selesai “segera”. Namun, ia juga menegaskan bahwa perang harus berakhir setelah Iran kehilangan kemampuan mengembangkan senjata yang bisa mengancam AS, Israel, atau negara-negara sekutu lainnya.

Analisis Skenario Dalam Gedung Putih

Brett H. McGurk, seorang analis, menjelaskan bahwa di dalam Gedung Putih, para ahli biasanya memprediksi tiga kemungkinan akhir perang: skenario terbaik, kasus terburuk, serta skenario paling mungkin. Kini, bagaimana dengan konflik antara Iran dan AS-Israel? McGurk memaparkan tiga skenario yang menjadi fokus analisisnya.

1. Iran yang Terkendali

Skenario pertama dengan peluang 60% menggambarkan Iran yang kehilangan kekuatan militernya, tetapi struktur politiknya tetap utuh. Seperti kondisi Irak di akhir 1990-an, McGurk menyebut bahwa Trump memberikan waktu bagi militer untuk mencapai tujuan strategis, sementara AS dan mitranya berusaha meminimalkan dampak ekonomi.

“Skenario ini memprediksi bahwa akhir bulan ini, kemampuan Iran dalam proyeksi kekuatan dan industri pertahanan akan terdegradasi, tetapi sistem pemerintahan tidak berubah. Kampanye militer akan dihentikan setelah tujuan tercapai, tanpa janji perubahan rezim di Teheran,” ujar McGurk.

2. Pengumuman Kemenangan Prematur AS

Skenario kedua dengan peluang 30% adalah “Iran yang semakin berani”. Hal ini bisa terjadi jika tekanan ekonomi terhadap AS meningkat, memaksa Trump menyatakan kemenangan sebelum operasi militer selesai. Akibatnya, Iran akan tetap memiliki kapasitas militer dan nuklir yang cukup untuk bangkit kembali.

“Menghentikan kampanye dini berisiko membuat rezim Iran semakin percaya diri, meningkatkan ketidakstabilan regional, dan menempatkan dunia dalam ancaman lebih besar,” tambah McGurk.

3. Iran Baru dan Timur Tengah yang Berubah

Skenario ketiga dengan peluang 10% adalah lahirnya “Iran Baru” dan transformasi wilayah Timur Tengah. Dalam skenario ini, tekanan militer luar bisa melemahkan rezim hingga rakyat Iran bersuara dan menggulingkan sistem Republik Islam. Namun, sejarah menunjukkan bahwa perubahan rezim jarang terjadi tanpa dukungan oposisi internal yang terorganisir.

Kondisi Pemimpin Baru Iran

Dengan pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, muncul pertanyaan tentang pengaruhnya terhadap arah politik dan militer Iran. Khamenei diyakini hanya akan menjadi figur formal bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Jangka panjang, McGurk memperkirakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Republik Islam mungkin terjadi, yang bisa mempercepat perubahan, meski hasilnya tidak bisa dipastikan dalam waktu singkat.

Kemungkinan Keterlibatan AS Berlanjut

Dalam skenario apa pun, keterlibatan AS dengan Iran—baik dalam bentuk penahanan, pencegahan, maupun tindakan militer lebih lanjut—dinilai tidak akan berakhir saat krisis ini memuncak. McGurk mengingatkan bahwa kemungkinan resolusi yang segera tercapai justru bisa menimbulkan dampak yang lebih luas.