eksplorasiindonesia.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

What Happened During: Kronologi Lengkap Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran, Berujung Minta Maaf

Published Juni 19, 2026 · Updated Juni 19, 2026 · By James Jones

Kronologi Lengkap Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran, Berujung Minta Maaf

What Happened During - Kontroversi terkait penampilan Rahadian M Saputra dalam acara Kirab Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Solo, memantik perhatian publik setelah tampilannya viral di media sosial. Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai kesesuaian busana yang dipakai dalam upacara budaya Jawa. Berikut rangkuman lengkap insiden yang berujung pada permintaan maaf dari Rahadian.

Prosesi Kirab Malam 1 Suro dan Penampilan Rahadian

Kirab Malam 1 Suro adalah salah satu ritual sakral dalam budaya Jawa yang diadakan di Pura Mangkunegaran untuk memperingati awal tahun baru Jawa. Acara ini biasanya diikuti oleh peserta yang mengenakan pakaian tradisional khas, seperti beskap lengkap dengan kain jarik dan blangkon. Namun, Rahadian M Saputra memilih memakai kebaya hitam lengkap dengan sanggul, yang identik dengan busana wanita. Tindakan ini langsung mencuri perhatian karena berbeda dari norma yang berlaku.

Dokumentasi kegiatan yang beredar di berbagai platform media sosial memperlihatkan Rahadian mengenakan kebaya dan kain batik. Penampilannya menjadi sorotan karena dianggap mengubah aturan tradisional. Banyak orang mengkritik keputusan itu, sementara sebagian lain merasa penasaran dengan alasan di balik pilihan baju yang tak biasa itu.

Kritik dari Budayawan dan Masyarakat

Setelah video viral, para budayawan dan pemerhati budaya Jawa memberikan tanggapan terhadap tindakan Rahadian. Mereka menekankan bahwa acara adat seperti Kirab Malam 1 Suro memiliki protokol pakaian yang jelas, yang mengatur jenis baju yang wajib dipakai oleh peserta. Dalam konteks ini, kebaya dianggap sebagai pakaian perempuan, sehingga penggunaannya oleh pria dianggap melanggar tradisi.

Warganet pun ikut mengomentari, dengan sebagian mengatakan bahwa penampilan Rahadian tidak sesuai dengan norma adat. Beberapa orang menilai ini sebagai bentuk kesalahan yang mengurangi makna ritual budaya. Namun, ada pihak yang mempertanyakan apakah Rahadian benar-benar melanggar aturan atau hanya berbeda interpretasi.

Polemik dan Pernyataan tentang Izin

Proses diskusi semakin memanas saat muncul pernyataan bahwa Rahadian telah mendapatkan izin dari penyelenggara acara untuk mengenakan kebaya. Informasi ini ditemukan di kolom komentar media sosial, yang memicu perdebatan baru. Sebagian orang menganggap izin tersebut sebagai bukti bahwa tindakan Rahadian disetujui, sementara sebagian lain masih mempertahankan kritik terhadap kepatuhan terhadap aturan adat.

Ada juga yang berargumen bahwa kebaya tidak memiliki jenis kelamin secara mutlak, sehingga pria berhak memakainya dalam konteks tertentu. Pernyataan ini mendapat reaksi yang beragam: sebagian mendukung kebebasan berekspresi, sementara yang lain menilai bahwa penggunaan kebaya dalam acara adat tetap menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap tradisi.

Permintaan Maaf dan Penjelasan Rahadian

Setelah polemik berlangsung beberapa hari, Rahadian memutuskan untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengunggah video di Instagram pribadinya untuk menjelaskan alasan tindakannya. Dalam video tersebut, Rahadian menyatakan bahwa ia sadar telah melakukan kesalahan dengan memakai busana wanita dalam acara sakral Mangkunegaran.

"Saya mengakui sepenuhnya kesalahan saya dalam mengenakan busana wanita pada acara sakral Mangkunegaran beberapa waktu lalu. Keputusan tersebut saya ambil dengan kesadaran dan kehendak sendiri. Oleh karena itu, tanggung jawab atas tindakan tersebut sepenuhnya berada pada saya," ujarnya.

Rahadian menjelaskan bahwa ia merasa kurang memahami nilai-nilai budaya dan aturan adat yang dijunjung tinggi dalam prosesi tersebut. Ia mengakui bahwa penampilannya menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap tradisi Jawa.

"Saya menyadari tindakan saya tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman dan penghormatan terhadap nilai, adat, dan budaya. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Mangkunegaran, para budayawan, masyarakat Jawa, dan masyarakat Indonesia yang merasa kecewa dan tersinggung terhadap tindakan saya," tuturnya.

Janji untuk Masa Depan

Selain meminta maaf, Rahadian juga memberikan janji untuk tidak mengulangi kesalahan di masa mendatang. Ia menyatakan bahwa kritik dan saran yang diberikan akan dijadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik. "Kritik dan saran yang diberikan akan saya jadikan pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya juga berjanji untuk tidak melakukan dan mengulangi hal ini lagi," tambahnya.

Kontroversi ini menunjukkan bagaimana perbedaan penafsiran terhadap budaya bisa memicu debat yang luas. Meski kebaya dikenal sebagai busana feminin, beberapa orang berargumen bahwa itu bisa dipakai oleh siapa pun tanpa melanggar makna. Namun, dalam konteks acara adat yang memiliki aturan khusus, keputusan Rahadian dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan.

Sebagai respons, pihak Mangkunegaran dan para budayawan mungkin akan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai nilai-nilai yang menjadi dasar penggunaan busana tertentu. Proses ini juga menjadi momentum untuk mengenang pentingnya kepekaan terhadap budaya lokal, terutama dalam acara yang memiliki makna sakral.

Dengan permintaan maaf ini, Rahadian menunjukkan kesediaannya untuk belajar dan beradaptasi dengan nilai-nilai tradisi Jawa. Meski begitu, perdebatan tetap akan berlanjut, karena pengakuan kesalahan tidak serta merta mengakhiri pertanyaan tentang makna dan kebermaknaan acara adat yang diikuti oleh peserta.