Suka Makanan Berlemak dan Minum Alkohol? Awas Hati Rusak Menghantui!
Suka Makanan Berlemak dan Minum Alkohol? Awas Hati Rusak Menghantui!
Suka Makanan Berlemak dan Minum Alkohol - JAKARTA, Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak dan minuman beralkohol sering kali dianggap sebagai bagian dari gaya hidup santai. Namun, menurut Profesor Spesialis Penyakit Dalam David Handojo Muljono, kebiasaan ini justru bisa menjadi penyebab serius gangguan kesehatan hati. Prof David menjelaskan bahwa organ tubuh ini memiliki peran kritis dalam proses metabolisme, tetapi rentan terhadap kerusakan jika tidak dikelola dengan baik.
Risiko Penyakit Hati Akibat Makanan Berlemak dan Alkohol
Konsumsi makanan berlemak berlebihan, seperti daging olahan, makanan goreng, atau minuman manis, serta kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak, bisa berdampak negatif pada fungsi hati. "Kebiasaan ini bisa memicu peradangan kronis yang akhirnya mengarah pada penurunan kemampuan hati dalam memproduksi protein dan menyaring racun," kata Prof David dalam acara Talkshow Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Selasa (2/6/2026).
"Hati adalah pabrik kimia terbesar dalam tubuh manusia yang bekerja 24 jam tanpa henti," ujar Prof David. Ini berarti organ vital tersebut selalu bekerja keras untuk mengolah nutrisi, menghasilkan energi, dan menjaga keseimbangan zat dalam darah.
Menurut Prof David, jika makanan berlemak dan alkohol dikonsumsi secara terus-menerus, risiko kerusakan hati meningkat. Faktor ini bisa memperparah kondisi seperti penyakit hati berlemak atau sirosis, yang membutuhkan pengobatan intensif. "Kalau sudah sirosis berat sampai kanker hati, umumnya tidak bisa menjadi normal," tegas Prof David.
Peran Hati dalam Proses Metabolisme Tubuh
Hati memiliki fungsi yang tidak bisa digantikan dalam tubuh manusia. Selain menjadi tempat penyimpanan energi, organ ini juga bertugas menghasilkan bilirubin, membantu pembekuan darah, dan menyaring racun dari makanan. "Hati bekerja sebagai filter untuk memecah senyawa berbahaya yang masuk ke tubuh, termasuk alkohol dan lemak berlebih," jelas Prof David. Proses ini membutuhkan keseimbangan, sehingga kebiasaan yang tidak sehat bisa merusak kemampuan hati untuk menjalankan tugasnya secara optimal.
Proses Penyakit Hati dan Konsekuensinya
Kerusakan hati yang terjadi secara perlahan bisa memicu perubahan struktur organ tersebut. "Peradangan yang terus-menerus akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut atau fibrosis," kata Prof David. Tahap awal peradangan masih bisa dicegah jika pemicu utamanya, seperti konsumsi berlebihan, diperbaiki segera. Namun, jika penyakit berkembang hingga mencapai tahap sirosis atau kanker, perbaikan menjadi lebih sulit.
Dalam keadaan sirosis, hati kehilangan kemampuannya untuk berfungsi secara sempurna. Akibatnya, tubuh tidak mampu menyimpan vitamin, mengatur gula darah, atau menghasilkan protein penting. Prof David mengingatkan bahwa kanker hati bisa terjadi pada tahap akhir kerusakan, dan kondisi ini memerlukan intervensi medis segera untuk meningkatkan harapan hidup.
Pencegahan dengan Gaya Hidup Sehat
Prof David menekankan bahwa sebagian besar penyakit hati bisa dicegah melalui perubahan kebiasaan sehari-hari. "Semakin dini kelainan ditemukan, semakin besar peluang kesembuhannya," ujarnya. Salah satu langkah penting adalah mengurangi asupan lemak jenuh dan alkohol, serta meningkatkan konsumsi makanan sehat seperti sayur, buah, dan protein tanpa lemak.
Kegiatan fisik juga menjadi faktor penentu dalam menjaga kesehatan hati. Jika seseorang rutin berolahraga, sistem metabolisme akan lebih efisien, sehingga risiko penumpukan lemak dalam hati berkurang. Selain itu, tidur cukup dan menghindari stres berlebihan bisa membantu menstabilkan fungsi hati.
Peran Vaksinasi Hepatitis B dalam Pencegahan Penyakit Hati
Vaksinasi Hepatitis B merupakan langkah penting dalam mengurangi risiko penyakit hati yang disebabkan oleh virus. "Vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi dasar untuk menjaga kesehatan organ penting ini," kata Prof David. Hepatitis B adalah penyebab utama sirosis dan kanker hati, sehingga vaksinasi dianjurkan untuk semua usia, terutama anak-anak.
Kebiasaan hidup sehat tidak hanya melibatkan pola makan dan kebugaran, tetapi juga kebersihan lingkungan. Contohnya, menjaga higiene saat memasak dan menyimpan makanan dapat mencegah infeksi yang berpotensi merusak hati. Selain itu, pemeriksaan rutin melalui tes darah atau ultrasonografi bisa mendeteksi masalah pada tahap awal.
Kesimpulan dan Saran untuk Masyarakat
Menurut Prof David, penyakit hati bisa dihindari dengan kesadaran diri dan tindakan proaktif. "Masyarakat perlu memahami bahwa hati adalah organ yang paling rentan terhadap kebiasaan buruk, tapi juga paling mampu diperbaiki jika dikelola sejak dini," ujarnya. Saran utamanya adalah mengurangi konsumsi makanan berlemak dan alkohol, mengadopsi gaya hidup aktif, serta melakukan vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan secara teratur.
Dengan kesadaran ini, risiko penyakit hati bisa ditekan. "Selain itu, perubahan kecil seperti menghindari junk food dan membatasi penggunaan plastik bisa memperbaiki kesehatan secara umum," tambah Prof David. Ia menegaskan bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan, dan kesehatan hati membutuhkan perhatian konsisten dari individu dan masyarakat secara luas.